Mostrando entradas con la etiqueta video. Mostrar todas las entradas
Mostrando entradas con la etiqueta video. Mostrar todas las entradas
sábado, 14 de julio de 2012
Gambar Tante Bugil Bikinis
Wewe...!!! Ada lagi nii foto tante bugil abis, mau gan !!! Ya Sudahlah kita liat-liat aja di sini Okey, ga usah jauh-jauh gan cuma di Foto Cewek Indonesia. Gini ceritanya foto ini saya ambil dari salah satu sumber tetapi saya lupa tapi sumber tersebut Gambar tante bugil ini tanpa rekayasa asli (original) gan, coba siapa lagi yang gak mau ngiliat foto lendir ini, diliat-liat siih, foto bugil tante ini sangat mempesona ya gan !!! Menggoda abis gan .... Ya Sudahlah nikmatin saja ???
Gambar Model Indonesia super panas (HOT)
Waduuh !!! emang kaga tahan gan, ngeliat foto-foto kaya gini pasti udah pada sangean ya. Emang rada nyelonong ngeliat gambar model indonesia, mantapa juga ni title and image-nya gambar artis panas, kemaren-kemaren gw poting tentang Foto model super seksi, ternyata eehh ternyata traffic gw belum cukup juga.
Ya Sudahlah gw post yang kaya gini mengenai tentang gambar artis indonesia super panas, uppss super panas setrikaan kali, salah gan cuma gambar toge, dalam bahasa anak muda itu toge tu Toket Gede, hahahah !!! Ada-ada saja ya anak muda jaman sekarang, tapi yang belum pernah gw tau yaitu Pepek perawan itu apa ya ???...... Tapi para bugilmania pasti udah pada tau daahh. Ya Sudahlah, hehehe ya sudahlah mulu udah kaya lagunya band terkenal Bondan Prakoso & Fade2black, yang sekarang lagi tenar-tenarnya tahoen 2010.
Ducchh .... Jadi ngomongin band sih, orang lagi enak-enak ngeliat gambar cewek bugil, ujung-ujungannya ke band, udah itu lewat saja gan, kita lari ke TKP, gw liat-liat ini foto artis boleh juga ya, tapi ga kalah juga gan sama foto model super Asia, yang sekarang lagi di cari-cari di Search Engine Google (Pecarian Google), pasti ketemu daah kalo cari-cari foto artis super panas mah, tapi kalo lagi cari kerjaan atau tugas pasti keteteran minta cariin sama orang wkwkwkwkwk, udah gan ngeliat-ngeliatnya jangan lupa ya tinggalin pesan buat ni gambar artis super panas.
Foto Model Asia Ga Bugil Tapi Toketnya Gede
Waduuhh !!! Gambarnya mantap, kita bisa lihat betapa seksi-seksinya artis atau model chines, model asal Asia (Chines) ini sangat seksi dan tubuhnya yang sangat seksi, foto model artis Asia ga bugil daah tapi seksi abis toge beud, body-nya yang begitu indah bisa kita bayangkan betapa cantik dan seksinya model asia ini. Salah satu model dari Majalah Car And Model ini saya ambil dan saya Copas ternyata bisa menghibur anda sekalian walaupun gambarnya gak bikin kita sange-sange. Ya tapi lumayan buat cuci muka sobat. Gadis perawan chines ini toketnya montok bener sob, duch jadi nggak enak nie ama yang baca, bahasanya agak ngaur dikit, ya maklum lah sob, soalnya gambar model ini benar-benar menggoda saya, TOGE (Toket Gede), membuat saya melek langsung, , , hehhee...he
Ya Sudahlah sob kita hajar aja gambar ini, kita lihat dan kita cermati, upps !!! Emangnya mau belajar, tapi belajar buat baca-baca yang bugil dikit, beeuuhh mantapp sob, sobat bisa lihat sendiri deeh gambar bugil cewek ini langsung, lendir dari siutt mulut kita seakan mengalir bagaikan sungai dan mengalir begitu menggiurkan wkwkwkwk......
Ngintip Foto Bugil Model Indonesia Bikini
Ngintip foto bugil bikin ini merasakan aroma yang berbeda dari foto - foto bugil yang lainnya, soalnya foto bikini artis yang satu ini benar-benar Ayu (cantik), Montok , dan bohayy !!!. Ngintip Foto Model Telanjang Merasakan aroma seks yang begitu membuat kita takkan pernah terlupakan saat pertama menikmatinya, begitu nikmat bagaikan di surga dunia, memang kenikmatan saat kita berhubungan seks itu surganya dunia. Weew !!! bener-bener sobat foto model bikinis ini mengingatkan saya saat di pantai, melihat-lihat orang cuma memakai celana dalam dan pakaian dalam terutama wanita cantik dan seksi. Tak dikira tubuh seorang wanita itu sangat indah dan mulus, apalagi saat kita menyentuhnya terasa halusinasi kita selalu mengikuti wanita itu.
Nah kita kenalkan salah satu foto model Indonesia Adjeng Inez Nugroho gimana mantapkan mau liat Profil lengkap Cewek Model Putih Mulus ini :
Nah kita kenalkan salah satu foto model Indonesia Adjeng Inez Nugroho gimana mantapkan mau liat Profil lengkap Cewek Model Putih Mulus ini :
Bintang Video Bokep Jepang Nonami Takizawa 3gp
Weww !!! Kelihatannya ini foto cewek jepang bukan sembarang foto model biasa ya ??? Kenapa foto panas ini benar-benar foto hot yang molek dan bisa saja langsung merangsang semua tubuh kita sehingga membayangkannya saja tidak bisa terhindarkan ini cuma gambar cewek jepang apalagi video bokep jepang gimana ya. Di blog Gambar Cewek Indonesia bukan hanya koleksi dari Indonesia pasti ada campuran kenapa ?? Karena biar agan bisa puas koleksi gambar cewek asian - gambar cewek barat juga.
Udah banyak gambar cewek indonesia yang seksi dan molek tapi Nonami Takizawa (model jepang) tidak pernah kalah dan ketinggalan zaman. Nonami itu nama panggilan belakang untuk orang jepang termasuk kita juga kali ya ? Nggak tahu dahh ini cuma gambaran cewek jepang kalo video bokepnya waduuh gw belum ketemu coba aja cari digoogle.co.id keywordnya video bokep nonami takizawa cewek jepang bugil, kalo nggak video bokep cewek jepang, weww itu langsung ke search semua dahh. Hmmm !!! Dari tadi pikirannya video bokep jepang terus, biasanya kalo di Indonesia paling popular itu video cewek SMA, kalo nggak video bokep cewek Indonesia perawan.

Udah banyak gambar cewek indonesia yang seksi dan molek tapi Nonami Takizawa (model jepang) tidak pernah kalah dan ketinggalan zaman. Nonami itu nama panggilan belakang untuk orang jepang termasuk kita juga kali ya ? Nggak tahu dahh ini cuma gambaran cewek jepang kalo video bokepnya waduuh gw belum ketemu coba aja cari di

viernes, 13 de julio de 2012
Cerita Seks Terbaru 2012 (cerita dewasa)
Cerita seks ini adalah cerita yang terbaru 2012 ini, merupakan cerita sex yang paling hot dan bisa dinikmati oleh siapapun, bagi anda yang menyukai cerita seks panas sepertinya cerita ini sangat cocok untuk dijadikan bahan utama untuk mengak manisnya cerita seks yang membuat dada anda berdebar dan bergetar, cerita ini adalah cerita yang sungguh luar biasa, karena dalam cerita ini ada sebuah kisa unik dan menarik yang bisa anda jadikan bahan untuk anda bisa melayang dan terbang tinggi bersama imajinasi anda.
Selama menjadi mahasiswa di ibukota provinsi ini, aku selalu dan hampir setiap hari mengunjungi perpustakaan milik pemerintah provinsi, sehingga hampir semua pegawai yang bekerja pada instansi ini mengenalku dan akrab denganku, baik yang pria dan wanitanya.
Namun dalam pikiran nakalku yang mampu menilai sesorang, hanya terdapat dua orang ( yang jelas wanita ) yang mampu menarik perhatianku sehingga aku selalu memberikan atensi yang lebih terhadap dua orang ini.
Yang pertama adalah staf bagian informasi dan teknologi yang sebut saja namanya Mbak Diah, aku memanggilnya begitu, 32 th-an, perempuan cantik semampai proporsional berkulit putih berambut sepunggung yang selalu memakai supra-nya setiap ke kantor, belum menikah dan aku belum terlalu mendalami kehidupan pribadinya.
Kedua adalah staf administrasi yang berkantor di lantai tiga bangunan ini, Ibu Ayu, manis berambut sebahu, 37 th-an, corak standar manusia-manusia Indonesia, menikah dan punya 2 anak, yang paling kecil SMP kelas 2 dan satunya SMU kelas 3, escudo kuning yang selalu menemaninya tiap pagi saat berangkat ke kantor. Dari kedua wanita tersebut hanya dengan Ibu Ayu saja aku tampak lebih akrab sehingga aku pun mengetahui dengan benar seluk beluk kehidupan rumah tangganya beserta dengan segala masalah yang dihadapinya.
Suatu siang, saat aku baru datang, kulihat Ibu Ayu sedang melihat TV yang memang sengaja dipasang di lobby untuk para pengunjung instansi ini, kudekati dan duduk di sebelahnya.
“Siang, Bu!, lagi santai nih?” Tanyaku membuka percakapan
“Eh, Dik Adi!, iya, tadi habis kunjungan keluar bareng ibu kepala dan nganter si Santi (putri tertuanya) pulang. Udah selesai kuliahnya?” jawabnya
“Sudah.., tadi cuma ada satu mata kuliah”
“O gitu!, O ya, ntar malam di ***** Cafe ada konsernya ( Ibu Ayu menyebut satu nama Band yang baru ngetop di Indon), mau nonton nggak?”
“Sama Santi, ya!, ntar saya ikut!” Kataku merajuk soalnya anaknya itu menuruni kecantikan ibunya sewaktu muda
“Ya, nanti Santi tak suruh ikut!”
“Lha emang Bapak ( suaminya ) kemana, Bu?”
“Lagi mengikuti Pak Walikota ke Jakarta sampai tiga hari mendatang”
“Okelah kalau begitu, nanti sore saya kesini lagi, trus berangkat!”
“Sip kalau begitu ” Jawabnya senang
*****
Sore yang dijanjikan pun tiba, aku masuk kedalam kantornya dan menemukan dia sedang membereskan beberapa map pekerjaannya.
“Tunggu di bawah ya, Dik!, aku mau ganti baju, dan tadi Santi telepon katanya tidak bisa ikut karena besok ada ulangan dan agak tidak enak badan” Katanya menyambutku
Dan aku pun mengeluh, gagal deh kencan dengan Santi
Tak berapa lama kutunggu, Ibu Ayu sudah menemuiku dengan berganti pakaian dinasnya menjadi blus ketat dengan jins, wah.., oke juga nih ibu-ibu, nggak mau kalah dengan yang muda dalam soal dugem.
“Ayo!” Ajaknya
Aku pun mengikutinya menuju escudo kuningnya dan berlalu dari kantor instansi tersebut.
“Kemana kita?, bukannya konsernya ntar malam?” Tanyaku
“Bagaimana kalo kita cari makan dulu sambil ngobrol-ngobrol nunggu jam lapan buat nonton konser ? ” Usulnya
“Boleh juga!, dimana?”
“Ntar, liat aja, biar Ibu yang charge, OK!”
Aku pun mengangguk mengiyakan nya. Di sebuah resto china dijalan protokol kota ini, setelah menyantap hidangan laut, kami pun mengobrol mengahbiskan waktu dengan membahas berbagai persoalan baik itu maslah sosial maupun pribadi. Seperti halnya Ibu Ayu menceritakan padaku tentang bagaimana menjemukannya kehidupan rumah tangganya.
“Wah, kalau soal itu saya tidak bisa memberikan pendapat, Bu!, masalahnya saya belum pernah berumah tangga.” kataku merespon nya
“Ini cuma sekedar curhat koq, Dik!, biar besok menjadi semacam panduan bila nantinya dik Adi sudah menjalan kehidupan bersama” Jawab Ibu Ayu diplomatis
“Dan, jangan panggil Ibu, dong!, panggil saja Mbak, khan usia kita ngga terlalu jauh banget bedanya, paling cuma 13 tahun !” Tambahnya
Dan aku pun tertawa mendengar kelakar tersebut. Ketika waktu telah menunjukkan saatnya, kami keluar dari resto tersebut disambut dengan gerimis, berlari-lari menuju mobil untuk meluncur ke cafe yang dimaksud. Selama konser tampak Ibu Ayu sangat menikmati suasana tersebut sambil sesekali mengenggam tanganku, sehingga mau tidak mau pun aku menjadi ikut terbawa oleh suasana yang menyenangkan.
Konser pun berakhir, dan saatnya kami untuk pulang. Sambil-sesekali berceloteh dan bersenandung, kami menuruni tangga cafe, yang entah karena apa, Ibu Ayu terpeleset namun untunglah aku sempat memegangi nya namun salah tempat karena secara reflek aku menariknya kedalam pelukan ku dan tersentuh buah dadanya. Sejenak Ibu Ayu terdiam, memandangku, mempererat pelukannya dan seakan enggan melepaskannya.
“Bu, eh..Mbak, udah dong, malu ntar dilihat orang” Kataku
Dia pun melepaskan pelukannya, dan kami menuju ke mobil dengan keadaan Ibu Ayu sedikit pincang kaki nya.
Tengah malam kurang sedikit, kami sampai di rumah Ibu Ayu, karena aku sudah terbiasa pulang pagi, jadi kudahulukan untuk mengantar kerumahnya untuk memastikan keadaannya. Rumah dalam keadaan sepi, penghuninya sudah tidur semua kurasa, dan aku pun duduk di sofa sambil sejenak melepaskan lelah.
Sambil terpincang-pincang, Ibu Ayu membawakan segelas teh manis hangat untukku, dan duduk di sampingku. Aku jadi teringat kejadian di tangga cafe tadi.
“Masalah tadi, maafin saya Mbak, itu reflek yang nggak sengaja.” Kataku
“Nggak papa koq, Mbak ngga hati-hati si, pegel banget nih!” Katanya
“Sini saya pijitin” kataku sambil mengangkat kakinya dang menggulung celana jins nya sampai selutut
Dia pun merebahkan badannya agar aku bisa leluasa memijitnya. Tak berapa lama kemudian dia bangkit sambil ikut memijiti kakinya sendiri. Saat tangan kami bersentuhan ada getar-getar halus yang kurasakan menggodaku namun berhasil kutepiskan. Namun tak disangka, Ibu Ayu memegang lengan ku dan menarikku ke dalam pelukannya.
“temani aku malam ini, Dik!” Bisiknya lirih di telingaku
Kurasa habislah pertahanan ku kali ini. Di lumatnya bibirku dengan ganasnya, apa boleh buat, aku pun memberikan respon serupa. Kami saling berpagut dengan sesekali mempermainkan lidah. Tangannya menggerayangi tubuhku, mengusap-usap celanaku yang menggembung, sedangkan aku meremas-remas buah dadanya yang masih cukup ranum untuk wanita seusianya.
Lama kami bercumbu di atas sofa, lalu Ibu Ayu menggamitku untuk memasuki kamarnya, dan kami meneruskan cumbuan sepuas-puasnya. Foreplay dilanjutkan setelah kami saling membuka baju, hanya tinggal mengenakan celana dalam saja kami bergelut di atas kasur yang empuk dalam kamar berpendingin udara. Kujilati puting susunya sampai Mbak Ayu mendesah-desah, sementara tangannya menggengam kemaluanku yang dengan lembut dikocoknya perlahan.
“Mbak.., aku buka ya, celananya!” Bisikku yang disambut dengan anggukannya
Setelah secarik kain tipis itu terlepas dari pinggulnya, Ibu Ayu mengangkang kan pahanya, dan tampak vaginanya yang kehitaman tertutup lebat rambut. Saat kusibak kerimbunan itu, gundukan daging itu berwarna kemerahan berdenyut panas.
Ibu Ayu memekik dan mendesah perlahan saat vaginanya kujilati. Ditekan nya kepalaku sepertinya dia sangat menikmati permainan ini, sampai suatu saat kurasa vaginanya mulai basah dengan keluarnya lendir yang berlebihan.
Dengan nafas terengah-engah Ibu Ayu menarik kemaluanku untuk dimasukkan kedalam vaginanya. Kupegan tangannya dan kupermainkan kemaluanku di pintu masuk liang kenikmatan nya itu beberapa lama, kupukul-pukul kan kepala kemaluanku dibibir vaginanya, kumasukkan kemaluanku sedikit dalam vaginanya lalu kutarik keluar kembali, begitu berulang-ulang.
“Ayo dong, Dik!, jangan buat aku semakin ……” bisiknya
“Tapi aku belum pernah berhubungan badan, Mbak!” Balasku berbisik
“Ayolah, Dik!, aku beri kamu pengalaman menikmati surga ini, ayo..!”
Akupun mengangguk
Ibu Ayu berbaring telentang di pinggiran ranjang dengan kaki mengangkang, sementara aku berlutut hendak memasukkan kemaluanku. Di pegangnya kemaluanku dan di arahkan ke dalam vaginanya, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku dibibir vaginanya sementara dia mendesah-desah, lalu dengan dorongan perlahan kubenamkan seluruh kemaluanku kedalam liang vaginanya.
Sebuah sensasi kenikmatan dan kehangatan yang luar biasa menyelubungi ku, sejenak keresapi kenikmatan ini sebelum Ibu Ayu mulai mengalungkan pahanya pada pinggulku dan memintaku untuk mulai menyetubuhi nya.
Kudorong tubuh Ibu Ayu ketengah ranjang, setelah tercapai posisi yang enak, kugerakkan pinggulku maju mundur mengeksplorasi seluruh kenikmatan yang dimiliki oleh Ibu Ayu. Ruangan kamar yang dingin seolah tidak terasa lagi, yang ada hanya lengguhan-lengguhan kecil kami di timpahi suara kecepok beradunya kemaluan kami, sementara disekeliling kepala kami terbungkus dengan hawa dan bau khas orang bersetubuh.
“hh..terus, Dik!, goyangnya yang cepat..Ohh..ohh, Ouuch!” Desahnya
“Yang erat, Mbak!, ayo sayang,..sshh,..hhh..” Desahku
“Ouuw…hh..,…lebih ce…aaahhhh!”
“Tenang aja, manisku…ohh.., enak Mbak!”
“Sss….sama…aku juga…ohh..ohh!”
Entah sudah berapa lama kami saling bergelut mencari kenikmatan, lambat laun kemaluanku terasa seperti diremas-remas, lalu Ibu Ayu mendesah panjang sebelum pelukannya terasa melemah.
“aku.., sam…,Dik!, …Aaaaakkhhh !” Desahnya
Kurasakan momen ini yang ternikmat dari bagian-bagian sebelumnya, maka sebelum remasn-remasan itu mengendur, kupercepat gerakanku dan kurasakan panas tubuhku meningkat sebelum ada sesuatu yang berdesir dari seluruh bagian tubuhku untuk segera berebut keluar lewat kemaluanku yang membuatku bergetar hebat dengan memeluk tubuh Ibu Ayu lebih erat lagi
“Ohhh..ohh….!” Desahku tak lama kemudian
Aku bergulir di samping Ibu Ayu mencoba mengatur nafas, sementara dia terpejam dengan ritme nafas yang tak beraturan juga. Kemaluan ku masih tegak berdiri berkilat-kilat diselimuti cairan-cairan licin sebelum lemas
Setelah beberapa saat, nafasku pulih kembali, kubelai rambut Ibu Ayu. Dia tersenyum padaku.
“Makasih, Mbak! Enak sekali tadi” Kataku tersenyum
“Sama-sama,Dik! Hebat sekali kamu tadi, padahal baru pertama, ya! ” jawabnya
Ibu Ayu mencoba duduk, kulihat cairan spermaku meleleh keluar dari lipatan vaginanya yang lalu di usapnya dengan selimut.
“Aku keluarkan di dalam tadi, Mbak! habis enak dan ngga bisa nahan lagi, ngga jadi anak khan nanti?” Tanyaku
“Enggak, santai saja, sayang!” Katanya manja sambil mencium pipiku
“Emm..,Mbak!” Tanyaku
“Apa sayang?” Jawabnya
“Kapan-kapan boleh minta lagi, nggak?”
“Anytime, anywhere, honey!” Katanya sambil memelukku dan melumat bibirku.
*****
Setelah kejadian itu, tiga hari berikutnya aku menikmati servis istimewa dari Ibu Ayu untuk lebih mengeksplorasi ramuan kenikmatan dengan berbagai gaya yang diajarkan olehnya, bahkan masih berlangsung hingga saat ini.
Pada mulanya anaknya yang kuincar menjadi cewekku, ternyata malah mendapat layanan plus yang memuaskan dari ibunya.
Selama menjadi mahasiswa di ibukota provinsi ini, aku selalu dan hampir setiap hari mengunjungi perpustakaan milik pemerintah provinsi, sehingga hampir semua pegawai yang bekerja pada instansi ini mengenalku dan akrab denganku, baik yang pria dan wanitanya.
Namun dalam pikiran nakalku yang mampu menilai sesorang, hanya terdapat dua orang ( yang jelas wanita ) yang mampu menarik perhatianku sehingga aku selalu memberikan atensi yang lebih terhadap dua orang ini.
Yang pertama adalah staf bagian informasi dan teknologi yang sebut saja namanya Mbak Diah, aku memanggilnya begitu, 32 th-an, perempuan cantik semampai proporsional berkulit putih berambut sepunggung yang selalu memakai supra-nya setiap ke kantor, belum menikah dan aku belum terlalu mendalami kehidupan pribadinya.
Kedua adalah staf administrasi yang berkantor di lantai tiga bangunan ini, Ibu Ayu, manis berambut sebahu, 37 th-an, corak standar manusia-manusia Indonesia, menikah dan punya 2 anak, yang paling kecil SMP kelas 2 dan satunya SMU kelas 3, escudo kuning yang selalu menemaninya tiap pagi saat berangkat ke kantor. Dari kedua wanita tersebut hanya dengan Ibu Ayu saja aku tampak lebih akrab sehingga aku pun mengetahui dengan benar seluk beluk kehidupan rumah tangganya beserta dengan segala masalah yang dihadapinya.
Suatu siang, saat aku baru datang, kulihat Ibu Ayu sedang melihat TV yang memang sengaja dipasang di lobby untuk para pengunjung instansi ini, kudekati dan duduk di sebelahnya.
“Siang, Bu!, lagi santai nih?” Tanyaku membuka percakapan
“Eh, Dik Adi!, iya, tadi habis kunjungan keluar bareng ibu kepala dan nganter si Santi (putri tertuanya) pulang. Udah selesai kuliahnya?” jawabnya
“Sudah.., tadi cuma ada satu mata kuliah”
“O gitu!, O ya, ntar malam di ***** Cafe ada konsernya ( Ibu Ayu menyebut satu nama Band yang baru ngetop di Indon), mau nonton nggak?”
“Sama Santi, ya!, ntar saya ikut!” Kataku merajuk soalnya anaknya itu menuruni kecantikan ibunya sewaktu muda
“Ya, nanti Santi tak suruh ikut!”
“Lha emang Bapak ( suaminya ) kemana, Bu?”
“Lagi mengikuti Pak Walikota ke Jakarta sampai tiga hari mendatang”
“Okelah kalau begitu, nanti sore saya kesini lagi, trus berangkat!”
“Sip kalau begitu ” Jawabnya senang
*****
Sore yang dijanjikan pun tiba, aku masuk kedalam kantornya dan menemukan dia sedang membereskan beberapa map pekerjaannya.
“Tunggu di bawah ya, Dik!, aku mau ganti baju, dan tadi Santi telepon katanya tidak bisa ikut karena besok ada ulangan dan agak tidak enak badan” Katanya menyambutku
Dan aku pun mengeluh, gagal deh kencan dengan Santi
Tak berapa lama kutunggu, Ibu Ayu sudah menemuiku dengan berganti pakaian dinasnya menjadi blus ketat dengan jins, wah.., oke juga nih ibu-ibu, nggak mau kalah dengan yang muda dalam soal dugem.
“Ayo!” Ajaknya
Aku pun mengikutinya menuju escudo kuningnya dan berlalu dari kantor instansi tersebut.
“Kemana kita?, bukannya konsernya ntar malam?” Tanyaku
“Bagaimana kalo kita cari makan dulu sambil ngobrol-ngobrol nunggu jam lapan buat nonton konser ? ” Usulnya
“Boleh juga!, dimana?”
“Ntar, liat aja, biar Ibu yang charge, OK!”
Aku pun mengangguk mengiyakan nya. Di sebuah resto china dijalan protokol kota ini, setelah menyantap hidangan laut, kami pun mengobrol mengahbiskan waktu dengan membahas berbagai persoalan baik itu maslah sosial maupun pribadi. Seperti halnya Ibu Ayu menceritakan padaku tentang bagaimana menjemukannya kehidupan rumah tangganya.
“Wah, kalau soal itu saya tidak bisa memberikan pendapat, Bu!, masalahnya saya belum pernah berumah tangga.” kataku merespon nya
“Ini cuma sekedar curhat koq, Dik!, biar besok menjadi semacam panduan bila nantinya dik Adi sudah menjalan kehidupan bersama” Jawab Ibu Ayu diplomatis
“Dan, jangan panggil Ibu, dong!, panggil saja Mbak, khan usia kita ngga terlalu jauh banget bedanya, paling cuma 13 tahun !” Tambahnya
Dan aku pun tertawa mendengar kelakar tersebut. Ketika waktu telah menunjukkan saatnya, kami keluar dari resto tersebut disambut dengan gerimis, berlari-lari menuju mobil untuk meluncur ke cafe yang dimaksud. Selama konser tampak Ibu Ayu sangat menikmati suasana tersebut sambil sesekali mengenggam tanganku, sehingga mau tidak mau pun aku menjadi ikut terbawa oleh suasana yang menyenangkan.
Konser pun berakhir, dan saatnya kami untuk pulang. Sambil-sesekali berceloteh dan bersenandung, kami menuruni tangga cafe, yang entah karena apa, Ibu Ayu terpeleset namun untunglah aku sempat memegangi nya namun salah tempat karena secara reflek aku menariknya kedalam pelukan ku dan tersentuh buah dadanya. Sejenak Ibu Ayu terdiam, memandangku, mempererat pelukannya dan seakan enggan melepaskannya.
“Bu, eh..Mbak, udah dong, malu ntar dilihat orang” Kataku
Dia pun melepaskan pelukannya, dan kami menuju ke mobil dengan keadaan Ibu Ayu sedikit pincang kaki nya.
Tengah malam kurang sedikit, kami sampai di rumah Ibu Ayu, karena aku sudah terbiasa pulang pagi, jadi kudahulukan untuk mengantar kerumahnya untuk memastikan keadaannya. Rumah dalam keadaan sepi, penghuninya sudah tidur semua kurasa, dan aku pun duduk di sofa sambil sejenak melepaskan lelah.
Sambil terpincang-pincang, Ibu Ayu membawakan segelas teh manis hangat untukku, dan duduk di sampingku. Aku jadi teringat kejadian di tangga cafe tadi.
“Masalah tadi, maafin saya Mbak, itu reflek yang nggak sengaja.” Kataku
“Nggak papa koq, Mbak ngga hati-hati si, pegel banget nih!” Katanya
“Sini saya pijitin” kataku sambil mengangkat kakinya dang menggulung celana jins nya sampai selutut
Dia pun merebahkan badannya agar aku bisa leluasa memijitnya. Tak berapa lama kemudian dia bangkit sambil ikut memijiti kakinya sendiri. Saat tangan kami bersentuhan ada getar-getar halus yang kurasakan menggodaku namun berhasil kutepiskan. Namun tak disangka, Ibu Ayu memegang lengan ku dan menarikku ke dalam pelukannya.
“temani aku malam ini, Dik!” Bisiknya lirih di telingaku
Kurasa habislah pertahanan ku kali ini. Di lumatnya bibirku dengan ganasnya, apa boleh buat, aku pun memberikan respon serupa. Kami saling berpagut dengan sesekali mempermainkan lidah. Tangannya menggerayangi tubuhku, mengusap-usap celanaku yang menggembung, sedangkan aku meremas-remas buah dadanya yang masih cukup ranum untuk wanita seusianya.
Lama kami bercumbu di atas sofa, lalu Ibu Ayu menggamitku untuk memasuki kamarnya, dan kami meneruskan cumbuan sepuas-puasnya. Foreplay dilanjutkan setelah kami saling membuka baju, hanya tinggal mengenakan celana dalam saja kami bergelut di atas kasur yang empuk dalam kamar berpendingin udara. Kujilati puting susunya sampai Mbak Ayu mendesah-desah, sementara tangannya menggengam kemaluanku yang dengan lembut dikocoknya perlahan.
“Mbak.., aku buka ya, celananya!” Bisikku yang disambut dengan anggukannya
Setelah secarik kain tipis itu terlepas dari pinggulnya, Ibu Ayu mengangkang kan pahanya, dan tampak vaginanya yang kehitaman tertutup lebat rambut. Saat kusibak kerimbunan itu, gundukan daging itu berwarna kemerahan berdenyut panas.
Ibu Ayu memekik dan mendesah perlahan saat vaginanya kujilati. Ditekan nya kepalaku sepertinya dia sangat menikmati permainan ini, sampai suatu saat kurasa vaginanya mulai basah dengan keluarnya lendir yang berlebihan.
Dengan nafas terengah-engah Ibu Ayu menarik kemaluanku untuk dimasukkan kedalam vaginanya. Kupegan tangannya dan kupermainkan kemaluanku di pintu masuk liang kenikmatan nya itu beberapa lama, kupukul-pukul kan kepala kemaluanku dibibir vaginanya, kumasukkan kemaluanku sedikit dalam vaginanya lalu kutarik keluar kembali, begitu berulang-ulang.
“Ayo dong, Dik!, jangan buat aku semakin ……” bisiknya
“Tapi aku belum pernah berhubungan badan, Mbak!” Balasku berbisik
“Ayolah, Dik!, aku beri kamu pengalaman menikmati surga ini, ayo..!”
Akupun mengangguk
Ibu Ayu berbaring telentang di pinggiran ranjang dengan kaki mengangkang, sementara aku berlutut hendak memasukkan kemaluanku. Di pegangnya kemaluanku dan di arahkan ke dalam vaginanya, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku dibibir vaginanya sementara dia mendesah-desah, lalu dengan dorongan perlahan kubenamkan seluruh kemaluanku kedalam liang vaginanya.
Sebuah sensasi kenikmatan dan kehangatan yang luar biasa menyelubungi ku, sejenak keresapi kenikmatan ini sebelum Ibu Ayu mulai mengalungkan pahanya pada pinggulku dan memintaku untuk mulai menyetubuhi nya.
Kudorong tubuh Ibu Ayu ketengah ranjang, setelah tercapai posisi yang enak, kugerakkan pinggulku maju mundur mengeksplorasi seluruh kenikmatan yang dimiliki oleh Ibu Ayu. Ruangan kamar yang dingin seolah tidak terasa lagi, yang ada hanya lengguhan-lengguhan kecil kami di timpahi suara kecepok beradunya kemaluan kami, sementara disekeliling kepala kami terbungkus dengan hawa dan bau khas orang bersetubuh.
“hh..terus, Dik!, goyangnya yang cepat..Ohh..ohh, Ouuch!” Desahnya
“Yang erat, Mbak!, ayo sayang,..sshh,..hhh..” Desahku
“Ouuw…hh..,…lebih ce…aaahhhh!”
“Tenang aja, manisku…ohh.., enak Mbak!”
“Sss….sama…aku juga…ohh..ohh!”
Entah sudah berapa lama kami saling bergelut mencari kenikmatan, lambat laun kemaluanku terasa seperti diremas-remas, lalu Ibu Ayu mendesah panjang sebelum pelukannya terasa melemah.
“aku.., sam…,Dik!, …Aaaaakkhhh !” Desahnya
Kurasakan momen ini yang ternikmat dari bagian-bagian sebelumnya, maka sebelum remasn-remasan itu mengendur, kupercepat gerakanku dan kurasakan panas tubuhku meningkat sebelum ada sesuatu yang berdesir dari seluruh bagian tubuhku untuk segera berebut keluar lewat kemaluanku yang membuatku bergetar hebat dengan memeluk tubuh Ibu Ayu lebih erat lagi
“Ohhh..ohh….!” Desahku tak lama kemudian
Aku bergulir di samping Ibu Ayu mencoba mengatur nafas, sementara dia terpejam dengan ritme nafas yang tak beraturan juga. Kemaluan ku masih tegak berdiri berkilat-kilat diselimuti cairan-cairan licin sebelum lemas
Setelah beberapa saat, nafasku pulih kembali, kubelai rambut Ibu Ayu. Dia tersenyum padaku.
“Makasih, Mbak! Enak sekali tadi” Kataku tersenyum
“Sama-sama,Dik! Hebat sekali kamu tadi, padahal baru pertama, ya! ” jawabnya
Ibu Ayu mencoba duduk, kulihat cairan spermaku meleleh keluar dari lipatan vaginanya yang lalu di usapnya dengan selimut.
“Aku keluarkan di dalam tadi, Mbak! habis enak dan ngga bisa nahan lagi, ngga jadi anak khan nanti?” Tanyaku
“Enggak, santai saja, sayang!” Katanya manja sambil mencium pipiku
“Emm..,Mbak!” Tanyaku
“Apa sayang?” Jawabnya
“Kapan-kapan boleh minta lagi, nggak?”
“Anytime, anywhere, honey!” Katanya sambil memelukku dan melumat bibirku.
*****
Setelah kejadian itu, tiga hari berikutnya aku menikmati servis istimewa dari Ibu Ayu untuk lebih mengeksplorasi ramuan kenikmatan dengan berbagai gaya yang diajarkan olehnya, bahkan masih berlangsung hingga saat ini.
Pada mulanya anaknya yang kuincar menjadi cewekku, ternyata malah mendapat layanan plus yang memuaskan dari ibunya.
Cerita Seks Nikmat Dengan Guru Les Sekolah (cerita dewasa)
Cerita seks nikmat dengan guru les. Cerita ini bisa dikatakan adalah cerita pertama kali aku melakukan hubungan seks, karena jika sebelumnya aku hanya bisa melakukan fantasi seks bukan seks yang sebenarnya melalui kaset2 video porno yang sering aku pinjam dari temanku, cerita dewasa seks ini merupakan hadiah karena kebodohanku, kok bisa kebodohan? iya karena aku bodoh dalam sebuah pelajaran maka aku mendapatkan hadiah ini, aku sangat kurang faham dalam pelajaran berkembang biak, ok langsung saja aku akan ceritakan pengalaman berharga dalam hidupku
Pada pagi itu cuaca cerah membuka langkahku menuju sekolah smp ku yg terletak di daerah ramai ibukota. Namaku iwan,remaja smp berumur 14 tahun. Sekilas tentang diriku,aku anak semata wayang,ekonomi keluargaku biasa saja,ayahku orang bisnis sementara ibuku seorang pegawai di salah satu perusahaan di ibu kota. Oleh sebab orangtuaku sibuk,aku tumbuh menjadi anak yg merindukan kasih sayang orangtua.
Untunglah masih ada pembantu yg menemaniku di rumah dan guruku yg menyayangiku di sekolah ku,bu ersha namanya. Kusingkat ceritaku,tepat pukul 11. 00 wib pelajaran berganti ke pelajaran biologi. Inilah yg kutunggu pada hari sabtu ini,pelajaran guru idamanku bu ersa. Tak lama berselang bel berbunyi,bu ersa datang ke hadapan siswa 9b *****wajahnya tersenyum,cantik sekali dan diimbangi oleh gunung kembar tak berhutan yg mengembung tepat kedepan. Mungkin payudaranyalah yg paling menonjol di tubuh seorang guru biologi nan seksi. ”oke anak anak sekarang ibu akan mengadakan ulangan bab berkembang biak mahluk hidup”,anak anak serontak terdiam lemas. Boleh dibilang aku memang tidak pintar dalam mata pelajaran ini,tapi aku selalu lolos ujian berkat teman temanku yg membantuku. Kembali kusingkat,selesai lah ulangan ini sementara ibu sedang memeriksa hasil ulangan kami.
Aku sendiri menggerutu pada teman temanku karena mereka pelit tidak memberi aku jawaban ulangan *****”iwan,nanti pulang sekolah ibu akan beri kamu les tambahan supaya kamu mendapat hasil yg lebih baik”jawabnya sambil membagikan kertas ulanganku yg mendapat nilai 40. ”baik bu”jawabku sebelum bel pulang berbunyi.
Teman temanku menertawaiku karena hanya aku saja yg kena les tambahan lalu mereka pulang. ”iwan sebelum les dimulai,ibu ingin kamu bertanya tentang apa yg kamu tidak tau di bab ini” “ini bu,cara berkembang biak manusia” “memang nya mana yg susah”jawabnya sambil membungkuk melihat bukuku. Saat itulah aku melihat isi dari bajunya. Payudaranya mengayun ayun. Darahku berdesir melihat jelas 30cm dari hidungku.
Namun aku tidak melihat bra nya. ”hey iwan ngeliat apa kamu”jawabnya halus. Kami saling bertatap muka. ”eh yg ini bu”tangan ku tdk sengaja menunjuk kata yg digaris bawahi “oh,kamu ga tau artinya sperma ya”. Aku terkaget melihat kata yg tdk sengaja ku tunjuk. ”iwan iwan,masa kamu udah besar ga tau sperma sih,ituloh cairan yg apabila nempel di rahim wanita bisa bikin dia punya anak”. Sebenernya sich aku tau artinya dari dulu karna aku tiap hari liat film bokep. ”bu,sperma itu dari mana sih”tanyaku. Ibu terdiam melihat keluar mungkin untuk memastikan tdk ada orang di sekitar kelas *****”ni ibu kasih conto tapi sekarang buka celana mu”.
Kubuka celanaku dan celana dalamku sehingga terpampang penisku 14cm yg ditumbuhi bulu halus menegang. Terlihat nafas ibu terengah engah dan mukanya memerah. Dia berjongkok di depan penisku. ”emh,ibu sekarang mau kasih conto ke iwan tentang sperma”. Tiba tiba dia mengulum penisku. ”ah,ibu mau apa”tanyaku. Dia tidak menjawab. Ibu ersa menggigit kecil penisku sambil memaju mundurkan mulutnya yg tebal. Aku mendesah kenikmatan. Tak lama kemudian aku orgasme. ”em enak banget kontol kamu wan,,,nih ini namanya sperma”sambil menjilat air maniku yg meleleh. ”nah,kalo sperma kamu masuk memek misalnya ibu,nih kaya gini”sambil membuka celananya yg tanpa cd dan duduk dikontolku. Lalu dia memaju mundurkan penisku yg masih lemah namun perlahan mengeras.
Dia menggoyangkan dgn kasar sehingga menimbulkan suara khas. ”uh,ibu pengen banget tiap hari kaya gini tapi ibu ga bisa” “ah ah ah,emh memangnya kenapa bu” “suami ibu sibuk”. Tak terasa tiba tiba aku orgasme “bu,aku pengen kencing” “didalem aja yah honey” crot crot crot dan lemahlah tubuhku. ”makasih yah wan,kamu bisa ga besok gini lagi,plisss bisa ya honey” “baik bu iwan juga seneng ada yg memperhatikan iwan daripada ortu iwan yg sibuk” “makasih yah”. Waktu itu ibu ersa hanya memakai baju atas saja,sehingga aku penasaran ingin membukanya dan benar saja dia tidak pake bra dan cd setiap ke sekolah lalu kujilati toketnya sambil kontol ku masih menancap di lubah surganya. Kulihat kebawah kursi yg basah oleh air surga ku dan bu ersa. Kami melakukan itu sampai sore dan pulang kerumahnya untuk melakukan lagi.
Tags: Cerita merasakan seks pertama kali, cerita seks dengan bu guru cantik
Pada pagi itu cuaca cerah membuka langkahku menuju sekolah smp ku yg terletak di daerah ramai ibukota. Namaku iwan,remaja smp berumur 14 tahun. Sekilas tentang diriku,aku anak semata wayang,ekonomi keluargaku biasa saja,ayahku orang bisnis sementara ibuku seorang pegawai di salah satu perusahaan di ibu kota. Oleh sebab orangtuaku sibuk,aku tumbuh menjadi anak yg merindukan kasih sayang orangtua.
Untunglah masih ada pembantu yg menemaniku di rumah dan guruku yg menyayangiku di sekolah ku,bu ersha namanya. Kusingkat ceritaku,tepat pukul 11. 00 wib pelajaran berganti ke pelajaran biologi. Inilah yg kutunggu pada hari sabtu ini,pelajaran guru idamanku bu ersa. Tak lama berselang bel berbunyi,bu ersa datang ke hadapan siswa 9b *****wajahnya tersenyum,cantik sekali dan diimbangi oleh gunung kembar tak berhutan yg mengembung tepat kedepan. Mungkin payudaranyalah yg paling menonjol di tubuh seorang guru biologi nan seksi. ”oke anak anak sekarang ibu akan mengadakan ulangan bab berkembang biak mahluk hidup”,anak anak serontak terdiam lemas. Boleh dibilang aku memang tidak pintar dalam mata pelajaran ini,tapi aku selalu lolos ujian berkat teman temanku yg membantuku. Kembali kusingkat,selesai lah ulangan ini sementara ibu sedang memeriksa hasil ulangan kami.
Aku sendiri menggerutu pada teman temanku karena mereka pelit tidak memberi aku jawaban ulangan *****”iwan,nanti pulang sekolah ibu akan beri kamu les tambahan supaya kamu mendapat hasil yg lebih baik”jawabnya sambil membagikan kertas ulanganku yg mendapat nilai 40. ”baik bu”jawabku sebelum bel pulang berbunyi.
Teman temanku menertawaiku karena hanya aku saja yg kena les tambahan lalu mereka pulang. ”iwan sebelum les dimulai,ibu ingin kamu bertanya tentang apa yg kamu tidak tau di bab ini” “ini bu,cara berkembang biak manusia” “memang nya mana yg susah”jawabnya sambil membungkuk melihat bukuku. Saat itulah aku melihat isi dari bajunya. Payudaranya mengayun ayun. Darahku berdesir melihat jelas 30cm dari hidungku.
Namun aku tidak melihat bra nya. ”hey iwan ngeliat apa kamu”jawabnya halus. Kami saling bertatap muka. ”eh yg ini bu”tangan ku tdk sengaja menunjuk kata yg digaris bawahi “oh,kamu ga tau artinya sperma ya”. Aku terkaget melihat kata yg tdk sengaja ku tunjuk. ”iwan iwan,masa kamu udah besar ga tau sperma sih,ituloh cairan yg apabila nempel di rahim wanita bisa bikin dia punya anak”. Sebenernya sich aku tau artinya dari dulu karna aku tiap hari liat film bokep. ”bu,sperma itu dari mana sih”tanyaku. Ibu terdiam melihat keluar mungkin untuk memastikan tdk ada orang di sekitar kelas *****”ni ibu kasih conto tapi sekarang buka celana mu”.
Kubuka celanaku dan celana dalamku sehingga terpampang penisku 14cm yg ditumbuhi bulu halus menegang. Terlihat nafas ibu terengah engah dan mukanya memerah. Dia berjongkok di depan penisku. ”emh,ibu sekarang mau kasih conto ke iwan tentang sperma”. Tiba tiba dia mengulum penisku. ”ah,ibu mau apa”tanyaku. Dia tidak menjawab. Ibu ersa menggigit kecil penisku sambil memaju mundurkan mulutnya yg tebal. Aku mendesah kenikmatan. Tak lama kemudian aku orgasme. ”em enak banget kontol kamu wan,,,nih ini namanya sperma”sambil menjilat air maniku yg meleleh. ”nah,kalo sperma kamu masuk memek misalnya ibu,nih kaya gini”sambil membuka celananya yg tanpa cd dan duduk dikontolku. Lalu dia memaju mundurkan penisku yg masih lemah namun perlahan mengeras.
Dia menggoyangkan dgn kasar sehingga menimbulkan suara khas. ”uh,ibu pengen banget tiap hari kaya gini tapi ibu ga bisa” “ah ah ah,emh memangnya kenapa bu” “suami ibu sibuk”. Tak terasa tiba tiba aku orgasme “bu,aku pengen kencing” “didalem aja yah honey” crot crot crot dan lemahlah tubuhku. ”makasih yah wan,kamu bisa ga besok gini lagi,plisss bisa ya honey” “baik bu iwan juga seneng ada yg memperhatikan iwan daripada ortu iwan yg sibuk” “makasih yah”. Waktu itu ibu ersa hanya memakai baju atas saja,sehingga aku penasaran ingin membukanya dan benar saja dia tidak pake bra dan cd setiap ke sekolah lalu kujilati toketnya sambil kontol ku masih menancap di lubah surganya. Kulihat kebawah kursi yg basah oleh air surga ku dan bu ersa. Kami melakukan itu sampai sore dan pulang kerumahnya untuk melakukan lagi.
Tags: Cerita merasakan seks pertama kali, cerita seks dengan bu guru cantik
Gara-gara dihukum (cerita dewasa)
Waktu masih sekolah, aku sekolah di satu sekolah yang berada di kompleks perumahan. Aku juga heran kok yayasan sekolahku bisa dapet ijin membangun sekolah dikompleks perumahan bgitu, padahal setau aku ketika akan dibangun warga setempat protes keras atas pembangunan itu. Mungkin pihak yayasan duitnya kuat dan mental pejabat pemberi jin membangun bgitu bobroknya sehingga semua bisa dibeli dengan uang, sekolah itu tetep dibangun dan sudah berjalan sekian taun. Seperti biasa warga slalu dikalahkan oleh negara, dalam arti bgitu ijin diberikan ya warga tidak punya kekuatan apa2 untuk protes. Memang si keberadaan sekolah itu sangat mengganggu aktivitas warga setempat, Pada saat jam masuk dan jam pulang, jalan sempit didepan sekolah slalu penuh dengan mobil antar jemput sehingga warga pada saat itu sulit keluar atau menuju kerumahnya sendiri.Tapi ya biarlah, itu bukan urusanku, yang penting aku diskolahkan disitu dan belajar disitu. sekolah ku itu berada diastu jalan buntu, sepanjang jalan itu ada 7 rumah yang berhadapan dengan sekolah ku. Ada rumah yang besar banget, kayanya tanahnya merupakan 2 kapling yang dijadikan satu dan rumah yang standard. Yang besar bertingkat sedang yang biasa ada yang bertingkat ada yang tidak. Warga sudah menyesuaikan diri dengan kesibukan sekolah sehingga pada saat aku datang dan pulang sekolah tidak terlihat warga setempat yang berkeliaran kecuali para prt dan satpam.
Persis didepan lapangan olahraga sekolah ada satu rumah bertingkat, aku perhatiin setiap ada jam olahraga dibalkon atas ada seorang bapak2 yang duduk dan mengamati kami yang sedang berolah raga. Aku dan kawan2ku suka ngerumpiin kalo si bapak lagi memperhatiin bodi mulus abg, yaitu kami2 yang sedang terbungkus pakean olahraga yang berupa celana pendek dan baju kaus. Ya biar aja, paling tu bapak nepsong ndiri karena memperhatiin kami olahraga. Orangnya si keren juga, tapi dati jauh liatnya lo. Aku heran kok si bapak pada jam kerja berada dirumah, apa gak kerja dianya, tajir amir gak perlu kerja kaya gitu. Aku suka iseng kasi dadah ma si bapak, dia membalas dadahanku sambil tersenyum. temen2ku bilang aku genit, biar aja, aku iseng ja mo gangguin si bapak.
Sampe satu hari sabtu, aku tetep sekolah di hari sabtu padahal beberapa sekolah dah mulai meliburkan muridnya dihari sabtu. Aku melakukan kesalahan yang dianggap cukup berat sehingga masalhku dibawa guruku ke kepsek. Oleh kepsek aku dihukum membersihkan kelasku ndiri setelah aktivitas belajar selesai. Jadilah aku di sabtu siang harus tetep berada di kelas sementara temen2ku langsung pulang dan mulai acara weekend mereka. Sial banget aku, ya udah kukerjakan hukumanku secepat mungkin, aku sapu kelas, lap semua bangku, bersihkan papan tulis dah terakhir aku pel ruang kelasku, baiknya penjaga sekolah menyediakan semua peralatan untuk membersihkan kelas. Sejam kali aku membersihkan kelas itu sampe selesai. Selesai hukuman aku melapor ke guruku dan dia meninspeksi kelas sambil memberi aku nasihat agar tidak mengulangi kesalahanku itu. aku hanya mengiyakan. Aku keluar sekolah dah sepi. Biasanya aku nebeng temenku pulang karena jalan yang dia lalui lewat rumah omku dimana aku tinggal.
Apa boleh buat, dengan langkah gontai aku jalan meninggalkan sekolah. Didepan rumah si bapak aku mendongak memandang kearah balkon dimana biasanya si bapak menikmati tubuh kami yang masi abege banget. Surprise, ternyata si bapak ada disitu sambil melambaikan tangannya, aku bales lambaiannya. “Tunggu”, teriaknya dari balkon rumahnya. aku nggangguk, dan dia menghilang dari balkon. Gak lama kemudian si bapak membuka pintu pagernya, memang tenyata keren orangnya, suka banget aku melihatnya. Dia hanya mengenakan celana pendek gombrang dan kaus tanpa lengan, terlihat lengannya yang keker berotot. Bodinya tegap atletis, umurnya sekitar 40an kukira. dia senyum memandangku. matanya berbinar2 memandangku yang masi memakai sragam sekolah ku. Aku kringeten karena abis membersihkan kelas.
“Tumben gini ari baru pulang, mampir yuk”. Aku ragu memenuhi ajakannya atau enggak. “Inez dihukum om”. “O namanya Inez toh, dipanggilnya Iin boleh gak”. “Ya bole aja om”. “Ya udah, mampir dulu lah, tu kringeten gitu, makan minum dulu ditempat om, lagian pulangnya jalan ya. Ntar om anterin deh”. “Om baek amir si”. “Kok amir, nama om bukan amir”. “Iya om amir ngegantiin amat yang lagi tugas jaga”, jawabku sambil tertawa. “Bisa aja kamu, ayulah mampir”.
Dia memegang tanganku dan menarik aku masuk kerumahnya. Maksa banget deh, tapi aku suka tu diperlakukan kaya gitu, aku mrasa dia perhatian banget. Maklum abege kan seneng banget kalo diperhatiin ma lelaki dewasa macem si om. “Gak enak ma tante om”. “Om tinggal ndirian kok dirumah ini”. “Kok?” “Ya gak pake kok, kok nya lagi dipake badminton”, gantian dia menggoda aku. Aku tertawa aja. Dia mengajak aku masuk rumahnya. rumahnya termasuk yang besar walaupun hanya 1 kapling. Ruang tamunya besar, menyatu dengan ruang makan dan ruang keluarga. Ada tv plasma 42inch disertai seperangkat audio system. Aku melongok ke ruang disebelah ruang makan, rupanya itu dapurnya, minimalis tapi lengkap dengan lemari es, microwave oven dan oven gas 2 pit dan peralatan elektronik laennya seperti rice cooker, dispenser aqua, blender dan macem2 yang laen.
“Duduk deh, aku siapin makanan buat kamu”, katanya menyruh aku duduk dimeja makan. “Inez kringeten gini om”. “Mo mandi dulu apa”. “Inez gak bawa ganti tu”. “Om pinjemin kaos om mau, tapi kegedean kali ya”. Daripada badan lengket gak karuan, aku iyain ja tawarannya mandi dulu, nekat aja. Dia mengambilkan kaosnya yang gede banget buat aku, dan anduk. Dia menunjukkan kamar mandi yang menyatu dengan wc yang ada disitu. Aku segera masuk, melepaskan semua yang menempel dibadanku, dan segera menyalakan shower. Seger banget kringeten gitu dibanjur air dingin. aku senaja kremas sekali karena lengket banget seluruh badanku dari ujung rambut sampe ujung kaki. Bayangin aja siang gitu disuru membersihkan kelas, mana panas lagi, acnya dah dimatiin karena jam pelajaran dah usai.
Karena mandinya lengkap jadi cukup lama aku berada di kamar mandi, selesai mandi aku melap seluruh badan dan rambutku dengan anduk yang diberikan. Wah dalemanku juga basah karena kringet, aku nekat aja gak pake daleman lagi. daripada lengekt lagi pake daleman yang basah karena kringet gitu. Paling si om nepsong liat aku gak pake daleman, aku tertawa ja dalem hati. Rambutku basah, hanya aku rapikan dengan tangan. Aku keluar dari kamar mandi dengan menenteng pakean kotorku. “Wah seger tu, kramas juga toh, pantes lama air, om kira skalian bobo dikamar mandi”. Dia tersenyum memandangku, matanya makin berbinar melihat penampilanku sehabis mandi. Baju kaosnya yang kegedean menjadi rok yang mini banget buat aku sehingga pahaku yang puti mulus bebas ditelusuri dengan matanya .
“Ni baju kotornya masukin di kantong plastik. “wah dalemannya gak dipake lagi toh”, katanya ketika dia liat aku memasukan juga dalemanku ke kantong plastik. “Mo pinjem dalemanku apa”, dia tertawa, “Gak pake daleman kan jadi lebi adem kan”. “Kok om tau di lebi adem, gak suka pake daleman juga toh kalo dirumah”. Dia ngangguk. “Makan tuh, dah om sediain”. Di meja makan dah tersedia nasi dengan 2 lauk dan air dingin. Seegra aku menikmati makanan yang disediain. “Om kok tinggal ndiri si, mangnya tantenya kemana”. “Gak da tantenya kok”. “Oh…”, aku gak nanya lebi lanjut, terlalu private kali ya kalo aku nanya lebi jauh. “Trus gak da pembantu juga”. “ada, seminggu dateng 2-3 kali untuk bebersih ruma dan nyetrika pakean. Om kan ndirian jadi ya dikit cuciannya”. “Nyuci ndiri ya om”. “Iya pake mesin cuci kan gampang”. “Trus makannya”. “beli aja, kalo pagi ya makan roti, sereal, mi instan ato apa aja yang ada”. “Memangnya om gak kerja ya, kok suka ngeliatin Inez olahraga”. “abis seksi banget si kamu”. “Trus om gak kerja ya”.
“Om kerja gak tiap ari, om partneran ma temen, dia yang jalanin bisnisnya, om hanya miting seminggu sekali atau kalo ada maslah dikantor, jadi sempet liatin Iin sexy lagi olah raga”. “Kok Inez om panggil Iin si, om Sunda ya”. “Pinter kamu, tepat skalee”. “Kan orang Sunda suka ngulang suku kata awal”. “Gak apa kan om panggil Iin”. “Ya gak apalah om, Inez gak masalah mo dipanggil pake nama apa juga”. Makanan dah habis aku lahap, sementara dia hanya nemenin aku dimeja makan. “Kok om gak ikut makan si”. “udah tadi”. “abis ni makanannya om”. “Ya beli makanan kan untuk dimakan, lagian itu sisa semalem”. “wah Inez dikasi sisa ya”. “Sori, abis kan mendadak taunya Iin blon makan, ntar sore deh ditraktir di resto, mau kan”. “becanda kok om”.
“Tapi mau kan ntar nemenin om makan malem. Om ngantuk ni, mo tidur siang”. Inez mo tidur juga, tu di kamar tamu, ato mo bareng om”, dia senyum2 nakal. aku cuma senyum ja dan masuk kekamar tamu. Aku heran kok nekat banget aku ya, kalo aku diperkosa kan repot, tapi biarlah, aku lagi sebel ma cowokklu yang ngeduain aku, padahal aku sering berbagi kenikmatan ama dia, kurang apa lagi kan. Lagian aku dah lama gak ngrasain knikmatan sejak bubaran ma cowokku, kalo diperkosa ya oke aja lah. Aku call kerumah kasih alesan aku tidur dirumah temen, jadi gak usah ditunggu. Gak boong kan, memang lagi dirumah temen, yang ktemu barusan tapinya hihi.
Gak lama aku tiduran, kamar diketok. aku keluar, si om berdiri didepan kamar. “In, nanti sore kalo pergi kamu pake pakean apa ya, masak mo pake kaos om gini”. “Ya gak da pakean lagi tu om, Inez dah call kerumah gak pulang, aneh kan kalo dadakan pulang”. “Mangnya Iin tinggal ma siapa”. “Ma om Inez, di… (aku nyebut jalan rumahku). “deket tu, cuma kalo pulang dulu masak mo pake baju kotor gitu. Gini deh, om beliin ja pakean buat kamu dulu ya, deket sini ada mall, pakean kamu ukuran brapa, trus daleman kamu ukurannya brapa. Kalo bra 34 ya”. “Tau aja om”. “Ya taulah, kamu montok gitu”. Lihai juga si om, blon megang dah tau ukuran braku.
“Iin mo ikut belinya, cuma ya pake baju kaos om gitu gak enaklah ya”. “Terserah om ja deh”. “Ya udah kamu bobo ja lagi, om ke mal dulu ya”. Dia pergi meninggalkan aku ndirian dirumah. Karna gak ngantuk ya aku nonton tv ja. Iseng aku liat deretan dvd yang ada disitu, wah ada dvd boke thailand neh, aku puter ja. waduh, horny banget liatnya, cewek abg thai lagi dientot ma cowok bule, mana kont0l tu bule gede banget lagi, panjang dan keras, kluar masuk di memek tu abege yang peret jadinya kemasukan kontol gede gitu. waktu di close up kliatan banet bibir mem3k tu abege ampe ikutan kedorong kluar masuk ngikutin kluarmasuknya kont0l si bule, ah uh mah jangan ditanya deh, itu kan serenade wajib bokep. aku horny banget ngeliatnya, aku milin2 pntilku ndiri dan ngegosok itilku. memekku dah basah banget jadinya. aku mulai ah uh karena ulahku ndiri, sampe aku gak sadar kalo si om dah balik lagi.
“Kok cepet om”, sapaku malu sambil menurunkan kaosku yang kusingkap ketika ngilik itilku. “Lagi horny ya In, mangnya cowok kamu gak suka ngasi kamu nikmat”. “Dah bubaran om”. “wah jablay dong ya kamu. Ni bajunya”. Dia memberikan kantong plastik yang ada merk department storenya. Aku segera mengeluarkan isinya sambil melirik si om, kayanya gak ngaruh tu dia ngeliat aku ngilik ndirian, jangan2 vip lagi, pantes tinggal ndirian, tantenya mabur kali karena gak pernah di colek2. Dia beliin aku celana 3/4 dan kemeja, gak da daleman. “Kok daleman gak dibeliin skalian om”. “Kan biar adem gak pake daleman”, jawabnya sambil tertawa.
“Dicobain dulu, kalo kekecilan bisa dituker lagi kok”. Aku masuk ke kamar dan mencoba pakean yang dibelikan si om, rada kegedean dikit tapi gak apa lah. aku keluar menujukkan pakean yang udah aku kenakan. “Kamu cantik banget deh In”. “Om gombal ni”. “bener, cantik, sexy lagi. Untung banget om ktemu kamu siang ini, pas kan”. “Kegedean dikit, tapi gaka apa deh om, risi juga gak pake daleman”. “Ya udah, ntar skalian makan kamu beli daleman sexy ja ya”. Aku duduk disebelahnya disofa, harap2 cemas, dia mo ngapain aku ya.
“sekarang mo nerusin nontonnya, ntar om bantu kilikin deh”. Aku senyum mendengarnya, kayanya si dia gak vip. “Ih, tadi om liat Inez ya”. “ya liat lah, ampe ah uh gak keruanan gitu, jablay banget kamu In. Kamu kumisan, trus tangan kamu juga buluan”. “Mang napa om”. “prempuan yang kumisan biasanya bulu bawahnya lebat”. “mang tadi om liat?” “Gak kliatan jelas, ketutup jadi kamu”. Wah mulai vulgar dia. “Mangnya napa kalo bulu bawahnya lebat”. Dia mengelus tanganku. aku kaget, mrinding bulu romaku dielus tanganku. “Tu kan, baru dielus ja dah menggelinjang, prempuan buluan kan napsunya gede, ya kan In”. “Trus om napsu ngeliat Inez tadi”. “normal lah kalo om napsu”. “Inez kira om vip”. “vip?” “iya, very impotent person, makanya om tinggal ndirian”. Kami tertawa bersama. “Mo nguji om vip pa enggak ya, yuk, om bersedia kok kamu uji. Palagi kamu kan dah lama gak digarukin kan, om mau kok garukin kamu”. “om vulgar ih”. “Kamu pengen kan, ah uh nya ja ampe seru gitu, ampe gak tau om dah balik”. “om ah”, aku bingung, antara mau dan malu.
Dia langsung meraih kepalaku dan melumat bibirku dengan penuh nafsu. Aku meladeni ciumannya dengan nafsu yang tak kalah hebatnya. Aku dah gak mikir malu lagi, aku juga pengen dikelonin dia, dah lama banget gak kelonan ma cowokku soale. Hampir semenit kami yang penuh birahi ini saling melumat bibir, memainkan lidah di mulut pasangan dan diselingi gigitan kecil di bibir bawah. Nafasku semakin memburu dan jantungku berdebar makin kencang, ketika tangan kanannya dengan bebasnya membuka kancing kemejaku dan meremas toketku sebelah kiri dengan ganas. “Uuuugggnnnnnnn…” desahku refleks begitu merasakan tokedku diremas-remas. Tubuhku jadi menggelinjang kecil ketika pentilku dijepit kuat oleh jarinya dan dipilin-pilin. napsuku kembali berkobar, maklum tadi ngilik ndiri belum tumtas soale.
Dia membuka kancing kemejaku 2 lagi dan menyibakkannya ke samping. Kedua buah melon segar berwarna putih muncul ke permukaan, menantang. Pentilku sudah mengacung tegak sebagai indikator empunya sedang dilanda libido tinggi. Matanya melotot melihat sepasang toked yang indah tersebut. “Besar juga toked kamu In. Cowok kamu pasti rajin nggarap toked kamu ya” ujarnya tersengal-sengal penuh nafsu. Aku bersemu merah dan tidak sempat menyelesaikan jawaban karena kedua tangannya langsung mremas kedua tokedku kuat-kuat. jari-jarinya memutar-mutar bongkahan tokedku dan memilin-milin putingnya. “Om dah gak sabar ya”. “Pemanasan dulu kan bole In”. Dia membuka kancing celana 3/4 yang kukenakan, ritsluitingnya diturunkan, memekku yang berjembut di puncaknya terlihat. “Buka paha kamu In” katanya sambil membuka paha putih mulusku. Jemarinya langsung menyusup masuk kedalem celanaku dan meremas gundukan montok tersebut.
“Aiieehhh…..Ahhhhh…” pekikku kaget. Dari selangkanganku seolah ada kejutan listrik yang langsung bergerak menyebar ke seluruh tubuh. Apalagi dia tidak berhenti sampai mremas-remas saja, jari tengahnya langsung mengilik belahan bibir memekku dan langsung dikocok. “Ahhh.. ahhhh… sssshhhhhh…. “ Aku menggeliat-geliat keenakan, karena memekku yang sudah gatal karena garukan-garukan cepat jarinya. “dah banjir mem3k kamu In”. Jari tengahnya makin cepat mengocok memekku. aku mremas kuat bahunya dan kepalaku menggeleng-geleng resah “Auhh.. ahhh.. om… aahhhh…” rengekku campur horny. Dia menghentikan kocokannya dan mengeluarkan jari tengahnya dari memekku. Sambil menjilati jari tengahnya yang basah oleh cairan memekku, dia berkata, “ya udah, kita lanjutin dikamar ja ya. Bener kan, pantes napsu kamu besar banget, dikilik gitu ja dah klojotan, jembut kamu lebat gitu”. “abis om pinter banget ngiliknya, ya Inez gak tahan lah digituin”. “Palagi dikilik pake jari di selangkangan ya In”. aku senyum sambil memukul bahunya pelan, “ih om”.
Aku diseretnya masuk kamarnya, langsung aja dia memelukku dan mremas kembali tokedku dengan penuh napsu. “Aakkkhhh… ahhh…hmmppfffffffhhhhh..” desahku karena mendadak gelombang listrik dan kenikmatan melonjak dari kedua pentilku. “kenyal sekali tokedmu In” ujarnya. Serangan tangannya semakin gencar. Kedua tanganya sudah menyelusup ke balik kemejaku, dan dengan leluasa mremas-remas melon putih dan kenyal tersebut. “Hahhhh…haahhh… aammmhhhhhffffff…” desahku keenakan, apalagi lidahnya menjilati leher jenjangku dengan liarnya. Dia segera melepas kemejaku. “Wuih, segernya”, katanya sambil terus mremas tokedku. Dia kini pindah berlutut didepanku, dia sudah tidak tahan untuk mencaplok tokedku yang menggiurkan tersebut.
Dia membuka mulutnya lebar-lebar, dan mengemut ¼ tokedku dari ujung pentilnya. Kemudian dia menghisap kuat-kuat pentilku yang sudah menegang keras sampai keluar suara yang keras. Sluuuurrppp.. Slurrrppppp… Aku semakin belingsatan tokedku diperlakukan seperti itu, karena tokedku sensitif banget. “Aaaahhhhaaaahhhh…. Haahhhhhh…Shhhhhhhhh.. Enak banget om…” erangku tak tertahankan lagi. Menyadari aku makin terangsang, perlakuannya pada tokedku semakin menjadi-jadi. Cupangan memerah menyebar di sekujur bulatan tokedku yang putih.
Gelinjang tubuhku pun menjadi-jadi, dia melepaskan celana 3/4ku dan terhenyak memandangi pahaku yang putih. Gundukan memekku mencembung dengan bulu hitam dibagian atasnya. “napsuin banget liat mem3k kamu In”. aku bertelanjang bulat didepannya. “Wah wah.. kau memang sudah siap untuk dientot ternyata” katanya sambil memasukkan jari tengahnya ke sela-sela memekku yang sudah basah kuyup. Begitu jari tengahnya melesak sepenuhnya ke dalam lubang memekku, tubuhku langsung melengkung dan lenguh kenikmatankua terdengar “Ouuhhhh….hhhuuuuhhh… iyhaa.. disitu om.. benar disitu om.. kocok yang kenceng om…” pintaku penuh nafsu. Dengan senang hati dia memenuhi permintaanku. Jari tengahnya keluar masuk memekku dan diselingi gerakan mengobel-ngobel yang agak kacau, sehingga bunyi kecipakan becek terdengar. Tak sampai semenit aku mulai merasakan bahwa rasa gatal yang menggerayangi sekujur memekku terasa semakin menghebat. Semakin kencang dikocok, rasa gatal tersebut semakin memuncak. Dan tanpa dapat ditahan lagi, orgasme pertamaku di hari itu meledak juga.
“OAAAAAAHHHHH…..AGGHHHHH….HHAAAHHHHHHH..” lenguhku panjang sampai punggungku ikut melengkung akibat terpaan gelombang orgasme yang sudah kunanti dari tadi. Dia sempat terpana demi menyaksikan betapa hebatnya reaksi orgasmeku. Sedetik kemudian ia tersadar, dan cepat-cepat bangun untuk melepas pakeannya. Ketika aku mendapatkan kembali kesadarannya 30 detik kemudian, dia sudah hendak melepaskan cdnya. “kont0l om besar banget, panjang lagi”. “Mangnya kont0l cowok kamu kecil ya In”. “Besar si rasanya waktu pertama ngeliatnya, tapi dibanding kont0l om gak da apa2nya”.
“Yang gede lebi berasa In”. “Muat gak ya om di memek Inez”. “Ya muatlah, malah kamu bakal keenakan karena gesekan kont0l om ke mem3k kamu lebih berasa banget”. Dia lalu menerkam dan menindih tubuhku di ranjang, lalu dengan buas melumat bibirku. Sambil menjilati leherku, tangannya dengan cepat mremas gundukan memekku. “Om …Aaahhhhhh…..Auhhhhhh…” ucapanku berganti lenguhan terkejut bernuansa nikmat. Cukup dengan beberapa kocokan saja, memekku sudah banjir kembali. “Haahhh.. haahhhhh…. Oohhhhhh.. hmmmppffff….” desahkui blingsatan karena memekku kini dikocok dengan dua jari, yang kadang menggesek itilku. Kontolnya yang hitam pekat langsung mengacung tegak.
Dia karena konaknya sudah di ubun-ubun, langsung mengangkangkan lebar-lebar pahaku. Sambil mengocok-ngocok pelan kontolnya, dia mulai mengarahkan palkonnya ke bibir memekku. Aku tidak hanya pasrah, tapi juga sudah berharap agar kontolnya segera menghujam memekku. Dia langsung membenamkan dalam-dalam kontolnya ke dalam lobang kenikmatanku. Membuat aku agak tersedak dan melenguh pendek
“Heeggghhh..umhh..”. Dia langsung menyeringai puas “Aggghh.. rapat sekali mem3k kamu In..hahhhh”. Dia langsung menggenjotku dengan kecepatan tinggi. Lenguhan kenikmatannya mengalahkan desahan erotisku yang mulai menikmati pompaan kontolnya di liang memekku. “Hmmm…ahahhh.. ahhh.. iya om… betul gitu om.. lebih cepat om.. ahhhh..” ceracau aku keenakan. Mendengar ceracauku yang mesum itu, dia semakin bringas. Tangannya mencengkram tokedku kuat-kuat, dan genjotan pinggulnya semakin tidak beraturan. “Hebat sekali kamu In. Belum pernah om ngrasakan mem3k senikmat kamu punya”. nafsuku makin menggelora. “Aahhhhhhhh…. Hahhhhhh… Ouggggghhhhhhh……” lenguhku dalam kungkungan birahi. Aku merasa orgasmeku semakin mendekat. bibirku sudah dilumat olehnya.
“In, ganti posisi yuk”, katanya tiba2 dan dia langsung mencabut kontolnya dari memekku. aku kecewa karena aku baru saja mulai mendaki gunung orgasmeku. “Kok dicabut om”. “Iya ganti posisi biar lebi dalem lagi masuknya, kamu bakalan lebi nikmat lagi”. Dia langsung menyuruhku mengambil posisi doggy “Nungging deh yang, aku pengen nyodok kamu dari belakang”. Aku melakukannya dengan patuh. Kedua tanganku menahan body depan, kakiku tertekuk, pahaku terbuka selebar mungkin, dan pantat kutunggingkan. “Wow.. kamu emang napsuin In” ujarnya sambil menampar pantatku yang sekal dan bundar itu. “Ahhh.. “ aku cuma mengerang pelan karena tamparannya.
Tanpa berlama-lama, dia langsung memasukkan palkonnya ke sela-sela bibir memekku yang sudah basah kuyup. Sambil memegang erat pinggulku, dia mulai menekan pinggulnya dalam-dalam. “Heeppp… masih sempit aja ni mem3k” ujarnya sambil menekan agak keras sehingga setengah batang kontolnya amblas, SLEPP… “Akkhhhhhh…. “ erangku agak keras. Sambil berusaha menoleh ke belakang, aku memohon “Ayo om, langsung dikocok..Mem3k Inez udah gatel banget nihh..” rengekku manja plus horny. Dia semakin bersemangat untuk menggenjotku dari belakang. Pantatnya dengan aktif mulai maju mundur, menghajar memekku dengan hujaman-hujaman kontolnya yang besar panjang. “Aaaahhhh.. haaahhhh… ouugggghhhh.. “ lenguhku. “Hmmppff.. enak banget… Gede banget kont0l om,masuknya dalem banget om…Gillaaaa…. aahhhhh..” aku semakin terbuai nafsu birahi. Akibat pompaannya, tubuhku terguncang-guncang maju mundur dengan kuatnya. Tokedku bergoyang-goyang heboh tak tentu arah. Dia yang tidak puas cuma mremas-remas pantatku, menggapaikan tangannya untuk meraih tokedku yang bergoyang bebas.
Sambil mremas-remas sepasang daging kenyal bundar, dia menceracau keenakan “Gillaa.. toked kamu besar In. Kamu demen kan kalo om remes-remes gini..”. Dia tak perlu jawaban langsung, karena lenguhanku yang semakin keras sudah menunjukkan betapa aku juga menikmati setiap remasan di tokedku. Tidak sampai 5 menit digempur dengan doggy style, tubuhku sudah menegang. Lenguhanku semakin keras “Ahhh.. ouuuggghhhh.. cepetin om.. cepetin ngocoknya..Ahh..ahhh..” Memenuhi requestku, dia meningkatkan RPMnya. Dan…….”OUUUUUUGGGGHHHHHH…….INEZ KELUAR.. AAAHHH…” jeritku sambil mengejan-ngejan. Dia merasakan ada semprotan pelan di kontolnya. Diturunkan kecepatan kocokannya, untuk membiarkan aku cooling down dan ambil nafas dulu.
“Hah.. hah…hah… gila.. enak banget om..” ujarku dengan nafasnya masih tersengal-sengal. Dia pelan-pelan mencabut kontolnya. Walaupun sudah pelan-pelan, tetap saja aku terpekik kecil ketika kontolnya dicabut. “Auh..kok dicabut om?” tanyaku kaget. Dia tidak berkata apa-apa, tapi langsung membalikkan tubuhku sehingga terlentang. Tokedku yang menggunung indah menjadi sasaran lumatan bibirnya. Sambil mremas-remas dengan kuat, putingku dijilat-jilat dan dipermainkan dengan lidah olehnya. Libidoku langsung naik lagi. Bahkan rasa gatal di memekku kembali dengan lebih hebat. “SShhhhhh… hhmmppfffff… “ desisku keenakan karena tokedku sekarang sedang dikenyot dan dihisap kuat-kuat putingnya oleh dia. “Haahh.. hahh… om, Inez mau diatas ya” pintaku. “Hehe om emang pengen ngerasain goyangan kamu In”. Dia terlentang dan aku mengangkang di atasnya, mulai mengarahkan kontolnya ke lubang memekku. Tanpa kesulitan batang kont0l tersebut amblas langsung 3/4nya. “Heekkhhhhhh… uuuuhhhh… gede banget sihhh…” erangku, mataku sampai terpejam karena kenikmatan yang dirasa ketika batang besar tersebut menerobos dan menggesek dinding-dinding memekku yang licin.
Aku langsung mulai menggoyang pinggulku dengan gerakan naik turun, sambil tanganku bertelekan di perut sixpacknya. Slepp.. slepp.. sleppp… bunyi gesekan kontolnya dengan dinding becek memekku. “HHHhhhmmm… hhaahhhhh…. Sshhhhhh…” desahku menikmati setiap sentuhan. Karena aku diatas, dengan mudah aku mengarahkan sentuhan-sentuhan kontolnya ke titik-titik yang aku suka. Sekarang kontolnya amblas seluruhnya, dan aku mulai melakukan gerakan maju mundur, dan diselingi oleh gerakan pinggulnya yang memutar-mutar. Sensasinya? Luarr biasaaa…dia merasakan kontolnya dipilin-pilin, dan diremas-remas dengan enaknya oleh cengkraman dinding-dinding licin yang panas memekku. “Ahhh.. hhaaahhh…gillaa mem3k kamu enak bener In….” erangnya merem melek saking enaknya.
Lebih cepat dari ronde pertama, aku sudah hampir mencapai orgasme lagi. Kontolnya menggesek-gesek tepat di titik g-spotku. Rasa gatal yang sangat hebat terasa mengumpul disekujur selangkanganku, membuat aku semakin blingsatan, goyanganku berusaha menggaruk setiap titik gatal tersebut. Dia yang tau aku akan mencapai orgasmeku lagi, mempercepatnya dengan mremas tokedku yang tergantung bebas sambil memilin-milin putingnya. Betul saja, detik berikutnya aku merasakan ledakan kenikmatan muncrat di lubang memekku, “OOOAAHHHHHH……. AAAAAUUHHHH…. OUHH…Ouuhhhh….hmmmmppffffff…” jeritku penuh kepuasan. Tubuhku bergetar dengan hebatnya, dialiri sengatan listrik orgasme yang bersumber dari memekku dan menyebar ke seluruh tubuh. 15 detik setelah gelombang klimaksku berlalu, aku menjatuhkan diri di atas tubuhnya. Nafasku masih tersengal-sengal.
Dia yang sudah merasa tanggung, tidak lagi menunggu aku siap. Tangannya menggapai pantatku dan mengangkatnya sedikit, agar ada sedikit celah antara selangkangannya dengan selangkanganku. Dia mulai menggerakkan pinggulnya naik turun, karena kontolnya masih menancap dalam di memekku. Dia mengocok dengan cepat. Plak..plak.. plak.. slep..slepp. sleppp.. bunyi benturan kontolnya dengan memekku, ditingkahi oleh kecipak becek cairan memekku. “Ahh.. ahh om.. tunggu… jangan dikocok lagi.. ngiluu..” rengekku lemas. Tapi dia malah mempercepat kocokannya. Tapi, ternyata akibat kocokan ini, rasa ngilu di memekku cuma tarasa sebentar. Sekarang malah rasa gatal itu kembali dengan lebih hebat lagi. Tanpa diduga, gelombang orgasme yang lebih dahsyat dari sebelumnya meledak di selangkanganku. “HIAAHHHHHH…..AAAAHHHHH… OUUFFFHHHHHH…. INEZ KELUAR LAGI OM” pekikku ketika mencapai orgasme lagi dengan mata terpejam kuat dan tangan mremas pundak nya kencang-kencang. “Hahh.. hah…. Gila.. gila… Inez keluar lagii…” desahku lemas.
Dia bergerak menggulingkan tubuhnya, sehingga sekarang aku yang ditindih. “Om.. time out dulu..Inez nyaris pingsan om..” aku memohon dengan suara lemas. “In, om udah nanggung banget nih. Tahanin bentar lagi ya. Om udah mo keluar juga kok” katanya dengan nafas memburu karena birahinya sudah diubun-ubun kepala. Tanpa menuggu persetujuanku, dia langsung tancap torsi tinggi dalam posisi misionaris. Kontolnya menghujam memekku tanpa belas kasihan. Keluar masuk dengan cepat, berputar-putar, mengobel-ngobel dinding memek yang sempit dan semakin banjir itu. Tanpa bisa ditahan, akumengalami orgasme yang entah untuk keberapa kali. “OM… INEZ YANG KLUARR NEEHHHH…EEHHHHHHHHMMMMM..” teriakku penuh kenikmatan, sambil kelonjotan di bawah tubuhnya.
Dia mencabut kontolnya, diiringi lelehan banjir cairan memekku. Dia langsung mengambil posisi di atas perutku dan menjepitkan kontolnya di sela-sela tokedku. Kedua telapak tangannya merangkum kedua bongkah susu ranum tersebut, dan menjepitkannya kuat-kuat ke kontolnya yang sudah hampir meledakkan peju. Kontolnya dikocok dengan cepat di sela-sela tokedku. “Ouuh..”, lenguhnya kenikmatan. Tak sampai setengah menit, dia merasakan ada gerakan aliran dari pangkal batang kontolnya menuju ke palkonnya. Rasa gatal di palkonnya pun semakin menghebat. Dan ledakan orgasmenyapun terjadi juga “OOOOOHHHH… ” lenguhnya keras. Semprotan peju langsung menembak. Lelehannya memenuhi toked dan wajahku. Dan diapun langsung terbaring lemas di sampingku.
Hampir 3 menit tidak ada yang berbicara. Hanya nafas memburu yang terdengar semakin perlahan, seiring lewatnya badai kenikmatan seksual. Dia memiringkan badannya dan langsung menatapku. “Gimana In, nikmat kan?” “Banget om, tapi om kok ngecret diluar?”. “Gak apa, kan masi ada ronde kedua, masi mau kan”. “Banget om, tapi Inez istirahat dulu ya, om kuat banget ngentotnya, lama lagi, Inez lemes banget om”. “Tapi nikmatnya juga banget kan”. Aku cuma menggangguk tersenyum. “Kamu masi muda gini dah pinter banget muasin om”. “Om puas ya ngentotin Inez”. “Banget, mem3k kamu peret banget, empotannya krasa banget lagi”. “Abis kont0l om gede banget si, kan memek Inez baru skali kemasukan kont0l segede kont0l om, ampe sesek banget deh rasanya kalo dah ambles smuanya”. “Kamu nginep kan In, jadi kita bisa all nite long ni”. Aku cuma senyum sambil memeluknya mesra.
HANGATNYA TUBUH BU MISYE (cerita dewasa)
Sebenarnya cerita ini adalah cerita dewasa tentang pemerkosaan, tapi karena akhir dari cerita ini si ibu Misye ikut menikmati akhirnya cerita ini kami masukkan dalam kategori cerita setengah baya, dan semoga dapat menjadi pelajaran bagi ibu setengah baya dalam perjalanan, baik itu pulang kantor atau kepasar.
Bu Misye dalam perjalanan pulang dari tempat ia bekerja terpaksa berteduh karena dia tidak membawa jas hujan. Bu Misye berteduh di sebuah bangunan yang belum jadi namun sudah beratap. Setelah menyandarkan motornya Bu Misye mencari tepat duduk dan ternyata ada sebuah kursi panjang. Pakaian yang dikenakan suadah basah semua, Bu Misye sebelumnya berniat untuk tidak berteduh namun karena hujannya semakin lebat dan disertai angin dan petir maka ia memutuskan untuk berteduh, walaupun dalam hatinya cemas karena hari sudah menjelang gelap namun tanda-tanda hujan akan reda belum muncul.
Belum lama duduk datang seorang pemuda tanggung yang juga akan berteduh. Setelah menyandarkan Tiger yang dipakainya, pemuda itu cepat-cepat masuk ke bangunan yang belum jadi tersebut. Bu Misye pertama agak khawatir dengan pemuda tersebut namun akhirnya kekhawatirannya akhirnya hilang karena melihat penampilannya juga keramahannya. Bu Misye melempar senyum dibalas dengan senyum oleh pemuda tersebut.
Pemuda tanggung tersebut berkulit putih bersih dan wajah yang diakui oleh Bu Misye memang tampan. Pemuda tersebut duduk di kursi panjang agak berjauhan letaknya dengan Bu Misye.
“Cuma sendirian Bu?” pemuda tersebut memulai pembicaraan.
“Iya Dik” Bu Misye menjawab.
“Adik dari mana?” lanjutnya.
“Dari rumah teman, sedang Ibu sendiri dari mana?” pemuda itu menyambung.
“Dari tempat kerja Dik” Bu Misye menjawab.
“Koq sampai sore Ibu, memang tidak dijemput oleh suami atau putra Ibu?” pemuda tersebut kembali bertanya.
“Ndak Dik.. walau udah tua Ibu berusaha sendiri lagian anak-anak Ibu udah berkeluarga semua” Bu Misye menyahut.
“Eh Adik masih kuliah kelihatannya, nama Adik siapa biar enak kalau manggilnya” lanjut Bu Misye, walau dalam hatinya dia agak bingung kenapa harus bertanya namanya.
“Iwan Ibu, masih kuliah semester pertama, nama Ibu?” jawab pemuda tersebut.
“Misye” jawab Bu Misye.
“Ibu umurnya berapa koq ngakunya sudah tua?” Iwan bertanya.
“Udah hampir limapuluh Dik Iwan” jawab Bu Misye.
“Koq masih keliatan lebih muda dari usia Bu Misye lho?” lanjut Iwan.
Pembicaraan terhenti sebentar. Baju yang dipakai oleh Bu Misye yang basah secara jelas mencetak buah dadanya yang sekal terbungkus oleh BH hitam yang keliatan sangat menantang di usianya. Rambutnya yang teruarai lurus sebahu tampak basah juga. Kulitnya yang putih tampak titik air yang masih membasahinya. Iwan terus memandangi tubuh yang Bu Misye.
“Tubuh Ibu masih bagus lho, Bu Misye tentu sangat bisa merawat tubuh” tiba-tiba Iwan memecah kesunyian.
Bu Misye agak kaget dengan pertanyaan Iwan. Dia agak tersinggung dengan pertannyan itu apalagi mata Iwan yang tidak lepas dari dadanya. Anak ini ternyata agak kurang ajar.
Belum lagi keterkejutannya hilang, Iwan berkata lagi, “Tentu suami Ibu sendiri sangat sengan dengan istri yang secantik dan semolek Bu Misye” Iwan berkata sambil meremas-remas kemaluannya yang masih dibungkus celananya.
Melihat situasi yang kurang baik itu, Bu Misye tidak menjawab, dia langsung berdiri menuju ke motornya walaupun hujan tampaknya semakin menjadi-jadi. Namun tangan Iwan lebih dulu menyahut tangan Bu Misye. Bu Misye semakin marah.
“Kau mau apa haa?” hardiknya.
“Hujan masih lebat, sedang kita cuma berdua.. saya menginginkan Ibu” sahut Iwan dengan santainya sambil merangkul Bu Misye dari belakang.
“Menginginkan apa?” Bu Misye agak berteriak sambil berusaha melepaskan pelukan Iwan.
“Menginginkan tubuh Ibu..” Iwan berkata sambil tangannya beraksi menggerayangi tubuh Bu Misye dari belakang.
“Jangan Dik Iwan.. apa kamu nggak merasa umurku.. sebaya dengan ibumu” Bu Misye berusaha untuk mengingatkan.
“Justru itu saya suka” Iwan menyahut.
Tangan kirinya merangkul Bu Misye dari belakang, tangan kananya berusaha menyingkap rok yang dipakai Bu Misye setelah tersingkap ke atas Iwan mengeluarkan penisnya yang sudah keras berdiri. Tak ketinggalan CD yang dipakai oleh Bu Misye dipelorotkan ke bawah.
Tangan Iwan meraba-raba memek Bu Misye yang ditumbuhi oleh jembut yang rimbun. Jarinya berusaha masuk ke lubang kenikmatan Bu Misye.
“Dik Iwan.. To.. long.. hentika.. ka.. ka.. ka.. mu nggak se.. harusnya mela.. kuka.. ini.. Dik Iwan Iwan..” Bu Misye berusaha mengingatkan lagi dengan terbata-bata.
“Ah.. Jangan.. Dik Iwan.. Ibu.. sudah tua.. ingat..” tambahnya lagi.
Iwan tidak menggubris kata-kata Bu Misye jarinya sudah masuk ke vagina Bu Misye dan bermain-main di dalamnya. Kemudian Iwan berusaha membalikkan tubuh Bu Misye, setelah itu dengan kasar Iwan mendorong tubuh molek itu sehingga jatuh terjerebab ke tanah. Dengan posisi duduk mengkangkang Bu Misye berusaha bangkit lagi dari duduknya. Pahanya yang mulus tersingkap sampai ke pangkalnya. Pakaian bagian atas acak-acakkan tampak sebagian kutang warna hitam yang seolah tak mampu menahan volume buah dada indah Bu Misye.
Belum sempat berdiri Iwan berkata sambil melepaskan celana dan bajunya, “Bu Misye, anda berteriakpun tak akan ada orang yang mendengar.. tempat ini agak jauh dari rumah penduduk sebaiknya Bu Misye tidak usah macam-macam”
“Aku tak kan sudi melayani kamu.. anak muda” Bu Misye setengah berteriak.
“Sudah jangan banyak bicara lepaskan pakaianmu.. cepat.. daripada aku menyakiti Ibu” sahut Iwan sambil melepaskan celana dalamnya, tampak batang kontolnya yang sudah mengacung keras.
Airmata Bu Misye mulai berlinang. Dia merasa sangat ketakutan dan galau hatinya. Dia merasa tak berharga dihadapan anak muda yang pantas menjadi anaknya. Dia juga merasa menyesal berteduh di tempat itu, dia merasa juga menyesali pakaian kerja yang sering ia kenakan. Rok yang terlalu tinggi dan baju yang transparan yang memperlihatkan BHnya yang seakan tidak muat menahan buah dadanya, sehingga membuat para lelaki yang menatapnya seolah menelanjanginya. Namun dalam hatinya berkata juga bahwa baru sekarang dia melihat kemaluan lelaki yang besar, ****** suaminya tidak sebesar itu. Darahnya berdesir kencang.
Belum hilang keterpanaannya sudah dikejutkan oleh suara Iwan lagi, “Cepatt! Sudah nggak tahan nih..”
Karena dilanda ketakutan, dengan perlahan tangan Bu Misye melepas satu persatu kancing bajunya. Tampaklah payudaranya yang dibungkus oleh BH hitam.
“Cepat lepas kutangmu!” bentak Iwan.
Dalam hati Bu Misye berkata anak muda memang nggak sabaran. Setelah melepas BHnya, tumpahlah payudara Bu Misye yang masih tampak sekal dan menggairahkan, puting susunya yang coklat kehitam-hitaman tampak menantang sekali.
Iwan jongkok di dekat Bu Misye tangannya mulai menggerayangi payudara Bu Misye.
“Uh.. ah.. ah..” rintih Bu Misye ketika tangan Iwan memilin milin putingnya.
Tidak puas memilin-milin mulut Iwan mulai mendarat di pucuk anggur itu. Lidahnya menari-nari dan ketika dihisap keras-keras Bu Misye hanya bisa menggigit bibir bagian bawah dan memejamkan matanya. Setelah puas dengan buah dada Bu Misye Iwan bangkit kemudian mendekatkan kontolnya yang besar tersebut ke mulut wanita paruh baya yang lemah itu.
“Hisap.. Bu Misye” perintahnya.
“Cepatt!” bentak Iwan ketika Bu Misye belum juga melakukan apa yang ia kehendaki.
Akhirnya Bu Misye mengulum batang zakar. Pertama dia melakukan hampir saja dia muntah karena selama hidupnya dia baru melakukan beberapa kali dengan suaminya. Bu Misye seakan tidak percaya apa yang dia lakukan sekarang, dia di tempatnya bekerja adalah orang yang dihormati sedang di kampungnya dia juga orang yang disegani Ibu-Ibu. Namun pada saat ini dia sedang melakukan hal yang jorok hingga tentu kehormatannya sebagai wanita hilang sama sekali.
Iwan dengan kasar memaju mundurkan kontolnya sehingga terdengar suara nyaring menggairahkan. Setelah puas Iwan bangkit lagi kemudian di mengambil posisi ditengah-tengah di antara kaki mulus Bu Misye.
Sambil mengelus-elus kontolnya yang sudah sangat keras, Iwan berkata, “Bu Misye lebarkan lagi agar lebih mudah”
Hal yang sangat mendebarkan bagi Bu Misye akan terjadi dengan perlahan Bu Misye membuka lebar kakinya sehingga tampaklah memeknya yang tampak merekah dengan bibirnya yang agak menggelambir. Perlahan dan pasti Iwan menuntun kontolnya memasuki lobang kenikmatan Bu Misye. Iwan merasakan kehangatan memek Bu Misye dan kekencangannya seakan meremas rudal Iwan. Sebaliknya Bu Misye yang sedari tadi dengan berdebar menantikan hal tersebut seakan terhenti detak jantungnya ketika ia mulai ditusuk oleh anak muda ini. Seakan merobek barang paling berharga yang dimilikinya.
Ketika Iwan mulai mempercepat genjotannya tampaknya Bu Misye juga sudah mulai melambung ke awan. Sementara diluar hujan seakan belum mau berhenti. Iwan semakin mempercepat genjotannya. Buah dada Bu Misye tergoncang-goncang kesana-kemari. Bu Misye yang semula pasif sedikit memberi perlawanan dengan menggoyangkan pantatnya. Tangannya mengepal memukul lantai, kepalanya bergoyang menahan hawa birahi yang semakin meninggi.
Akhirnya Bu Misye tidak kuat menahan cairan yang semula ia bendung-bendung, lobang memek Bu Misye mengerut kencang ketika dia mencapai puncak. Bu Misye malu kenapa dia bisa orgame padahal ia tidak menginginkan itu. Yang lebih membuat dia bertambah malu adalah Iwan seakan mengetahui hal tersebut. Iwan tersenyum sambil terus mempercepat genjotannya. Dalam hatinya dia berkata ternyata kau juga merasakan kenikmatan juga. Dan tampaknya Iwan juga akan sampai ke puncak. Dan terdengar lenguhan panjang Iwan ketika batang kontolnya ia tancapkan dalam-dalam sambil merangkul erat Bu Misye keluarlah cairan sperma membanjiri lobang memek Bu Misye.
Iwan terkulai lemas diatas tubuh telanjang Bu Misye jiwa mereka seolah melayang sejenak.
Setelah itu Iwan bangkit dan mengambil pakaiannya sambil berkata, “Bu Misye berpakaianlah, tampaknya hujan sudah mulai reda, memek Ibu ueenak sekali, terima kasih ya Bu Misye”.
Bu Misye menatap Iwan dalam hatinya bercampur antara marah, gundah, galau. Namun satu hal yang dia tidak pungkiri bahwa dia juga menikmati perkosaan yang dilakukan Iwan.
Akhirnya Bu Misye memunguti pakaian kemudian mengenakannya kembali. Mereka berjalan ke arah motor mereka tanpa bersuara.
Tampaknya hujan sudah reda. Bu Misye menghidupkan mesin motornya, namun ia dihentikan lagi oleh Iwan.
Iwan berkata, “Bu Misye saya minta maaf akan kelancangan saya, saya tidak bisa menahan gejolak nafsu saya..”
Bu Misye tak menjawab. Ia hanya menatap wajah Iwan dengan mata yang berkaca-kaca. Iwan diam kemudian Iwan mendekatkan wajahnya dan ciuman hangat ia daratkan ke bibir Bu Misye. Pertama Bu Misye diam namun akhirnya Bu Misye membalas ciuman tersebut. Lidah mereka saling bertautan. Sejenak kemudian Bu Misye tersadar dan melepaskan ciuman tersebut kemudian melajukan kendaraannya.
Iwan hanya terdiam terpaku kemudian menaiki kendaraannya ke arah yang berlawanan. Bu Misye menerobos hujan rintik-rintik dengan perasaan yang sebenarnya terpuaskan.
Bu Misye dalam perjalanan pulang dari tempat ia bekerja terpaksa berteduh karena dia tidak membawa jas hujan. Bu Misye berteduh di sebuah bangunan yang belum jadi namun sudah beratap. Setelah menyandarkan motornya Bu Misye mencari tepat duduk dan ternyata ada sebuah kursi panjang. Pakaian yang dikenakan suadah basah semua, Bu Misye sebelumnya berniat untuk tidak berteduh namun karena hujannya semakin lebat dan disertai angin dan petir maka ia memutuskan untuk berteduh, walaupun dalam hatinya cemas karena hari sudah menjelang gelap namun tanda-tanda hujan akan reda belum muncul.
Belum lama duduk datang seorang pemuda tanggung yang juga akan berteduh. Setelah menyandarkan Tiger yang dipakainya, pemuda itu cepat-cepat masuk ke bangunan yang belum jadi tersebut. Bu Misye pertama agak khawatir dengan pemuda tersebut namun akhirnya kekhawatirannya akhirnya hilang karena melihat penampilannya juga keramahannya. Bu Misye melempar senyum dibalas dengan senyum oleh pemuda tersebut.
Pemuda tanggung tersebut berkulit putih bersih dan wajah yang diakui oleh Bu Misye memang tampan. Pemuda tersebut duduk di kursi panjang agak berjauhan letaknya dengan Bu Misye.
“Cuma sendirian Bu?” pemuda tersebut memulai pembicaraan.
“Iya Dik” Bu Misye menjawab.
“Adik dari mana?” lanjutnya.
“Dari rumah teman, sedang Ibu sendiri dari mana?” pemuda itu menyambung.
“Dari tempat kerja Dik” Bu Misye menjawab.
“Koq sampai sore Ibu, memang tidak dijemput oleh suami atau putra Ibu?” pemuda tersebut kembali bertanya.
“Ndak Dik.. walau udah tua Ibu berusaha sendiri lagian anak-anak Ibu udah berkeluarga semua” Bu Misye menyahut.
“Eh Adik masih kuliah kelihatannya, nama Adik siapa biar enak kalau manggilnya” lanjut Bu Misye, walau dalam hatinya dia agak bingung kenapa harus bertanya namanya.
“Iwan Ibu, masih kuliah semester pertama, nama Ibu?” jawab pemuda tersebut.
“Misye” jawab Bu Misye.
“Ibu umurnya berapa koq ngakunya sudah tua?” Iwan bertanya.
“Udah hampir limapuluh Dik Iwan” jawab Bu Misye.
“Koq masih keliatan lebih muda dari usia Bu Misye lho?” lanjut Iwan.
Pembicaraan terhenti sebentar. Baju yang dipakai oleh Bu Misye yang basah secara jelas mencetak buah dadanya yang sekal terbungkus oleh BH hitam yang keliatan sangat menantang di usianya. Rambutnya yang teruarai lurus sebahu tampak basah juga. Kulitnya yang putih tampak titik air yang masih membasahinya. Iwan terus memandangi tubuh yang Bu Misye.
“Tubuh Ibu masih bagus lho, Bu Misye tentu sangat bisa merawat tubuh” tiba-tiba Iwan memecah kesunyian.
Bu Misye agak kaget dengan pertanyaan Iwan. Dia agak tersinggung dengan pertannyan itu apalagi mata Iwan yang tidak lepas dari dadanya. Anak ini ternyata agak kurang ajar.
Belum lagi keterkejutannya hilang, Iwan berkata lagi, “Tentu suami Ibu sendiri sangat sengan dengan istri yang secantik dan semolek Bu Misye” Iwan berkata sambil meremas-remas kemaluannya yang masih dibungkus celananya.
Melihat situasi yang kurang baik itu, Bu Misye tidak menjawab, dia langsung berdiri menuju ke motornya walaupun hujan tampaknya semakin menjadi-jadi. Namun tangan Iwan lebih dulu menyahut tangan Bu Misye. Bu Misye semakin marah.
“Kau mau apa haa?” hardiknya.
“Hujan masih lebat, sedang kita cuma berdua.. saya menginginkan Ibu” sahut Iwan dengan santainya sambil merangkul Bu Misye dari belakang.
“Menginginkan apa?” Bu Misye agak berteriak sambil berusaha melepaskan pelukan Iwan.
“Menginginkan tubuh Ibu..” Iwan berkata sambil tangannya beraksi menggerayangi tubuh Bu Misye dari belakang.
“Jangan Dik Iwan.. apa kamu nggak merasa umurku.. sebaya dengan ibumu” Bu Misye berusaha untuk mengingatkan.
“Justru itu saya suka” Iwan menyahut.
Tangan kirinya merangkul Bu Misye dari belakang, tangan kananya berusaha menyingkap rok yang dipakai Bu Misye setelah tersingkap ke atas Iwan mengeluarkan penisnya yang sudah keras berdiri. Tak ketinggalan CD yang dipakai oleh Bu Misye dipelorotkan ke bawah.
Tangan Iwan meraba-raba memek Bu Misye yang ditumbuhi oleh jembut yang rimbun. Jarinya berusaha masuk ke lubang kenikmatan Bu Misye.
“Dik Iwan.. To.. long.. hentika.. ka.. ka.. ka.. mu nggak se.. harusnya mela.. kuka.. ini.. Dik Iwan Iwan..” Bu Misye berusaha mengingatkan lagi dengan terbata-bata.
“Ah.. Jangan.. Dik Iwan.. Ibu.. sudah tua.. ingat..” tambahnya lagi.
Iwan tidak menggubris kata-kata Bu Misye jarinya sudah masuk ke vagina Bu Misye dan bermain-main di dalamnya. Kemudian Iwan berusaha membalikkan tubuh Bu Misye, setelah itu dengan kasar Iwan mendorong tubuh molek itu sehingga jatuh terjerebab ke tanah. Dengan posisi duduk mengkangkang Bu Misye berusaha bangkit lagi dari duduknya. Pahanya yang mulus tersingkap sampai ke pangkalnya. Pakaian bagian atas acak-acakkan tampak sebagian kutang warna hitam yang seolah tak mampu menahan volume buah dada indah Bu Misye.
Belum sempat berdiri Iwan berkata sambil melepaskan celana dan bajunya, “Bu Misye, anda berteriakpun tak akan ada orang yang mendengar.. tempat ini agak jauh dari rumah penduduk sebaiknya Bu Misye tidak usah macam-macam”
“Aku tak kan sudi melayani kamu.. anak muda” Bu Misye setengah berteriak.
“Sudah jangan banyak bicara lepaskan pakaianmu.. cepat.. daripada aku menyakiti Ibu” sahut Iwan sambil melepaskan celana dalamnya, tampak batang kontolnya yang sudah mengacung keras.
Airmata Bu Misye mulai berlinang. Dia merasa sangat ketakutan dan galau hatinya. Dia merasa tak berharga dihadapan anak muda yang pantas menjadi anaknya. Dia juga merasa menyesal berteduh di tempat itu, dia merasa juga menyesali pakaian kerja yang sering ia kenakan. Rok yang terlalu tinggi dan baju yang transparan yang memperlihatkan BHnya yang seakan tidak muat menahan buah dadanya, sehingga membuat para lelaki yang menatapnya seolah menelanjanginya. Namun dalam hatinya berkata juga bahwa baru sekarang dia melihat kemaluan lelaki yang besar, ****** suaminya tidak sebesar itu. Darahnya berdesir kencang.
Belum hilang keterpanaannya sudah dikejutkan oleh suara Iwan lagi, “Cepatt! Sudah nggak tahan nih..”
Karena dilanda ketakutan, dengan perlahan tangan Bu Misye melepas satu persatu kancing bajunya. Tampaklah payudaranya yang dibungkus oleh BH hitam.
“Cepat lepas kutangmu!” bentak Iwan.
Dalam hati Bu Misye berkata anak muda memang nggak sabaran. Setelah melepas BHnya, tumpahlah payudara Bu Misye yang masih tampak sekal dan menggairahkan, puting susunya yang coklat kehitam-hitaman tampak menantang sekali.
Iwan jongkok di dekat Bu Misye tangannya mulai menggerayangi payudara Bu Misye.
“Uh.. ah.. ah..” rintih Bu Misye ketika tangan Iwan memilin milin putingnya.
Tidak puas memilin-milin mulut Iwan mulai mendarat di pucuk anggur itu. Lidahnya menari-nari dan ketika dihisap keras-keras Bu Misye hanya bisa menggigit bibir bagian bawah dan memejamkan matanya. Setelah puas dengan buah dada Bu Misye Iwan bangkit kemudian mendekatkan kontolnya yang besar tersebut ke mulut wanita paruh baya yang lemah itu.
“Hisap.. Bu Misye” perintahnya.
“Cepatt!” bentak Iwan ketika Bu Misye belum juga melakukan apa yang ia kehendaki.
Akhirnya Bu Misye mengulum batang zakar. Pertama dia melakukan hampir saja dia muntah karena selama hidupnya dia baru melakukan beberapa kali dengan suaminya. Bu Misye seakan tidak percaya apa yang dia lakukan sekarang, dia di tempatnya bekerja adalah orang yang dihormati sedang di kampungnya dia juga orang yang disegani Ibu-Ibu. Namun pada saat ini dia sedang melakukan hal yang jorok hingga tentu kehormatannya sebagai wanita hilang sama sekali.
Iwan dengan kasar memaju mundurkan kontolnya sehingga terdengar suara nyaring menggairahkan. Setelah puas Iwan bangkit lagi kemudian di mengambil posisi ditengah-tengah di antara kaki mulus Bu Misye.
Sambil mengelus-elus kontolnya yang sudah sangat keras, Iwan berkata, “Bu Misye lebarkan lagi agar lebih mudah”
Hal yang sangat mendebarkan bagi Bu Misye akan terjadi dengan perlahan Bu Misye membuka lebar kakinya sehingga tampaklah memeknya yang tampak merekah dengan bibirnya yang agak menggelambir. Perlahan dan pasti Iwan menuntun kontolnya memasuki lobang kenikmatan Bu Misye. Iwan merasakan kehangatan memek Bu Misye dan kekencangannya seakan meremas rudal Iwan. Sebaliknya Bu Misye yang sedari tadi dengan berdebar menantikan hal tersebut seakan terhenti detak jantungnya ketika ia mulai ditusuk oleh anak muda ini. Seakan merobek barang paling berharga yang dimilikinya.
Ketika Iwan mulai mempercepat genjotannya tampaknya Bu Misye juga sudah mulai melambung ke awan. Sementara diluar hujan seakan belum mau berhenti. Iwan semakin mempercepat genjotannya. Buah dada Bu Misye tergoncang-goncang kesana-kemari. Bu Misye yang semula pasif sedikit memberi perlawanan dengan menggoyangkan pantatnya. Tangannya mengepal memukul lantai, kepalanya bergoyang menahan hawa birahi yang semakin meninggi.
Akhirnya Bu Misye tidak kuat menahan cairan yang semula ia bendung-bendung, lobang memek Bu Misye mengerut kencang ketika dia mencapai puncak. Bu Misye malu kenapa dia bisa orgame padahal ia tidak menginginkan itu. Yang lebih membuat dia bertambah malu adalah Iwan seakan mengetahui hal tersebut. Iwan tersenyum sambil terus mempercepat genjotannya. Dalam hatinya dia berkata ternyata kau juga merasakan kenikmatan juga. Dan tampaknya Iwan juga akan sampai ke puncak. Dan terdengar lenguhan panjang Iwan ketika batang kontolnya ia tancapkan dalam-dalam sambil merangkul erat Bu Misye keluarlah cairan sperma membanjiri lobang memek Bu Misye.
Iwan terkulai lemas diatas tubuh telanjang Bu Misye jiwa mereka seolah melayang sejenak.
Setelah itu Iwan bangkit dan mengambil pakaiannya sambil berkata, “Bu Misye berpakaianlah, tampaknya hujan sudah mulai reda, memek Ibu ueenak sekali, terima kasih ya Bu Misye”.
Bu Misye menatap Iwan dalam hatinya bercampur antara marah, gundah, galau. Namun satu hal yang dia tidak pungkiri bahwa dia juga menikmati perkosaan yang dilakukan Iwan.
Akhirnya Bu Misye memunguti pakaian kemudian mengenakannya kembali. Mereka berjalan ke arah motor mereka tanpa bersuara.
Tampaknya hujan sudah reda. Bu Misye menghidupkan mesin motornya, namun ia dihentikan lagi oleh Iwan.
Iwan berkata, “Bu Misye saya minta maaf akan kelancangan saya, saya tidak bisa menahan gejolak nafsu saya..”
Bu Misye tak menjawab. Ia hanya menatap wajah Iwan dengan mata yang berkaca-kaca. Iwan diam kemudian Iwan mendekatkan wajahnya dan ciuman hangat ia daratkan ke bibir Bu Misye. Pertama Bu Misye diam namun akhirnya Bu Misye membalas ciuman tersebut. Lidah mereka saling bertautan. Sejenak kemudian Bu Misye tersadar dan melepaskan ciuman tersebut kemudian melajukan kendaraannya.
Iwan hanya terdiam terpaku kemudian menaiki kendaraannya ke arah yang berlawanan. Bu Misye menerobos hujan rintik-rintik dengan perasaan yang sebenarnya terpuaskan.
Karaoke Membawa Duka (cerita dewasa)
Kejadian ini terjadi karena saya dan pacar saya, Anna, pergi
berkaraoke baik beramai-ramai dengan teman-teman kami maupun hanya
kami berdua. Suatu hari saya diberitahu oleh teman saya bahwa ada
sebuah tempat karaoke di Kelapa Gading yang memutarkan lagu-lagu
karaoke dengan gambar-gambar wanita telanjang. Karena penasaran dan
ingin mengetahui lebih lanjut saya mengajak Anna untuk pergi
berkaraoke di tempat tersebut.
Saat malam minggu, sekitar jam 22.30 saya mengajak Anna untuk
berkaraoke di tempat tersebut dan Anna pun tidak keberatan,
sebelumnya saya telah memberitahukan Anna situasi dan keadaannya.
Sesampai di sana saya langsung membooking sebuah ruangan VIP, kami
terpaksa membooking ruangan untuk sepuluh orang karena ruangan itu
yang paling kecil. Lalu kami pun diantar oleh seorang wanita menuju
ke ruangan yang telah kami booking. Sesampainya di ruangan, wanita
tersebut menawarkan minuman dan makanan. Kami hanya memesan minuman
dan makanan kecil saja, kacang garing, karena baru sejam yang lalu
kami makan. Setelah menerima orderan, wanita tersebut langsung ke
luar. Sementara itu kami berdua mulai memilih lagu yang ingin kami
nyanyikan maupun hanya untuk didengar. Dua buah lagu telah selesai
kami nyanyikan dan pintu terbuka kembali dan masuklah wanita tadi
sambil membawa pesanan kami.
Setelah lama menunggu, kami merasa penasaran karena gambar-gambar
yang hot belum juga muncul di layar TV dan ternyata gambar-gambar hot
itu baru mulai muncul setelah jam 23.30 WIB. Melihat gambar-gambar
wanita telanjang itu membuat saya mulai tinggi nafsu seksnya. Saya
mulai merapatkan duduk saya dengan Anna dan mulai melingkarkan tangan
saya di pinggangnya. Anna rupanya peka akan perubahan keadaan yang
terjadi dan ia pun mulai menyandarkan tubuhnya ke dada saya sambil
terus bernyanyi. Saya sudah sulit berkonsentrasi dengan teks-teks
yang tertulis di layar TV, tangan saya pun mulai menjalankan tugasnya.
Pertama saya mulai meraba-raba punggungnya dan kemudian perlahan tapi
pasti tangan saya mulai berpindah ke bagian depan, tangan saya mulai
menyentuh gumpalan daging yang terbungkus rapi oleh BH berenda yang
agak tipis. Saya mulai meremas-remas ke dua gumpalan daging dengan
bernafsu, Anna mulai mengeluarkan desahan-desahan lembut yang
menggoda. Desahan Anna itu semakin membuat nafsu seks saya semakin
meningkat dan segera tangan saya menyelinap di balik kaosnya yang
ketat dan langsung saya lepaskan cantelan BH di punggungnya yang
mulus. “Kunci dulu pintunya sayang, entar kalo ada yang masuk
gimana,” kata Anna, bergegas aku menghampiri pintu dan mencari
kuncinya. Pintunya tidak berkunci, segera saya berputar otak. Sofa
yang ada di dekat pintu saya dorong hingga menempel dengan pintu,
lumayan pintu itu tidak dapat langsung terbuka karena terganjal oleh
sebuah sofa.
Langsung saya balik ke sofa tempat saya duduk semula dan mulai
melepaskan kaos dan beha yang dikenakan Anna. Kali ini Anna tidak
keberatan dengan tindakan saya malah membantu saya melepaskan kaos
yang dikenakannya. Begitu kaos dan BH itu terlepas saya melihat dua
buah gumpalan daging yang sangat menggemaskan, ukurannya tidak
terlalu besar tapi sangat proporsional dengan tubuh Anna yang
ramping. Walaupun sering melihat Anna telanjang bulat, akan tetapi
saya selalu terpesona jika melihat buah dada Anna yang indah dan
sekal itu. Tak kubiarkan diriku terpesona terlalu lama, langsung
kuraih buah dada Anna yang sudah menantang untuk diremas-remas dan
dihisap-hisap. Desahan halus kembali terdengar ketika tanganku mulai
meremas-remas buah dadanya dan disertai dengan hisapan maupun
jilatan. “Ahh… ahh… ahh…, nikmat, nikmat, teruskan sayang
jangan dilepaskan hisapannya,” Anna bergumam dengan penuh nafsu.
Melihat Anna yang sudah mulai tinggi nafsunya, segera tangan saya pun
berpindah ke paha. Tangan saya pun mulai menyusup di bawah rok
mininya dan mulai meraba-raba paha yang putih mulus, sampai tangan
saya meyentuh CD-nya yang juga berenda. Segera saya pelorotkan CD itu
dan tangan saya pun kembali bergerilya di pahanya sampai di sebuah
bukit kecil yang tandus, Anna baru saja mencukur habis bulu rambut
kemaluannya, sehingga saya dapat dengan leluasa menemukan celah di
bukit itu. Segera tangan saya mulai menyusup masuk ke dalam celah dan
mulai memainkan clitorisnya yang empuk dan legit. Tubuh Anna mulai
bergetar sambil terus mengeluarkan suara desahan-desahan nikmat,
ahh… ahh… ahh…, nikmat sayang, nikmat sekali, sambil disertai
dorongan pantat Anna. Saya pun semakin bernafsu untuk meremas-remas
kemaluannya.
Tiba-tiba Anna bangkit dari duduknya sambil berkata, “Mas mau lihat
saya menari striptease tidak?” Walaupun agak sedikit kaget karena
Anna tiba-tiba berdiri mendadak, segera aku menganggukkan kepala
pertanda setuju dengan usulnya. Anna pun kembali mengenakan seluruh
pakaiannya dan mulai memilih lagu yang akan menemaninya menari-nari.
Anna mulai berdiri di tengah-tengah ruangan dan ketika lagu mulai
dilantunkan, tubuh Anna mulai meliuk-liuk mengikuti irama lagu. Anna
meliuk-liukkan tubuh yang sintal dengan lemas dan menggairahkan, Anna
sesekali meremas-remas buah dadanya dan juga terkadang meraba-raba
kemaluannya sambil menjulurkan lidahnya. Satu lagu berlalu, Anna pun
mulai menanggalkan kaos dan BH-nya, sambil terus meliuk-liukkan
tubuhnya. Saya sebenarnya sudah tidak dapat menahan nafsu seks saya
lagi, apalagi melihat buah dada Anna bergoyang-goyang dengan
indahnya. Melihat saya yang mulai blingsatan karena nafsu, Anna
semakin hot meliuk-liukkan tubuhnya yang sintal dan tiba-tiba ia
melepaskan rok mininya terus melemparkannya ke saya. “Buka, buka,
buka CD-nya,” kataku. Mendengar teriakanku Anna semakin kerasukan dan
ia semakin bernafsu meliuk-liukkan badannya sambil terus
meremas-remas buah dadanya supaya saya semakin bernafsu.
Setelah puas melakukan gerakan-gerakan yang merangsang, Anna
membelakangiku dan mulai memelorotkan CD secara perlahan-lahan yang
semakin membuat nafsuku tidak tertahankan lagi. Segera saya tubruk
tubuhnya dan kuremas-remas buah dadanya dari belakang. Tanganku
dengan cepat menarik lepas CD-nya yang masih menempel di kakinya dan
tanganku langsung menyusup ke celah di bukitnya yang tandus. Anna pun
menjerit kenikmatan, “Aahh… ahh… ahh… nikmat, nikmat sekali
teruskan, teruskan ahh, ahh, ohh… Mas, Anna sudah tidak tahan nich
pingin ngerasain tusukan pedang Mas yang kuat dan perkasa,” katanya.
“Ok, Anna,” segera kulepaskan baju dan celana jeans yang kukenakan.
Tiba-tiba aku teringat bahwa aku membawa seutas tali dan penutup mata
yang akan kugunakan untuk mengikat tangan Anna dan juga menutupi
kedua matanya. Segera kusampaikan gagasanku itu sambil terus
merangsangnya dengan remasan-remasan di buah dadanya maupun di
kemaluannya. Anna mengangguk-angguk tanda ia menyetujui gagasanku
itu, segera aku mendudukkan tubuh Anna kembali di sofa dan saya pun
mulai mengikat kedua tangannya di sofa dan kemudian matanya pun
kututupi dengan selembar kain. Nafsuku benar-benar memuncak melihat
Anna yang dalam keadaan telanjang bulat, terikat dan tertutup
matanya. Melihat Anna yang sudah tidak berdaya dan pasrah, saya pun
langsung membuka CD yang kukenakan dan mengacunglah penis yang keras
dan gagah.
Ketika saya ingin mendekat ke tubuh Anna yang sedang duduk bersandar
dengan pasrahnya, tiba-tiba tubuh saya disergap dari belakang oleh
tiga laki-laki yang kekar dan langsung mulut saya dibekap dengan
sebuah gumpalan kain. Tubuh saya didudukkan di sofa berseberangan
(sofa di ruangan itu berbentuk huruf U) dengan tubuh telanjang Anna
dan tubuh saya pun diikat dengan kuat dan erat. “Sorry yach, gue
pinjem dulu wanita lu, lu nontonin aje kami bertiga menikmati tubuh
wanita lu, ok.”
Selesai membereskan aku hingga tak berdaya, ketiga laki-laki itu
mulai menghampiri tubuh Anna yang masih telanjang dan duduk bersandar
dengan pasrahnya menunggu untuk disetubuhi.
Melihat tubuh Anna yang telanjang bulat tanpa seutas benang, dengan
buah dadanya yang sekal dan menantang serta bukit kemaluannya yang
tandus telah membuat nafsu seks ketiga laki-laki itu meninggi. Mereka
pun lalu melakukan undian terlebih dahulu untuk menentukan siapa yang
berhak menikmati Anna terlebih dahulu. Ternyata yang menang adalah
laki-laki yang agak kekar dan berkulit gelap, ia tersenyum
menyeringai dan segera menghampiri Anna dan mulai meremas-remas buah
dadanya. Anna tidak menyadari bahwa yang meremas-remas buah dadanya
bukanlah saya lagi, Anna hanya mengeluarkan lenguhan-lenguhan nikmat,
“Ahh, ahh, ahh, nikmat, nikmat sayang terus, terus, hisap, hisap
sayang.” Mendengar permintaan Anna untuk menghisap buah dadanya,
langsung laki-laki itu menghisap-hisap buah dada Anna yang menantang.
Hisapan dan jilatan laki-laki itu semakin membuat Anna bernafsu,
terlihat dari tubuhnya yang mengejang-ngejang dan juga puting susunya
tampak menegang. Anna sudah tidak dapat lagi menahan nafsunya, “Ayo
sayang masukkan barangmu, cepat sayang, ahh, ahh, aah, aku sudah
tidak tahan lagi nich,” seru Anna. Permintaan Anna segera disambut
dengan tusukan kemaluan laki-laki itu yang berukuran cukup besar,
panjangnya sekitar 17 cm dan tebalnya sekitar 4 cm. Mulanya ujung
kemaluan laki-laki itu hanya menempel di kemaluan Anna dan perlahan
tapi pasti ia mulai menggoyangkan pantatnya sehingga kemaluannya
mulai menusuk ke dalam kemaluan Anna. Setelah yakin kemaluannya pada
arah yang benar, langsung laki-laki itu menghentakkan pantatnya
dengan keras sehingga amblaslah seluruh kemaluannya ke dalam kemaluan
Anna. Ahh… ah… ahh, ooohh, nikmat sayang, nikmat, ohh…
nikmatnya.” Desahan Anna semakin membuat laki-laki itu mempercepat
gerakan pantatnya sehingga juga semakin membuat Anna menjerit nikmat.
Melihat temannya sedang asyik menikmati tubuh telanjang Anna, membuat
kedua laki-laki yang lainnya menjadi tidak tahan juga. Mereka pun
akhirnya menghampiri dan mulai ikut menikmati tubuh Anna dengan
meremas-remas dan menjilati serta menghisap buah dada Anna. Karena
nafsu sexnya yang sudah memuncak, Anna tidak menyadari bahwa yang
menikmati tubuhnya tidak hanya satu orang melainkan tiga orang. Anna
hanya terus mengeluarkan suara desahan-desahan nikmat, sampai suatu
saat tubuh Anna tiba-tiba mengejang dengan kuat yang menandakan bahwa
ia telah mencapai puncak kenikmatan yang ternyata dibarengi oleh
tembakan dari kemaluan si laki-laki itu. Satu menit tubuh Anna
mengejang-ngejang dengan nikmat dan kemudian tubuh Anna pun mulai
melemas.
Setelah selesai menunaikan tugasnya laki-laki yang pertama pun
mencabut senjatanya dan duduk di sofa dengan tubuh berkeringat.
Laki-laki yang kedua pun mulai melakukan tugasnya dengan mulai
merangsang Anna lagi dengan jilatan-jilatan di buah dadanya dan juga
remasan-remasan di kemaluannya. Setelah beberapa lama Anna mulai
terangsang lagi dan mulai terdengar kembali suara desahan nikmatnya.
Tanpa membuang waktu, laki-laki yang kedua pun mulai menancapkan
kemaluannya di lubang kemaluan Anna. Walaupun ukurannya tidak sebesar
laki-laki yang pertama tapi karena lubang kemaluan Anna yang masih
sempit maka tetap saja Anna merasa nikmat dan mulai mendesah, “Ahh,
ah, ahh, ooh… nikmat, nikmat, ahh… ahh… nikmat sekali.”
Setelah beberapa menit laki-laki yang kedua tidak lagi dapat menahan
semburan lahar panas. Rupanya Anna belum mendapatkan orgasme yang
kedua sehingga cepat-cepat laki-laki yang ketiga menancapkan
kemaluannya ke lubang kemaluan Anna yang sudah basah oleh cairan dari
laki-laki yang kedua dan juga cairan dari kemaluan Anna sendiri.
Laki-laki yang ketiga pun langsung menggempur Anna dengan kecepatan
tinggi sehingga nafsu Anna kembali meninggi dan Anna pun kembali
mengeluarkan desahan, “Ahh, ahh, ough… terus, terus, makin cepat,
makin cepat, ahh… ooogh… nikmat, nikmat, nikmat, ahh…” Setelah
beberapa menit kemaluan Anna terus digempur akhirnya tubuh Anna
mengejang dengan keras sambil menjerit nikmat, “Aahh… ooogh…”
Anna telah mencapai klimaksnya yang kedua yang juga dibarengi dengan
semburan dari laki-laki yang ketiga.
Setelah ketiga laki-laki itu menikmati tubuh Anna, muncul niat mereka
untuk membagi kenikmatan itu dengan teman-teman mereka yang lain yang
ada di ruangan VIP yang lain. “Bagaimana kalo kita bawa wanita ini ke
tempat teman-teman kita dan kita nikmatin bersama-sama,” kata salah
satu dari laki-laki itu. “Setujuuu…” kedua laki-laki itu menyahuti
ajakan tersebut. “Steve, cepat ambil kamera di tempat anak-anak, kita
foto dulu nich wanita biar dia nanti nurutin kemauan kita,” segera
laki-laki yang bernama Steve mengenakan kembali pakaiannya dan
bergegas keluar dari ruangan. Tak lama kemudian laki-laki yang
bernama Steve itu pun sudah kembali dan menenteng sebuah kamera.
“Bangun manis,” kata laki-laki itu seraya melepaskan tutup mata yang
masih menempel di mata Anna. Rupanya Anna tertidur setelah merasakan
kenikmatan orgasme sebanyak dua kali. Tubuh Anna terlihat menggeliat
perlahan dan mulai membuka matanya. Ketika Anna membuka matanya,
betapa terkejutnya ia melihat ternyata ada tiga laki-laki yang tidak
ia kenal ada di samping tubuhnya yang telanjang. Tubuh Anna
meronta-ronta sambil berkata, “Lepaskan saya, lepaskan saya.” “Sabar
manis, kami akan melepaskan ikatan kamu setelah kami selesai membuat
foto tubuhmu yang telanjang.” Segera laki-laki itu memotret tubuh
telanjang Anna dari berbagai arah dan Anna pun tidak dapat berbuat
banyak untuk menutupi mukanya ataupun kemaluannya karena kedua
tangannya masih terikat di sofa.
Setelah laki-laki itu selesai membuat foto telanjang Anna segera ia
mengeluarkan film dari kamera dan mengantunginya. “Ok, manis kami
sudah selesai membuat foto telanjangmu jadi sekarang kamu nurut aja
sama kami atau kami cuci film ini dan kami sebarin ke temen-temen lu
dan juga orang tua lu!” Mendengar perkataan laki-laki itu Anna
tersadar bahwa ia tidak mempunyai pilihan lain selain menuruti
kemauan mereka atau film itu akan membuatnya malu di kemudian hari.
“Steve lepasin ikatannya.” Setelah ikatannya terlepas segera Anna
mencari pakaiannya, tapi ternyata pakaiannya sudah berada dalam
genggaman salah satu laki-laki itu. “Ini yang kamu cari manis,”
sambil laki-laki itu menunjukkan pakaian Anna. “Udech lu nggak usah
mikirin buat make pakaian lu lagi, kami semua justru pengen ngeliat
tubuh lu yang mulus itu tanpa sehelai benang pun. Ayo sekarang lu
ikut kami ke ruang yang lain.” kata salah satu laki-laki itu. “Eh,
gimana nich dengan pacarnya, mau kita biarin di sini atau kita ajak
aje kesebelah biar dia bisa ngeliatin kita semua nikmatin tubuh
wanitanya.” kata temannya yang lain. “Bawa aje sekalian, ntar kalo
ketauan ama pelayan di sini bisa berabe, jangan lupa bajunya juga
dibawa.”
Kami berdua pun digiring dalam keadaan telanjang bulat keluar dari
ruangan itu dan menuju ke sebuah ruangan lain yang ada di ujung.
Sesampai di ruangan itu ternyata di situ ada delapan orang laki-laki
yang sedang asyik berkaraoke sambil minum-minuman keras. “Hay
teman-teman, gue bawain oleh-oleh nich buat kita nikmati bersama-sama
sampe puas”, seraya laki-laki itu mendorong tubuh telanjang Anna ke
tengah-tengah ruangan. Melihat tubuh Anna yang telanjang bulat,
segera semua laki-laki itu berteriak-teriak kegirangan. “Wow, ok
bener nich oleh-oleh lu, dapat dari mana? Dan siapa tuch laki-laki
yang lu bawa?” tanya temannya. “Gue nemuin wanita ini di ruangan
karaoke lain dan ini laki-laki adalah pacarnya, tapi dia udeh
ngijinin kita untuk nikmatin tubuh wanitanya kok, iya khan?” seraya
laki-laki itu mendorong tubuhku ke lantai hingga aku pun terjerembab
di lantai. “Ok, teman-teman mari kita mulai pestanya jangan
buang-buang waktu lagi.”
“Eh, lu nari-nari dulu dech buat kami makin nafsu dan lu musti
memohon-mohon kepada kami semua supaya kami mau nikmatin tubuh lu,”
seru salah seorang laki-laki itu. Mendengar perintah itu Anna hanya
bisa pasrah dan mulai menggoyangkan tubuhnya yang putih mulus itu.
“Ayo narinya yang semangat donk, kayak tadi waktu lu nari buat laki
lu,” rupanya laki-laki itu sudah mengintip kami dari awal. Dengan
terpaksa Anna pun mulai menggoyang-goyangkan tubuhnya dengan lebih
bersemangat dan Anna pun berusaha menikmati keadaan itu. Lama
kelamaan pun Anna semakin hot menggoyangkan tubuh sambil
meremas-remas buah dadanya dan juga kemaluannya, sambil mengeluarkan
suara desahan, “Aahh, ahh, ayo nikmatin tubuh saya, ahh… ahh, ayo
siapa yang mau nikmatin saya, ayo silakan nikmatin tubuh saya, aahh,
ahh, jangan malu-malu.”
Melihat Anna yang menari-nari dengan hot, maka semua laki-laki itu
mulai melepaskan pakaiannya satu-persatu hingga telanjang bulat. Anna
sempat terkaget-kaget ketika melihat kemaluan laki-laki itu yang
sudah berdiri tegak semua dan sebagian besar berukuran besar, lebih
kurang 18 cm dan ketebalannya sekitar 4,5 cm. “Ayo manis silakan
pilih yang mana yang mau lu pake duluan,” sambil kesebelas laki-laki
itu merubungi tubuh telanjang Anna. Rupanya dikelilingi laki-laki
telanjang telah membuat sensasi lain bagi Anna, ia merasakan suatu
keinginan yang selama ini terpendam dalam dirinya, yaitu berhubungan
seks dengan beberapa orang laki-laki sekaligus dapat terwujudkan
walaupun keadaan ini sebenarnya tidak ia inginkan. Melihat kesebelas
penis mengacung di dekatnya seakan-akan meminta untuk dielus dan
diremas, maka Anna sengaja memainkan penis-penis itu sehingga membuat
para laki-laki itu semakin tidak dapat menahan nafsunya.
“Ayo cepetan pilihnya manis atau lu mau kita semua sekaligus
menikmati tubuh lu.” Anna hanya diam saja sambil ia memainkan dua
buah kemaluan yang ukurannya paling besar sehingga membuat kedua
laki-laki itu blingsatan keenakan, “Oohh… ohh… nikmat juga
remesan lu manis.” Tetapi hanya sebentar saja Anna memainkan kedua
kemaluan itu segera ia berpindah ke kemaluan yang lainnya lagi.
“Rupanya lu minta dikerjain sekaligus dengan beberapa laki-laki, ok
kalo itu maunya lu maka akan kami berikan manis.”
Anna pun disuruh berlutut dan menghisap kemaluan salah seorang
laki-laki dan setelah cukup basah maka Anna pun disuruh berjongkok di
atas kemaluan laki-laki yang berdiri tegak, dengan perlahan Anna
mulai memasukkan kemaluan itu ke dalam kemaluannya, dengan perlahan
tapi pasti kemaluan itu terbenam semuanya ke dalam kemaluan Anna yang
diiringi jeritan nikmat dari Anna, “Ahh… ahh… ahh.” Kemudian Anna
disuruh menumpukkan tubuhnya dengan kedua buah tangannya sehingga
pantat Anna agak menungging yang segera disambut dengan kemaluan yang
telah ia jilati, perlahan tapi pasti kemaluan itu menerobos masuk ke
lubang pantatnya, tubuh Anna mengejang karena lubang pantatnya terasa
nyeri dengan masuknya kemaluan itu, tiba-tiba laki-laki itu
menghentakkan dengan keras pantatnya sehingga seluruh kemaluannya
amblas ke dalam lubang pantat Anna, dan Anna pun menjerit antara
nikmat dan sakit.
Melihat mulut Anna yang terbuka lebar, seorang laki-laki yang tepat
berdiri di depan muka Anna langsung memasukkan kemaluannya ke dalam
mulut Anna sehingga Anna pun tersedak karena sekarang mulutnya
tersumpal dengan kemaluan. Selain itu dua orang laki-laki lain tidak
mau menyia-nyiakan buah dada Anna yang ranum dan sekal itu, segera
kedua laki-laki itu pun menjilati dan menghisap-hisap dengan penuh
nafsu.
Jadilah Anna dinikmati oleh lima orang sekaligus yang membuat Anna
tidak dapat menahan nikmat yang dirasakan, sakit yang dirasakan di
lubang pantatnya pun telah berubah menjadi kenikamtan yang tiada
taranya. Dengan penuh semangat kelima laki-laki itu pun menikmati
tubuh mulus Anna sehingga membuat Anna sampai orgasme tiga kali dan
pada orgasme yang keempat kenikmatan itu semakin lengkap dengan
disertai semburan dari tiga kemaluan laki-laki yang memenuhi di
setiap lubang yang dimilikinya, kemaluannya, lubang pantatnya dan
mulutnya. Ketiga laki-laki yang telah mendapatkan kenikmatan segera
digantikan dengan tiga orang laki-laki lainnya dan hal ini terus
dilakukan sampai semua laki-laki mendapatkan kepuasannya dan Anna pun
sudah tidak terhitung lagi berapa kali ia mendapatkan orgasmenya.
Setelah lebih kurang 3 jam para laki-laki itu menikmati Anna, mereka
pun kecapaian dan beristirahat. Anna pun kecapaian dan terkulai lemas
dengan perasaan nikmat yang tidak terlupakan.
berkaraoke baik beramai-ramai dengan teman-teman kami maupun hanya
kami berdua. Suatu hari saya diberitahu oleh teman saya bahwa ada
sebuah tempat karaoke di Kelapa Gading yang memutarkan lagu-lagu
karaoke dengan gambar-gambar wanita telanjang. Karena penasaran dan
ingin mengetahui lebih lanjut saya mengajak Anna untuk pergi
berkaraoke di tempat tersebut.
Saat malam minggu, sekitar jam 22.30 saya mengajak Anna untuk
berkaraoke di tempat tersebut dan Anna pun tidak keberatan,
sebelumnya saya telah memberitahukan Anna situasi dan keadaannya.
Sesampai di sana saya langsung membooking sebuah ruangan VIP, kami
terpaksa membooking ruangan untuk sepuluh orang karena ruangan itu
yang paling kecil. Lalu kami pun diantar oleh seorang wanita menuju
ke ruangan yang telah kami booking. Sesampainya di ruangan, wanita
tersebut menawarkan minuman dan makanan. Kami hanya memesan minuman
dan makanan kecil saja, kacang garing, karena baru sejam yang lalu
kami makan. Setelah menerima orderan, wanita tersebut langsung ke
luar. Sementara itu kami berdua mulai memilih lagu yang ingin kami
nyanyikan maupun hanya untuk didengar. Dua buah lagu telah selesai
kami nyanyikan dan pintu terbuka kembali dan masuklah wanita tadi
sambil membawa pesanan kami.
Setelah lama menunggu, kami merasa penasaran karena gambar-gambar
yang hot belum juga muncul di layar TV dan ternyata gambar-gambar hot
itu baru mulai muncul setelah jam 23.30 WIB. Melihat gambar-gambar
wanita telanjang itu membuat saya mulai tinggi nafsu seksnya. Saya
mulai merapatkan duduk saya dengan Anna dan mulai melingkarkan tangan
saya di pinggangnya. Anna rupanya peka akan perubahan keadaan yang
terjadi dan ia pun mulai menyandarkan tubuhnya ke dada saya sambil
terus bernyanyi. Saya sudah sulit berkonsentrasi dengan teks-teks
yang tertulis di layar TV, tangan saya pun mulai menjalankan tugasnya.
Pertama saya mulai meraba-raba punggungnya dan kemudian perlahan tapi
pasti tangan saya mulai berpindah ke bagian depan, tangan saya mulai
menyentuh gumpalan daging yang terbungkus rapi oleh BH berenda yang
agak tipis. Saya mulai meremas-remas ke dua gumpalan daging dengan
bernafsu, Anna mulai mengeluarkan desahan-desahan lembut yang
menggoda. Desahan Anna itu semakin membuat nafsu seks saya semakin
meningkat dan segera tangan saya menyelinap di balik kaosnya yang
ketat dan langsung saya lepaskan cantelan BH di punggungnya yang
mulus. “Kunci dulu pintunya sayang, entar kalo ada yang masuk
gimana,” kata Anna, bergegas aku menghampiri pintu dan mencari
kuncinya. Pintunya tidak berkunci, segera saya berputar otak. Sofa
yang ada di dekat pintu saya dorong hingga menempel dengan pintu,
lumayan pintu itu tidak dapat langsung terbuka karena terganjal oleh
sebuah sofa.
Langsung saya balik ke sofa tempat saya duduk semula dan mulai
melepaskan kaos dan beha yang dikenakan Anna. Kali ini Anna tidak
keberatan dengan tindakan saya malah membantu saya melepaskan kaos
yang dikenakannya. Begitu kaos dan BH itu terlepas saya melihat dua
buah gumpalan daging yang sangat menggemaskan, ukurannya tidak
terlalu besar tapi sangat proporsional dengan tubuh Anna yang
ramping. Walaupun sering melihat Anna telanjang bulat, akan tetapi
saya selalu terpesona jika melihat buah dada Anna yang indah dan
sekal itu. Tak kubiarkan diriku terpesona terlalu lama, langsung
kuraih buah dada Anna yang sudah menantang untuk diremas-remas dan
dihisap-hisap. Desahan halus kembali terdengar ketika tanganku mulai
meremas-remas buah dadanya dan disertai dengan hisapan maupun
jilatan. “Ahh… ahh… ahh…, nikmat, nikmat, teruskan sayang
jangan dilepaskan hisapannya,” Anna bergumam dengan penuh nafsu.
Melihat Anna yang sudah mulai tinggi nafsunya, segera tangan saya pun
berpindah ke paha. Tangan saya pun mulai menyusup di bawah rok
mininya dan mulai meraba-raba paha yang putih mulus, sampai tangan
saya meyentuh CD-nya yang juga berenda. Segera saya pelorotkan CD itu
dan tangan saya pun kembali bergerilya di pahanya sampai di sebuah
bukit kecil yang tandus, Anna baru saja mencukur habis bulu rambut
kemaluannya, sehingga saya dapat dengan leluasa menemukan celah di
bukit itu. Segera tangan saya mulai menyusup masuk ke dalam celah dan
mulai memainkan clitorisnya yang empuk dan legit. Tubuh Anna mulai
bergetar sambil terus mengeluarkan suara desahan-desahan nikmat,
ahh… ahh… ahh…, nikmat sayang, nikmat sekali, sambil disertai
dorongan pantat Anna. Saya pun semakin bernafsu untuk meremas-remas
kemaluannya.
Tiba-tiba Anna bangkit dari duduknya sambil berkata, “Mas mau lihat
saya menari striptease tidak?” Walaupun agak sedikit kaget karena
Anna tiba-tiba berdiri mendadak, segera aku menganggukkan kepala
pertanda setuju dengan usulnya. Anna pun kembali mengenakan seluruh
pakaiannya dan mulai memilih lagu yang akan menemaninya menari-nari.
Anna mulai berdiri di tengah-tengah ruangan dan ketika lagu mulai
dilantunkan, tubuh Anna mulai meliuk-liuk mengikuti irama lagu. Anna
meliuk-liukkan tubuh yang sintal dengan lemas dan menggairahkan, Anna
sesekali meremas-remas buah dadanya dan juga terkadang meraba-raba
kemaluannya sambil menjulurkan lidahnya. Satu lagu berlalu, Anna pun
mulai menanggalkan kaos dan BH-nya, sambil terus meliuk-liukkan
tubuhnya. Saya sebenarnya sudah tidak dapat menahan nafsu seks saya
lagi, apalagi melihat buah dada Anna bergoyang-goyang dengan
indahnya. Melihat saya yang mulai blingsatan karena nafsu, Anna
semakin hot meliuk-liukkan tubuhnya yang sintal dan tiba-tiba ia
melepaskan rok mininya terus melemparkannya ke saya. “Buka, buka,
buka CD-nya,” kataku. Mendengar teriakanku Anna semakin kerasukan dan
ia semakin bernafsu meliuk-liukkan badannya sambil terus
meremas-remas buah dadanya supaya saya semakin bernafsu.
Setelah puas melakukan gerakan-gerakan yang merangsang, Anna
membelakangiku dan mulai memelorotkan CD secara perlahan-lahan yang
semakin membuat nafsuku tidak tertahankan lagi. Segera saya tubruk
tubuhnya dan kuremas-remas buah dadanya dari belakang. Tanganku
dengan cepat menarik lepas CD-nya yang masih menempel di kakinya dan
tanganku langsung menyusup ke celah di bukitnya yang tandus. Anna pun
menjerit kenikmatan, “Aahh… ahh… ahh… nikmat, nikmat sekali
teruskan, teruskan ahh, ahh, ohh… Mas, Anna sudah tidak tahan nich
pingin ngerasain tusukan pedang Mas yang kuat dan perkasa,” katanya.
“Ok, Anna,” segera kulepaskan baju dan celana jeans yang kukenakan.
Tiba-tiba aku teringat bahwa aku membawa seutas tali dan penutup mata
yang akan kugunakan untuk mengikat tangan Anna dan juga menutupi
kedua matanya. Segera kusampaikan gagasanku itu sambil terus
merangsangnya dengan remasan-remasan di buah dadanya maupun di
kemaluannya. Anna mengangguk-angguk tanda ia menyetujui gagasanku
itu, segera aku mendudukkan tubuh Anna kembali di sofa dan saya pun
mulai mengikat kedua tangannya di sofa dan kemudian matanya pun
kututupi dengan selembar kain. Nafsuku benar-benar memuncak melihat
Anna yang dalam keadaan telanjang bulat, terikat dan tertutup
matanya. Melihat Anna yang sudah tidak berdaya dan pasrah, saya pun
langsung membuka CD yang kukenakan dan mengacunglah penis yang keras
dan gagah.
Ketika saya ingin mendekat ke tubuh Anna yang sedang duduk bersandar
dengan pasrahnya, tiba-tiba tubuh saya disergap dari belakang oleh
tiga laki-laki yang kekar dan langsung mulut saya dibekap dengan
sebuah gumpalan kain. Tubuh saya didudukkan di sofa berseberangan
(sofa di ruangan itu berbentuk huruf U) dengan tubuh telanjang Anna
dan tubuh saya pun diikat dengan kuat dan erat. “Sorry yach, gue
pinjem dulu wanita lu, lu nontonin aje kami bertiga menikmati tubuh
wanita lu, ok.”
Selesai membereskan aku hingga tak berdaya, ketiga laki-laki itu
mulai menghampiri tubuh Anna yang masih telanjang dan duduk bersandar
dengan pasrahnya menunggu untuk disetubuhi.
Melihat tubuh Anna yang telanjang bulat tanpa seutas benang, dengan
buah dadanya yang sekal dan menantang serta bukit kemaluannya yang
tandus telah membuat nafsu seks ketiga laki-laki itu meninggi. Mereka
pun lalu melakukan undian terlebih dahulu untuk menentukan siapa yang
berhak menikmati Anna terlebih dahulu. Ternyata yang menang adalah
laki-laki yang agak kekar dan berkulit gelap, ia tersenyum
menyeringai dan segera menghampiri Anna dan mulai meremas-remas buah
dadanya. Anna tidak menyadari bahwa yang meremas-remas buah dadanya
bukanlah saya lagi, Anna hanya mengeluarkan lenguhan-lenguhan nikmat,
“Ahh, ahh, ahh, nikmat, nikmat sayang terus, terus, hisap, hisap
sayang.” Mendengar permintaan Anna untuk menghisap buah dadanya,
langsung laki-laki itu menghisap-hisap buah dada Anna yang menantang.
Hisapan dan jilatan laki-laki itu semakin membuat Anna bernafsu,
terlihat dari tubuhnya yang mengejang-ngejang dan juga puting susunya
tampak menegang. Anna sudah tidak dapat lagi menahan nafsunya, “Ayo
sayang masukkan barangmu, cepat sayang, ahh, ahh, aah, aku sudah
tidak tahan lagi nich,” seru Anna. Permintaan Anna segera disambut
dengan tusukan kemaluan laki-laki itu yang berukuran cukup besar,
panjangnya sekitar 17 cm dan tebalnya sekitar 4 cm. Mulanya ujung
kemaluan laki-laki itu hanya menempel di kemaluan Anna dan perlahan
tapi pasti ia mulai menggoyangkan pantatnya sehingga kemaluannya
mulai menusuk ke dalam kemaluan Anna. Setelah yakin kemaluannya pada
arah yang benar, langsung laki-laki itu menghentakkan pantatnya
dengan keras sehingga amblaslah seluruh kemaluannya ke dalam kemaluan
Anna. Ahh… ah… ahh, ooohh, nikmat sayang, nikmat, ohh…
nikmatnya.” Desahan Anna semakin membuat laki-laki itu mempercepat
gerakan pantatnya sehingga juga semakin membuat Anna menjerit nikmat.
Melihat temannya sedang asyik menikmati tubuh telanjang Anna, membuat
kedua laki-laki yang lainnya menjadi tidak tahan juga. Mereka pun
akhirnya menghampiri dan mulai ikut menikmati tubuh Anna dengan
meremas-remas dan menjilati serta menghisap buah dada Anna. Karena
nafsu sexnya yang sudah memuncak, Anna tidak menyadari bahwa yang
menikmati tubuhnya tidak hanya satu orang melainkan tiga orang. Anna
hanya terus mengeluarkan suara desahan-desahan nikmat, sampai suatu
saat tubuh Anna tiba-tiba mengejang dengan kuat yang menandakan bahwa
ia telah mencapai puncak kenikmatan yang ternyata dibarengi oleh
tembakan dari kemaluan si laki-laki itu. Satu menit tubuh Anna
mengejang-ngejang dengan nikmat dan kemudian tubuh Anna pun mulai
melemas.
Setelah selesai menunaikan tugasnya laki-laki yang pertama pun
mencabut senjatanya dan duduk di sofa dengan tubuh berkeringat.
Laki-laki yang kedua pun mulai melakukan tugasnya dengan mulai
merangsang Anna lagi dengan jilatan-jilatan di buah dadanya dan juga
remasan-remasan di kemaluannya. Setelah beberapa lama Anna mulai
terangsang lagi dan mulai terdengar kembali suara desahan nikmatnya.
Tanpa membuang waktu, laki-laki yang kedua pun mulai menancapkan
kemaluannya di lubang kemaluan Anna. Walaupun ukurannya tidak sebesar
laki-laki yang pertama tapi karena lubang kemaluan Anna yang masih
sempit maka tetap saja Anna merasa nikmat dan mulai mendesah, “Ahh,
ah, ahh, ooh… nikmat, nikmat, ahh… ahh… nikmat sekali.”
Setelah beberapa menit laki-laki yang kedua tidak lagi dapat menahan
semburan lahar panas. Rupanya Anna belum mendapatkan orgasme yang
kedua sehingga cepat-cepat laki-laki yang ketiga menancapkan
kemaluannya ke lubang kemaluan Anna yang sudah basah oleh cairan dari
laki-laki yang kedua dan juga cairan dari kemaluan Anna sendiri.
Laki-laki yang ketiga pun langsung menggempur Anna dengan kecepatan
tinggi sehingga nafsu Anna kembali meninggi dan Anna pun kembali
mengeluarkan desahan, “Ahh, ahh, ough… terus, terus, makin cepat,
makin cepat, ahh… ooogh… nikmat, nikmat, nikmat, ahh…” Setelah
beberapa menit kemaluan Anna terus digempur akhirnya tubuh Anna
mengejang dengan keras sambil menjerit nikmat, “Aahh… ooogh…”
Anna telah mencapai klimaksnya yang kedua yang juga dibarengi dengan
semburan dari laki-laki yang ketiga.
Setelah ketiga laki-laki itu menikmati tubuh Anna, muncul niat mereka
untuk membagi kenikmatan itu dengan teman-teman mereka yang lain yang
ada di ruangan VIP yang lain. “Bagaimana kalo kita bawa wanita ini ke
tempat teman-teman kita dan kita nikmatin bersama-sama,” kata salah
satu dari laki-laki itu. “Setujuuu…” kedua laki-laki itu menyahuti
ajakan tersebut. “Steve, cepat ambil kamera di tempat anak-anak, kita
foto dulu nich wanita biar dia nanti nurutin kemauan kita,” segera
laki-laki yang bernama Steve mengenakan kembali pakaiannya dan
bergegas keluar dari ruangan. Tak lama kemudian laki-laki yang
bernama Steve itu pun sudah kembali dan menenteng sebuah kamera.
“Bangun manis,” kata laki-laki itu seraya melepaskan tutup mata yang
masih menempel di mata Anna. Rupanya Anna tertidur setelah merasakan
kenikmatan orgasme sebanyak dua kali. Tubuh Anna terlihat menggeliat
perlahan dan mulai membuka matanya. Ketika Anna membuka matanya,
betapa terkejutnya ia melihat ternyata ada tiga laki-laki yang tidak
ia kenal ada di samping tubuhnya yang telanjang. Tubuh Anna
meronta-ronta sambil berkata, “Lepaskan saya, lepaskan saya.” “Sabar
manis, kami akan melepaskan ikatan kamu setelah kami selesai membuat
foto tubuhmu yang telanjang.” Segera laki-laki itu memotret tubuh
telanjang Anna dari berbagai arah dan Anna pun tidak dapat berbuat
banyak untuk menutupi mukanya ataupun kemaluannya karena kedua
tangannya masih terikat di sofa.
Setelah laki-laki itu selesai membuat foto telanjang Anna segera ia
mengeluarkan film dari kamera dan mengantunginya. “Ok, manis kami
sudah selesai membuat foto telanjangmu jadi sekarang kamu nurut aja
sama kami atau kami cuci film ini dan kami sebarin ke temen-temen lu
dan juga orang tua lu!” Mendengar perkataan laki-laki itu Anna
tersadar bahwa ia tidak mempunyai pilihan lain selain menuruti
kemauan mereka atau film itu akan membuatnya malu di kemudian hari.
“Steve lepasin ikatannya.” Setelah ikatannya terlepas segera Anna
mencari pakaiannya, tapi ternyata pakaiannya sudah berada dalam
genggaman salah satu laki-laki itu. “Ini yang kamu cari manis,”
sambil laki-laki itu menunjukkan pakaian Anna. “Udech lu nggak usah
mikirin buat make pakaian lu lagi, kami semua justru pengen ngeliat
tubuh lu yang mulus itu tanpa sehelai benang pun. Ayo sekarang lu
ikut kami ke ruang yang lain.” kata salah satu laki-laki itu. “Eh,
gimana nich dengan pacarnya, mau kita biarin di sini atau kita ajak
aje kesebelah biar dia bisa ngeliatin kita semua nikmatin tubuh
wanitanya.” kata temannya yang lain. “Bawa aje sekalian, ntar kalo
ketauan ama pelayan di sini bisa berabe, jangan lupa bajunya juga
dibawa.”
Kami berdua pun digiring dalam keadaan telanjang bulat keluar dari
ruangan itu dan menuju ke sebuah ruangan lain yang ada di ujung.
Sesampai di ruangan itu ternyata di situ ada delapan orang laki-laki
yang sedang asyik berkaraoke sambil minum-minuman keras. “Hay
teman-teman, gue bawain oleh-oleh nich buat kita nikmati bersama-sama
sampe puas”, seraya laki-laki itu mendorong tubuh telanjang Anna ke
tengah-tengah ruangan. Melihat tubuh Anna yang telanjang bulat,
segera semua laki-laki itu berteriak-teriak kegirangan. “Wow, ok
bener nich oleh-oleh lu, dapat dari mana? Dan siapa tuch laki-laki
yang lu bawa?” tanya temannya. “Gue nemuin wanita ini di ruangan
karaoke lain dan ini laki-laki adalah pacarnya, tapi dia udeh
ngijinin kita untuk nikmatin tubuh wanitanya kok, iya khan?” seraya
laki-laki itu mendorong tubuhku ke lantai hingga aku pun terjerembab
di lantai. “Ok, teman-teman mari kita mulai pestanya jangan
buang-buang waktu lagi.”
“Eh, lu nari-nari dulu dech buat kami makin nafsu dan lu musti
memohon-mohon kepada kami semua supaya kami mau nikmatin tubuh lu,”
seru salah seorang laki-laki itu. Mendengar perintah itu Anna hanya
bisa pasrah dan mulai menggoyangkan tubuhnya yang putih mulus itu.
“Ayo narinya yang semangat donk, kayak tadi waktu lu nari buat laki
lu,” rupanya laki-laki itu sudah mengintip kami dari awal. Dengan
terpaksa Anna pun mulai menggoyang-goyangkan tubuhnya dengan lebih
bersemangat dan Anna pun berusaha menikmati keadaan itu. Lama
kelamaan pun Anna semakin hot menggoyangkan tubuh sambil
meremas-remas buah dadanya dan juga kemaluannya, sambil mengeluarkan
suara desahan, “Aahh, ahh, ayo nikmatin tubuh saya, ahh… ahh, ayo
siapa yang mau nikmatin saya, ayo silakan nikmatin tubuh saya, aahh,
ahh, jangan malu-malu.”
Melihat Anna yang menari-nari dengan hot, maka semua laki-laki itu
mulai melepaskan pakaiannya satu-persatu hingga telanjang bulat. Anna
sempat terkaget-kaget ketika melihat kemaluan laki-laki itu yang
sudah berdiri tegak semua dan sebagian besar berukuran besar, lebih
kurang 18 cm dan ketebalannya sekitar 4,5 cm. “Ayo manis silakan
pilih yang mana yang mau lu pake duluan,” sambil kesebelas laki-laki
itu merubungi tubuh telanjang Anna. Rupanya dikelilingi laki-laki
telanjang telah membuat sensasi lain bagi Anna, ia merasakan suatu
keinginan yang selama ini terpendam dalam dirinya, yaitu berhubungan
seks dengan beberapa orang laki-laki sekaligus dapat terwujudkan
walaupun keadaan ini sebenarnya tidak ia inginkan. Melihat kesebelas
penis mengacung di dekatnya seakan-akan meminta untuk dielus dan
diremas, maka Anna sengaja memainkan penis-penis itu sehingga membuat
para laki-laki itu semakin tidak dapat menahan nafsunya.
“Ayo cepetan pilihnya manis atau lu mau kita semua sekaligus
menikmati tubuh lu.” Anna hanya diam saja sambil ia memainkan dua
buah kemaluan yang ukurannya paling besar sehingga membuat kedua
laki-laki itu blingsatan keenakan, “Oohh… ohh… nikmat juga
remesan lu manis.” Tetapi hanya sebentar saja Anna memainkan kedua
kemaluan itu segera ia berpindah ke kemaluan yang lainnya lagi.
“Rupanya lu minta dikerjain sekaligus dengan beberapa laki-laki, ok
kalo itu maunya lu maka akan kami berikan manis.”
Anna pun disuruh berlutut dan menghisap kemaluan salah seorang
laki-laki dan setelah cukup basah maka Anna pun disuruh berjongkok di
atas kemaluan laki-laki yang berdiri tegak, dengan perlahan Anna
mulai memasukkan kemaluan itu ke dalam kemaluannya, dengan perlahan
tapi pasti kemaluan itu terbenam semuanya ke dalam kemaluan Anna yang
diiringi jeritan nikmat dari Anna, “Ahh… ahh… ahh.” Kemudian Anna
disuruh menumpukkan tubuhnya dengan kedua buah tangannya sehingga
pantat Anna agak menungging yang segera disambut dengan kemaluan yang
telah ia jilati, perlahan tapi pasti kemaluan itu menerobos masuk ke
lubang pantatnya, tubuh Anna mengejang karena lubang pantatnya terasa
nyeri dengan masuknya kemaluan itu, tiba-tiba laki-laki itu
menghentakkan dengan keras pantatnya sehingga seluruh kemaluannya
amblas ke dalam lubang pantat Anna, dan Anna pun menjerit antara
nikmat dan sakit.
Melihat mulut Anna yang terbuka lebar, seorang laki-laki yang tepat
berdiri di depan muka Anna langsung memasukkan kemaluannya ke dalam
mulut Anna sehingga Anna pun tersedak karena sekarang mulutnya
tersumpal dengan kemaluan. Selain itu dua orang laki-laki lain tidak
mau menyia-nyiakan buah dada Anna yang ranum dan sekal itu, segera
kedua laki-laki itu pun menjilati dan menghisap-hisap dengan penuh
nafsu.
Jadilah Anna dinikmati oleh lima orang sekaligus yang membuat Anna
tidak dapat menahan nikmat yang dirasakan, sakit yang dirasakan di
lubang pantatnya pun telah berubah menjadi kenikamtan yang tiada
taranya. Dengan penuh semangat kelima laki-laki itu pun menikmati
tubuh mulus Anna sehingga membuat Anna sampai orgasme tiga kali dan
pada orgasme yang keempat kenikmatan itu semakin lengkap dengan
disertai semburan dari tiga kemaluan laki-laki yang memenuhi di
setiap lubang yang dimilikinya, kemaluannya, lubang pantatnya dan
mulutnya. Ketiga laki-laki yang telah mendapatkan kenikmatan segera
digantikan dengan tiga orang laki-laki lainnya dan hal ini terus
dilakukan sampai semua laki-laki mendapatkan kepuasannya dan Anna pun
sudah tidak terhitung lagi berapa kali ia mendapatkan orgasmenya.
Setelah lebih kurang 3 jam para laki-laki itu menikmati Anna, mereka
pun kecapaian dan beristirahat. Anna pun kecapaian dan terkulai lemas
dengan perasaan nikmat yang tidak terlupakan.
Derita Afni (cerita dewasa)
Hari Minggu pagi jam 6:00 terdengar suara meraung-raung sirene sebuah kendaraan. Sebuah mobil ambulans keluar dari sebuah pertokoan di wilayah Ciledug yang sedang dalam tahap pembangunan. Sesaat kemudian mobil polisi mengikuti di belakangnya. Minggu pagi itu beberapa pekerja bangunan baru saja menemukan sesosok wanita muda yang tergolek pingsan di lantai empat pertokoan yang sedang dibangun itu.
Tubuhnya ditemukan dalam keadaan telanjang dengan noda-noda darah setengah mengering di wilayah selangkangannya. Jelas dari kondisi seperti itu wanita tersebut pasti adalah korban pemerkosaan. Setengah jam kemudian ambulans telah tiba di rumah sakit. Nampak beberapa orang perawat UGD menyiapkan tempat tidur dorong untuk membawa si korban. Selanjutnya empat orang membopong sesosok tubuh wanita yang berselimut dari dalam mobil ambulans. Wanita muda itu tampak masih pingsan. Dari rona wajahnya wanita itu kira-kira berusia 24 tahunan dan tingginya semampai sekitar 150 cm. Warna kulitnya tangannya sawo matang khas orang Indonesia tetapi di bagian pundaknya dan sebagian dada atas yang tidak tertutup selimut warnanya cenderung lebih terang sebagaimana halnya wajahnya yang tetap tidak dapat menyembunyikan kemanisannya meski dia berada dalam keadaan pingsan. Besar kemungkinan warna kulit tangannya yang cenderung coklat itu akibat pemaparan terhadap sinar matahari. Mungkin wanita pingsan itu sehari-harinya suka mengenakan baju lengan pendek atau bahkan lengan buntung. Tidak lama kemudian wanita pingsan tersebut telah dibawa sampai di sebuah ruangan yang tidak ada seorang pasienpun. Mungkin itu adalah ruang VIP atau ruang periksa khusus. Tidak lama kemudian seorang dokter pria datang ke ruangan itu.
“Bagaimana keadaannya…” dokter bertanya kepada suster yang menjaga wanita pingsan itu.
“Masih pingsan dok….Dia mengalami pendarahan….” Suster menjawab.
Dokter itu kemudian menyibak selimut yang menutupi wanita itu dan melihat kondisi tubuhnya yang telanjang bulat. Kemudian dokter tersebut memerintahkan dua orang suster untuk memasang kait penggantung kaki yang terdapat pada sisi kanan dan kiri tempat tidur. Kait yang terbuat dari bahan elastis itu dipasang pada pertemuan antara betis dengan paha. Dengan demikian pantat wanita pingsan itu menjadi sedikit terangkat dan kedua kakinya menjadi terbuka lebar sehingga terlihat jelas alat kelamin dan anusnya. Metoda itu adalah yang biasa dilakukan oleh para dokter untuk melakukan pemeriksaan kemaluan wanita. Dengan bantuan cahaya sinar halogen dokter mulai memeriksa seputar alat kelamin wanita itu. Ada sedikit darah yang masih mengalir dari liang kehormatannya. Tampak sekali memar di daerah labium mayora vaginanya sehingga terjadi pembengkakan di wilayah itu. Dari kondisi itu jelas bahwa pelaku pemerkosaan pasti lebih dari satu orang. Vagina yang membengkak itu memperlihatkan goresan-goresan yang menandakan bahwa telah terjadi luka-luka lecet pada alat kelamin wanita itu. Selanjutnya dokter memerintahkan salah seorang suster untuk mengambil alat pemeriksa vagina. Alat berbentuk seperti moncong bebek yang terbuat dari logam itu dimasukkan secara perlahan ke dalam vagina wanita itu. Tidak dalam mungkin hanya sekitar 1 sampai 1,5 cm. Setelah itu terdengar bunyi klik dan moncong bebek itu bergerak membuka vagina wanita pingsan tersebut. Bagian dalam vaginanya segera dengan mudah terlihat. Nampak sekali selaput tipis didalamnya yang bentuknya sudah tidak beraturan. Terdapat sobekan ke segala arah yang menandakan bahwa selaput dara wanita itu telah koyak. Adanya sedikit darah yang mengalir dari sela-sela selaput yang terkoyak itu menunjukkan bahwa peristiwa robeknya selaput dara masih belum lama terjadi. Dipastikan bahwa peristiwa perkosaan itulah yang telah merenggut keperawanannya. Setelah mengamati dengan seksama alat kelamin wanita itu kini dokter beralih ke anus wanita pingsan tersebut yang juga nampak memar. Terdapat benjolan di sekitar anus yang cukup besar sehingga hampir bersinggungan dengan wilayah vaginanya. Terlihat noda darah yang mengering di mulut anus wanita itu. Berarti pelaku perkosaan tidak hanya melakukan perudungan seks vaginal tetapi juga anal. Setelah membuat catatan-catatan untuk kepentingan pembuatan visum dokter segera memerintahkan suster untuk melepas kait penahan kaki. Kemudian dokter mengambil sebuah suntikan serta sebotol kecil cairan warna oranye dari dalam saku baju putihnya. Dokter membuka penutup jarum suntik dan memasukkannya ke dalam botol kecil berisi cairan oranye tersebut melalui tutupnya yang terbuat dari karet. Sekitar 5 mL cairan disedot oleh alat suntik itu. Selanjut dokter meminta suster untuk memiringkan tubuh wanita pingsan tersebut. Dokter akan menyuntikkan obat pencegah kehamilan melalui bokong wanita pingsan itu. Setelah menggosok wilayah bokong wanita itu yang akan disuntik dengan kapas beralkohol, jarum segera ditancapkan setengahnya ke bokong wanita tersebut. Tidak ada respon yang terlihat. Cairan oranye itu dengan lancar bergerak masuk ke tubuh wanita pingsan itu melalui bokongnya. Tidak lama kemudian seluruh cairan telah disuntikkan ke tubuh wanita itu dan dokter segera pergi meninggalkan ruangan.
Pukul delapan pagi menunjukkan tanda-tanda bahwa wanita pingsan itu mulai siuman.
“Aakkkhhhh…….aaddddduhhhhh………….aadduuhhhhhhhh hhhh”
Wanita itu rupanya mulai merasakan nyeri di vagina dan anusnya akibat perbuatan biadab orang-orang terhadap tubuhnya. Suster yang menjaga di ruangan itu segera mendekati wanita yang mulai siuman tersebut.
“ddiiiii…..ddiimanna…..aakuu…….” Suara wanita itu masih bergetar.
“Tenang..mbak aman di sini…..Ini adalah rumah sakit…..” Suster menjawab.
Wanita yang siuman itu kini menyadari tubuhnya yang telanjang di bawah selimut. Seketika ia teringat kejadian semalam yang menyebabkan kehormatannya terenggut paksa. Seketika itu pula jerit histerisnya mulai keluar
“Aaaaaa………..ttiiiiiddaakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk……………… ………….”
Wanita itu mulai menangis meraung. Suster berusaha untuk menenangkan wanita muda itu. Tetapi gerakan wanita yang mulai liar itu membuatnya kewalahan. Rupanya perasaan shock yang mendera wanita muda itu menyebabkan ia berperilaku liar seperti itu. Jerit tangisnya melengking tinggi memenuhi ruangan berukuran 6m x 6m itu. Akhirnya suster menekan bel untuk meminta pertolongan perawat lain. Tidak lama kemudian beberapa orang suster datang ke tempat. Tidak ada cara lain kecuali memberikan obat penenang agar wanita itu tidak berlaku semakin liar. Dua orang suster memegang tangan wanita itu dan tubuhnya dibuat tengkurap.
“Ttttiidaaakkkkk…..llleeepassssssssssskaannnn…………… .” wanita itu terus menjerit.
Dengan cepat suster menyuntikkan obat penenang melalui bokong wanita itu dan lambat laun suara teriakan wanita itu mulai melemah. Suster melepas pegangan tangannya dan mengembalikan wanita itu ke posisi berbaring. Terlihat mata wanita itu yang sayu serta air mata yang telah meleleh keluar. Suster di ruangan itu tidak tega melihat kondisi wanita itu. Sebagai sesama perempuan mereka dapat merasakan betapa sakitnya kehilangan harga diri akibat diperkosa. Obat penenang itu akan bekerja selama 3 jam.
Pukul 12 siang tiga orang polwan masuk ke ruangan dimana wanita itu dirawat. Wanita korban pemerkosaan itu sudah mulai sadar dan mulai sanggup menguasai keadaannya.
“Nama anda adalah Afni ?……” Seorang polwan membuka pembicaraan.
Wanita itu mengangguk lemah.
“Anda berprofesi sebagai desainer busana…..? ” Polwan itu melanjutkan pertanyaan.
Kembali wanita itu mengangguk lemah.
“Kami memperoleh kartu identitas saudari dari mobil xenia yang anda kendarai. Anda tinggal di wilayah Jakarta Timur. Apakah anda tinggal bersama keluarga…?”
Wanita itu kini menggeleng.
“Anda tinggal di kontrakan…..”
Kini wanita itu mengangguk lagi.
“Apakah anda bisa menceritakan kronologis kejadian yang menimpa diri anda?”
Kali ini wanita bernama Afni itu hanya terdiam. Bibirnya nampak bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca menandakan ada kepedihan yang mendalam dalam lubuk hatinya. Keadaan menjadi hening selama beberapa saat. Sekitar 3 menit kemudian perkataan mulai keluar dari mulut Afni. Meski menyakitkan dia mulai memutar kembali memori yang mengisahkan rusaknya masa depannya sebagai seorang wanita.
FLASHBACK
Sabtu pukul 3 sore itu Afni berada di Pasar Senin. Hari itu dia bermaksud membatalkan pesanan sejumlah kaos yang akan dia desain atas pesanan salah satu instansi pemerintah di Jawa Barat. Kualitas kaos yang tidak sesuai dengan kesepakatan menyebabkan Afni memutuskan untuk mencari supplier lain yang lebih dapat dipercaya dan bertanggung jawab.
“Pokoknya pak saya tidak jadi ambil kaos seperti ini…………….” Afni berucap dengan nada seperti orang berdebat
“Tetapi kaos itu kan sesuai dengan pesanan…..”
“Warnanya sesuai…..ukurannya juga sesuai…Apalagi……”
Terdengar suara berat laki-laki memprotes ucapan Afni.
“Bahan kain ini tidak sesuai dengan yang sudah kita sepakati…” Afni menyanggah pernyataan laki-laki itu.
“Bahan seperti ini tidak mungkin bisa untuk didesain seperti yang customer saya menghendaki..?” Afni melanjutkan perkataan.
“Barang yang neng mau itu harganya sudah naik…jadi tidak bisa dengan harga yang neng tawarkan kemarin…kecuali kalau jumlah kaosnya dikurangi…” Laki-laki itu begitu saja menjawab kekesalan Afni.
“Lantas kenapa kemarin tawaran saya bapak terima…” Afni kini menjawab dengan kesal.
“Lantas neng maunya apa……” Laki-laki itu mulai sewot juga.
“Saya mau uang saya kembali seluruhnya….pesanan dibatalkan…” Afni menjawab dengan nada yang tidak kalah sewotnya.
“Tidak bisa kami sudah menyerahkan uang pesanan ke supplier kaos itu” kembali laki-laki itu menjawab.
“Saya enggak mau tahu pak. Pokoknya pesanan batal dan uang saya kembali…” Afni tetap bersikukuh.
“Kalo begitu silakan aja neng datang ke tempat supplier kaos itu” Kini dengan enteng laki-laki itu menjawab.
“Itu bukan urusan saya. Silakan bapak berurusan dengan supplier itu dan sekarang juga bapak serahkan uang yang saya berikan minggu lalu” Afni terus ngotot.
“Ok. Saya tidak ada uang sekarang. Bila neng mau uang itu kembali hari ini saya antar neng ke tempat supplier itu di Ciledug” Laki-laki itu kini tidak dapat lagi menahan kekesalannya.
“Ciledug….? Saya tidak ada waktu sekarang” Afni berucap.
“Tidak ada waktu sekarang tidak ada juga uang sekarang” laki-laki itu kini berkata dengan nada melunak.
Afni berpikir cepat. Hari ini masih pukul setengah empat sore. Perlu waktu satu jam setengah untuk dapat mencapai Ciledug bila dia dapat menghindar dari kemacetan. Tapi hari ini dia butuh uang itu untuk memesan kaos di tempat lain yang lebih dapat dipercaya. Akhirnya dia mengambil keputusan menyetujui untuk pergi ke Ciledug.
“Baiklah kalau begitu. Antarkan saya ke tempat supplier kaos itu” Afni memberikan keputusannya.
“Hei Tigor bilang pada yang laen saya akan ke Ciledug” Laki-laki itu berkata kepada anak buahnya.
“Beres bang Bingsar”
Segera laki-laki bernama Tigor itu pergi meninggalkan Afni dan laki-laki yang ternyata bernama Bingsar.
“Ayo kita berangkat” Bingsar berkata
“Ayo” Dengan segera Afni menimpali.
Keduanya segera menuju kendaraan masing-masing.
“Tunggu saya di depan pintu keluar parkiran, saya pakai colt diesel” Bingsar berkata lagi.
“Baik, saya pakai mobil xenia warna kuning” Afni menjawab.
Sepuluh menit kemudian Afni sudah berada di depan pintu keluar area parkir Pasar Senin. Masih belum nampak tanda-tanda mobil Bingsar keluar. Sekitar 5 menit kemudian keluar mobil colt diesel warna biru muda. Nampak Bingsar mengeluarkan tangannya memberikan kode kepada Afni untuk mengikutinya. Afni sempat melihat Bingsar tidak sendirian dalam mobil itu. Setidaknya ada 4 orang dalam mobil colt diesel itu yang sempat dilihat oleh Afni. Tapi Afni tidak ingin memusingkan hal itu. Tujuannya hanya satu cepat sampai di Ciledug dan mengambil kembali uang yang telah ia berikan kepada Bingsar.
Pukul 5:30 sore kedua mobil itu tiba ditempat yang dituju. Berarti perjalanan ke Ciledung telah mereka tempuh selama dua jam. Afni sedikit merasa aneh karena tempat yang mereka tuju adalah pertokoan yang sedang dibangun dan tidak ada tanda-tanda bahwa toko itu sudah dioperasikan. Rupanya Bingsar melihat gelagat itu.
“Supplier ku itu namanya Daeng. Dia telah booking salah satu ruko yang sudah jadi. Ada di sebelah sana” Bingsar menunjuk ke arah bangunan lantai empat yang nampak lebih rapi dari lainnya. Lokasinya lebih menjorok ke dalam. Ada sedikit rasa was-was dalam hati Afni. Tetapi melihat masih ada sinar matahari pada hari itu dia merasa sedikit nyaman. Bingsar mengajak Afni ke sana . Mereka berjalan melewati pelataran parkir yang belum diaspal. Ada sebuah mobil jeep land rover terpakir disana. Afni menjadi bertambah lega karena berarti memang ada orang lain di wilayah bangunan tersebut. Di belakang ada 3 orang mengikuti mereka. Mereka adalah orang-orang yang tadi berada satu mobil dengan Bingsar. Afni berfikir pastilah mereka hanya pembantu-pembantu Bingsar. Melihat bentuk badannya mereka lebih layak disebut sebagai preman. Dua orang yang mengenakan oblong tanpa lengan terdapat tato di lengannya. Masing-masing berbentuk seekor ular dan bunga mawar. Satu orang lainnya adalah Tigor juga punya tampang preman meski tidak ada tanda-tanda tato di lengannya. Afni sedikit merasa takut dengan keadaan itu tetapi keinginan untuk segera mendapatkan uangnya kembali mengalahkan segalanya.
“Ayo kita naik ke atas” Bingsar membuyarkan lamunan Afni.
Afni sedikit ragu melihat jalan yang dimaksud Bingsar harus melewati sebuah lorong yang terlihat agak gelap.
“Ayo cepat kita ke lantai empat sebelum hari gelap”
Bingsar berkata sambil berjalan mendahului. Afni segera mengikuti arah Bingsar di belakangnya. Afni melihat bangunan-bangunan yang masih belum selesai dan banyak potongan-potongan kayu berserakan. Hanya butuh sekitar 8 menit mereka sudah tiba di lantai empat. Bangunan dilantai itu terlihat lebih rapi daripada yang sebelumnya mereka lewati. Bingsar segera menuju ke arah rolling door yang terbuka. Ruangan didalamnya diterangi oleh lampu yang tenaganya diperoleh dari mesin generator listrik berukuran kecil.
“Halo kawan kita sudah datang” Bingsar berucap sambil berjalan masuk melewati pintu itu.
“Ayo neng ikut masuk” Bingsar memanggil Afni yang berjalan di belakangnya.
Tidak lama muncullah Afni di depan pintu terbuka ruangan itu.
“Silakan masuk” orang yang ada dalam ruangan itu menyilakan Afni untuk masuk. Ukurannya cukup luas sekitar 12 m x 8 m. Rupanya ruangan itu belum dipasang sekat sehingga terlihat sangat luas.
“Saya Daeng” orang itu memperkenalkan diri dengan mengulurkan tangan.
“Afni” jawab gadis itu dan tangannyapun terulur menerima jabat tangan Daeng.
“Itu di sana kawan saya yang pakai kaos loreng merah namanya Cokro sedangkan satunya lagi Darto”. Kedua nama yang disebut Daeng tadi mengangkat tangannya tanda perkenalan.
“Ok. Bingsar apa yang bisa saya lakukan” Daeng mulai bicara pada pokok persoalan. Bingsar bercerita seluruhnya yang dibenarkan oleh Afni.
“Tetapi mbak Afni pesanan tidak boleh dibatalkan. Kaos sudah terlanjur dibuat. Kami akan rugi dengan pembatalan itu” Daeng berkata.
Tetapi Afni tetap tidak mau menerima kualitas bahan itu hingga Daeng mulai terlihat kesal.
“Ok kalo begitu tunggu di sini akan saya kembalikan uang anda” Daeng berkata.
Setelah itu dia pergi menuju rolling door yang terbuka dan menghilang dalam lorong. Tidak sampai satu menit Daeng telah masuk kembali kali ini bersama Tigor dan dua rekannya. Daeng segera menutup rolling door. Afni sangat terkejut dengan tindakan Daeng itu.
“Mmmee mmmeengapa pintunya ditutup pak…..” Suara Afni seperti tersumbat dalam kerongkongan.
“Tidak apa-apa karena saya akan mengembalikan uangmu tanpa ada orang lain yang melihat…..” Daeng menjawab.
Afni sedikit lega mendengarnnya.
“Tapi ada satu syarat yang harus kau penuhi….” Daeng kembali berkata
“Apa itu…” Afni bertanya kepadanya.
Daeng hanya tersenyum dan tidak menjawab. Matanya terus memperhatikan Afni terutama lekuk tubuhnya yang ramping itu tampak menarik baginya. Dengan menggunakan celana ukuran 3/4 itu semakin menunjukkan kemolekan tubuh Afni terutama sekali bagian bokongnya. Dadanya memang tidak terlalu besar. Mungkin hanya 34A atau B saja. Tetapi yang pasti postur tubuhnya memang menunjukkan kesintalannya yang tidak dapat dipungkiri dari bentuk lengannya yang saat itu menggunakan baju tanpa lengan.
Afni yang diperhatikan begitu rupa merasa risih dengan tatapan itu.
“Apa syaratnya pak….” Kembali Afni berkata.
Daeng seketika buyar lamunan joroknya dan sedikit tergagap dia menjawab
“ehh anu…..eh…..itu….” Daeng menjawab begitu rupa sehingga nampak bahwa saat itu dia telah dirasuki unsur birahi.
“Aku ingin kau melayaniku………” Daeng berkata sedikit lebih tegas setelah berhasil menguasai dirinya kembali.
“Apa…..bapak jangan kurang ajar ya…” Afni nampak tersinggung dengan perkataan Daeng.
“Cepat berikan uang itu kepada saya…” Afni berkata dengan ketus berusaha menegarkan diri meskipun kini detak jantungnya mulai cepat.
“Baiklah…Darto Cokro kalian tahu apa yang harus dilakukan” Daeng berujar
“Beres boss” serentak Cokro dan Darto bergerak mendekati Afni dari belakang. Demikian juga lima orang pria lainnya mendekati Afni. Afni mulai kelihatan panik.
“Aaapppaaa…aaapaaaa… mmaauuu kkkalaliiiiaannnn ssseeebeennnaarrrrnyaaa??” Suara Afni bergetar.
“He he he…..kami hanya pengen merasakan itu….yang ada di balik celanamu….” Tiba-tiba Bingsar berkata seperti itu yang disambut dengan tertawa oleh yang lainnya. Kini rasa panik benar-benar melanda Afni
“Tttttiiddaaakkkkkkk…….aaaakuuuuuuu…tttiiidaaakkk. .mmmaauuu” Suara Afni semakin serak pertanda dia mulai ketakutan.
Dari arah belakang Darto tiba-tiba memeluk Afni. Secara refleks Afni meronta melepaskan diri
“Bbbaaaaajjiiangaaannnn…llllepassssakaaann!!! !!!!”
Ketika berhasil melepaskan diri dari dekapan Darto segera Afni membalikkan tubuhnya dan “Plakkkk!!!!!”. Afni mendaratkan tamparan ke pipi Darto. Darto sama sekali tidak menyangka akan mendapat tamparan itu yang membuatnya sedikit tertegun selama beberapa detik. Kemudian tangan kirinya mengelus pipinya yang mendapat tamparan dari Afni.
“Binal juga cewek ini…..” Darto berkata.
“Kalo binal pasti enak goyangannya…….” Tigor menimpali ucapan Darto.
Afni merasakan gelagat yang tidak baik. Tanpa basa basi dia segera berjalan setengah berlari menuju rolling door yang ditutup oleh Daeng. Ketujuh laki-laki dalam ruangan itu membiarkan saja apa yang dilakukan oleh Afni. Ternyata pintu itu terkunci. Tidak ada jalan keluar selain pintu itu. Daeng membawa kunci rolling door itu.
“Tolong pak buka pintunya….Ambil saja uang saya. Biarkan saya pergi” Afni menghiba.
“Tentu kami akan membiarkanmu pergi tetapi dengan syarat itu tadi…” Daeng menjawab permohonan Afni
“Tttttiidaakkkkkkkkkk…….” Afni mulai menjerit setengah menangis.
“Ayolah manis kami akan memberikan kepuasan kepadamu……” Cokro mulai ikut-ikutan bicara.
“Iyalah…jangan takutlah… Mau diajak melayang ke sorga kok malah takut he he he….” Teman Tigor yang bertato ular itu nampak menyeringai. Matanya memerah. Berarti diapun sudah dikuasai oleh nafsu birahi.
“Iya ayolah cepetan deh dituntasin……udah gak kuat nih…” orang bertato mawar juga ikut berkata.
Afni mulai merasa lemas. Tujuh pria itu memang telah punya niat busuk untuk melakukan ruda paksa pada tubuhnya. “DIPERKOSA” adalah satu hal yang paling mengerikan bagi para wanita termasuk Afni. Selama ini dia hanya mendengar di televisi atau membaca di koran mengenai kasus pemerkosaan. Kini kejadian yang paling ditakutinya itu akan menimpa dirinya. Sekarang empat orang pria mulai mendekati dirinya. Tigor dan dua orang temannya yang bertato serta Cokro menuju kearahnya,
“Ttttiiddaaakkkkk…….jjjajaanngaaannnn ppaakkkssaa ssaayaaaa” Afni terus menghiba dan berusaha beringsut ke tempat lain. Namun kemanapun dia menghindar tidak akan lepas dari kejaran pria-pria yang telah dirasuki hawa nafsu itu.
“Ttttidaaakkk……tttoooooooolonnngggggggggg” Afni berusaha menjerit sekerasnya. Namun di areal bangunan luas yang masih dalam proses penggarapan itu tak akan ada seorangpun yang akan mendengar jeritannya.
“Jjjaangannn…pppaaakkk..jjjjaanngaannnn mmembuattku tttakuttt..” Afni menghiba lagi.
“Tak perlu takut manis….. kau akan puas bersama kami……” Cokro berujar
“Iya bertujuh lagi….kau akan lemas puas dengan kejantanan kami ha ha ha……….”Orang yang bertato mawar mulai berujar mesum.
“Tttiiddaaakkk..jjaangann….ssssayyaa..tttiiddakk…. .mmmaauuuu…” Afni terus menghiba mengharap keempat orang itu tidak memaksanya. Namun tetap saja keempat orang itu terus menghampirinya. Afni sudah akan beringsut lagi tetapi nampaknya sulit bagi dirinya untuk menghindar dari keempat orang yang semakin dekat dengannya itu
“Ttiidakkkkk..lllleepasssskaaaannnnnnnnn…”
Afni menjerit ketika satu tangannya berhasil dicekal Cokro. Afni berusaha menarik tangannya lepas dari tarikan Cokro. Tetapi cengkraman Cokro pada pergelangan tangannya terlalu kuat. Afni bermaksud memberikan perlawanan dengan akan menampar wajah Cokro oleh salah satu tangannya yang masih bebas. Tetapi gerakannya itu kalah cepat dengan gerakan Tigor yang terlebih dahulu menangkap pergelangannya sebelum mendarat ke wajah Cokro.
“Bawa cewek binal itu ke matras” Darto rupanya masih kesal dengan tamparan Afni.
Kini Cokro dan Tigor menyeret Afni yang terus mencoba meronta untuk melepaskan diri menuju matras yang tebalnya sekitar 20 cm. Tampaknya matras double size itu memang sengaja ditempatkan di sana, mungkin buat tukang-tukang bangunan yang ingin beristirahat. Matras itu nampak sudah lusuh. Pasti sudah sejak lama matras itu ada di sana. Kini Tigor dan Cokro sudah mendekati matras itu. Afni semakin panik dan rontaannya semakin kuat. Gadis itu menyadari kalau tubuhnya akan direbahkan di atas matras lusuh itu untuk dinikmati beramai-ramai oleh 7 lelaki yang semuanya telah dirasuki nafsu birahi. Rasa takut untuk melakukan hubungan seks dengan cara dipaksa seperti itu semakin mendera jiwa Afni.
“Ttttiidaakkkkk…lleepassskaaaaannnnn….bbbbaaajjjii nngggaannnnnnnnn……” Afni meronta kuat dan memaki dengan keras di sela-sela nadanya yang sudah terdengar mulai menangis itu. Dua teman Tigor yang bertato itu mengerti kesulitan Cokro dan Tigor untuk menundukkan Afni. Segera orang yang bertato ular membantu mendekap tubuh Afni dari belakang sedangkan yang bertato mawar menangkap pergelangan kaki Afni. Kini tubuh Afni yang meronta-ronta dalam bopongan meraka tidak sanggup lagi untuk menolak direbahkan pada matras itu. Keempat orang yang memegang tubuh Afni itu segera menurunkannya ke atas matras dan masing-masing ambil bagian memegang tangan dan kaki Afni sehingga tubuhnya menjadi terlentang. Cokro dan Tigor menahan tangan Afni sedangkan dua orang yang bertato memegang kaki Afni. Sekarang Afni sudah tidak berdaya. Hanya tangisan keras yang sanggup ia lakukan. Kini Darto mendekati Afni yang tidak berdaya itu. Terlihat senyum nafsunya yang menyeringai. Jakunnya naik turun menahan gejolak birahinya. Gerakan Afni yang terus meronta itu menimbulkan sensasi erotis bagi Darto. Rasanya dia sudah tidak sabar lagi untuk melihat gundukan daging di balik celana dalam Afni yang sebentar lagi akan ditembusnya. Rupanya Darto mendapat kesempatan pertama untuk menikmati tubuh Afni. Kini Darto membuka baju kaos yang ia kenakan. Terlihat banyak bulu-bula dadanya. Dengan posturnya yang agak gendut itu menyebabkan Darto mirip gorilla bila bertelanjang dada. Nyali Afni semakin ciut. Teriakan menghibanya itu tidak seorangpun yang menghiraukan. Dan kini Darto telah berada di depan tubuhnya. Afni sudah sangat panik sekali.
“He he he non binal…..kini saya pengen merasakan kebinalan tubuhmu”
Darto berucap yang membuat Afni semakin menjadi ketakutan.
“Ttiidakkkk..jjaaannggannn…tttooloongg lleepaskannn saaya….” Afni menjerit
Tapi Darto tidak menjawab. Tiba-tiba saja dia langsung menindih Afni dan berusaha mencium leher gadis itu.
“Aaaaagghhhh…….ttiiidddakkkkkk…”
“Llleeepasskkaannnn…..bbaaangggssattttttttt…… …..”
Afni kini meronta jauh lebih kuat. Segala upaya dia lakukan untuk melepaskan diri dari tindihan Darto yang menggumulinya. Terasa sekali nafas Darto di lehernya yang mendengus-dengus. Nampak sekali kalo Darto sudah tinggi hasrat seksualnya. Darto mencium leher Afni yang kepalanya menggeleng ke kanan dan ke kiri. Lidah-lidah Darto menyusuri leher Afni dan sekali-kali melakukan gigitan di sana.
“Aaakkhhh…aaadduhhhh…bbbiiiiinnnaaattannnggggggg…. ”
Afni menjerit kesakitan ketika Darto melakukan gigitan-gigitan yang menimbulkan cupang di lehernya. Jijik sekali Afni merasakan tubuhnya disentuh oleh bajingan yang sedang menggumulinya. Tetapi hanya mengeluarkan airmata sajalah yang Afni sanggup lakukan.
Sekitar 5 menit Darto melakukan pemanasan dengan mencium leher Afni. Kini saatnya bagi dia dan 6 orang temannya untuk melihat aset tubuh Afni yang selama ini gadis itu rahasiakan. Tangan Darto mulai melepas kancing-kancing baju Afni yang tanpa lengan itu. Afni menjadi demikian paniknya
“Ttiidaakkkkk…jjjaaanngannnnnnnnnn…….” Afni kembali menjerit.
Darto melihat betapa bersihnya ketiak wanita yang kini sedang tidak berdaya itu. Pastilah Afni selalu rajin membersihkan wilayah itu sehingga tidak terlihat guratan-guratan kehitaman seperti yang banyak Darto lihat pada cewek-cewek lokalisasi di mana dia sering datang untuk melampiaskan hasrat seksualnya. Enam buah kancing penutup baju Afni kini terlolosi sudah. Dengan kedua tangannya Darto menyibak belahan baju Afni sehingga kini nampaklah BH warna hitam yang dikenakan gadis itu. Ternyata bagian tubuh Afni yang tertutupi baju itu mempunyai warna kulit yang lebih terang daripada warna kulit lengan tangannya atau kakinya. Bagian tubuh yang tertutupi itu terlihat lebih mulus. Meskipun Afni apabila mengenakan baju lengkap tidak menunjukkan bahwa ia mempunyai bagian-bagian tubuh yang ternyata mulus tetapi warna kulit coklat pada tubuhnya adalah daya tarik sendiri. Kulit tubuhnya yang mulus kecoklatan itu semulus milik Adjeng Inez seorang presenter The Scene X Models Lativi. Kini tangan Dartopun mulai merambah ke BH hitam yang Afni kenakan. Afni semakin ketakutan karena sebentar lagi gunung kembarnya akan menjadi tontonan laki-laki yang hasrat seksnya sudah tak terbendung lagi.
“Jjaanngaannnnn………..” Afni berteriak
Tetapi tangan Darto tidak berhenti untuk melepas kait BH hitam Afni yang ada di depan sehingga 15 detik kemudian tangan Darto telah menyibak BH itu ke kanan dan ke kiri.
“Aaaaaa…..bbaaanggggsssaaaatttttttttt…..” Afni berteriak dan menangis. Rasa malu mulai menyelimuti diri wanita itu.
Kini tampaklah dua gunung kembar berukuran 34B yang bergoyang-goyang akibat gerakan Afni yang meronta. Goyangan itu semakin membuat tubuh Afni terlihat erotis sehingga membuat melotot mata laki-laki yang ada di ruangan itu. Darto segera memegang kedua gunung kembar itu dengan kedua tangannya. Secara tiba-tiba kedua tangan Darto melakukan remasan pada payudara yang ada dalam cengkramannya itu.
“Aaaakkhhhhh….aaddduhhhhhh…..bbbbiiinnnaaaattaannn gggggg…”Afni melenguh kesakitan ketika Darto melakukan remasan kasar. Tetapi semua laki-laki yang ada di sana hanya tertawa menyaksikan apa yang diperbuat oleh Darto. Darto melakukan remasan-remasan dan memuntir-muntir puting susu Afni yang berwarna coklat kemerahan. Nampak bilur-bilur merah mulai bermunculan seputar payudara Afni akibat remasan Darto. Darto dapat merasakan kekenyalan kedua gunung kembar Afni. Tidak sabar Darto untuk segera menghisap kedua gunung kembar yang kenyal itu.
“Jjjaaangaaannnnnnnn……………”
Hanya itu yang Afni bisa lakukan ketika Darto mulai mengulum payudaranya. Mungkin sekitar 8 menit Darto bermain-main dengan payudara Afni. Darto terus mencium tubuh Afni bagian dada dan turun ke arah pusar. Dapat dirasakannya betapa halusnya kulit tubuh Afni. Ciumannya terus berelanjut sampai terhalang oleh celana 3/4 bagian atas yang Afni kenakan. Rupanya ciumannya telah mencapai batas pinggang. Dengan tetap melakukan ciuman di daerah antara pusar dan batas atas celana Afni tangan Darto berberilya mencari kancing celana Afni. Gadis yang menyadari bahwa tubuhnya akan ditelanjangi itu berusaha beringsut keras agar Darto tidak berhasil membuka kancing celananya. Namun Darto tetap saja berhasil menemukan kancing itu dan dengan hanya menggunakan satu tangan dia berhasil melolosinya. Dengan gerakan perlahan Darto mulai menurunkan resleting celana Afni.
“Oohhhhh..tttiidddaakkkk………”
“Jjjanangannn bbuukaaa cceelllaanaa ssaayaaa……” Afni terdengar menangis histeris.
Darto tetap tidak merespon apa yang dikatakan oleh Afni. Temannya yang lain hanya menonton Darto mempermainkan tubuh Afni sambil sesekali terlihat seringai nafsu seksual mereka. Akhirnya resleting celana itu sudah sampai pada ujung bagian bawah. Terlihat celana dalam Afni berwarna coklat muda. Kemudian sambil terus mencium bagian perut Afni tangan darto menyusup di balik celana dalam Afni.
“Aaaaaaa……jjjaaanggaannnnnnnnnnnnnnnnnnn……” Afni menjerit kuat.
Tangan Darto dapat merasakan bulu-bulu halus kemaluan Afni. Afni berusaha mengatupkan kedua kakinya yang dipegang oleh dua orang bertato itu. Tetapi pegangan terhadap kakinya terlalu kuat sehingga tanpa bisa dicegah tangan Darto yang menyusup di balik celana dalamnya itu telah menyentuh bagian tubuhnya yang sensitif.
“Tttttiddaakkk….bbaanngggsssaaatttttttttttttt ”
Darto menggesek-gesekkan jemarinya ke permukaan vagina Afni. Masih terasa kering yang menandakan bahwa pemanasan yang dilakukannya tidak membuat Afni terangsang. Malah rasa tertekan dan ketakutan akan diperkosa itu membuat hormon seksualitas Afni tidak berfungsi sama sekali. Hanya takut dan takut sajalah yang ada dalam jiwa Afni.
Selama lebih kurang 10 menit Darto bermain pemanasan. Kini sudah saatnya dia melihat apa yang ada di balik celana 3/4 Afni. Darto kini bangkit dengan mata memerah menahan gejolak nafsu.
“Dekatin kedua kakinya….” Hanya itu yang Darto katakan.
Kedua orang bertato itu mengerti maksudnya bahwa Darto akan segera benar-benar menelanjangi Afni. Dan benar saja Darto segera memegang ujung atas celana Afni dan dengan kekuatan penuh dia pelorotkan hingga betisnya.
“Jjaaangaannnn…….bbbbiinnaataangggggggggggg…… ” Afni mengumpat dalam tangisnya.
Kini celana dalam warna coklat itu terpampang jelas. Celana itu nampak agak tipis dan elastis sehingga melekat erat pada tubuh Afni menutupi bagian vitalnya yang selama ini gadis itu rahasiakan. Tipisnya celana dalam itu tidak dapat menyembunyikan bulu-bulu kemaluan Afni yang menerawang. Tetapi celana itu tidaklah lama di sana. Dua tangan Darto kini mulai beraksi dan sekali sentak robeklah celana dalam coklat yang Afni kenakan.
“Jjjaaangaannnn….bbbaaanggssattttttttttt..kkauuuuu ……..”
Celana dalam coklat yang robek itu tidak terlepas dari tubuh Afni. Rupanya hanya satu lingkarannya saja yang putus sedangkan yang satunya lagi masih melingkar di pahanya. Darto membiarkan saja celana dalam coklat yang robek itu dan melorotkannya ke bawah hingga ke tengah paha Afni. Kini bulu-bulu kemaluan Afni terlihat. Sungguh rapi bulu-bulu itu. Hal itu menunjukkan bahwa Afni adalah gadis yang memiliki perhatian terhadap keindahan tubuh. Semua laki-laki di ruangan itu menelan ludah melihat bulu-bulu kelamin Afni. Tubuhnya yang sawo matang terang itu semakin nampak menggairahkan. Darto mencoba menyingkap bagian pangkal paha Afni untuk melihat lebih jelas bentuk alat kelaminnya. Afni menjerit ketika kedua tangan Darto menyibak pangkal pahanya
“AAAAAAaaaaaa ……….jjjaangaannnnnnnnnnnnnnnnnnn…………………..”
Afni merasa semakin malu karena tatapan mata nafsu beberapa pria yang mencoba melongok ke arah bagian tubuhnya yang paling vital. Meski tidak nampak jelas karena kedua regangan kaki Afni terhalang oleh celana 3/4 yang masih ada di betisnya tetapi penyibakan pangkal pahanya oleh Darto dirasakannya pelecehan yang paling dalam. Nampaknya darto tidak cukup puas dengan hanya menyibak pangkal paha Afni. Dengan cepat dilolosinya celana 3/4 Afni dan tidak lupa pula celana dalam coklat mudanya yang sudah robek itu.
“Pentang kakinya lebar-lebar…..Gue pengen liat kaya apa punyanya…” Darto berkata kepada dua orang bertato yang memegang kaki Afni.
“Tttiddakkkk….jaanngaannnn…..”
Akhirnya kedua orang bertato itu membuat posisi kaki Afni menjadi mengangkang sehingga alat kelaminnya menjadi terbuka dan terlihat dengan jelas. Rontaan Afni untuk mencoba mengatupkan kedua pahanya tetap saja sia-sia. Darto mulai menyentuh bagian sensitif itu.
“Bbaajjingaaannnnnn….llleeepaaasskannnnnnnnnnnn..! !!!!!!!!!”
Tanpa mempedulikan teriakan Afni dengan menggunakan dua ibu jari Darto melebarkan vagina gadis itu sehingga tampaklah bagian dalamnya. Sesaat Darto mengosok-gogok klitoris vagina itu dengan ibu jarinya dan beberapa detik kemudia mengarahkan kepalanya ke selangkangan Afni
“AAAggggggghhhhhhrrrrrrrrrrrrrr……………………..” Afni menjerit.
Darto telah memulai serangan seksualnya dengan cara menjilat vagina Afni. Dapat dirasakannya aroma khas kemaluan milik perempuan. Afni sungguh malu sekali diperlakukan demikian. Lidah Darto yang menyusup-nyusup di belahan vaginanya terasa menyayat lubuk hatinya. Sungguh Afni merasa malu yang amat sangat karena alat kelamin yang selama ini ia tutupi dan dia rahasiakan kini sedang dijilat dan dipermainkan oleh lidah laki-laki yang menurutnya berperilaku seperti binatang dengan tatapan hasrat nafsu birahi beberapa kawannya yang nampak sekali ingin melakukan hal yang sama seperti yang saat ini sedang Darto lakukan. Mungkin dalam pikiran pria yang menonton Darto itu betapa licin dan nikmatnya rasa vagina Afni. Ada sekitar 7 menitan Darto mempermainkan alat kelamin Afni dengan lidahnya. Ketika dia rasa jilatannya telah cukup membasahi alat kelamin Afni yang hanya mampu mengeluarkan erangan dan lenguhan yang terdengar erotis sejak Darto mengawali serangan oralnya laki-laki itu segera beringsut dari selangkangan Afni dan dengan tidak sabar melucuti pakaiannya sendiri. Kini tubuh telanjang Darto memperlihatkan alat kejantanannya yang telah mencuat tegang. Ukuran penisnya yang lumayan besar itu cocok dengan tubuh Darto yang sedikit tambun. Segera laki-laki yang telah dikuasai hasrat nafsu birahi itu kembali mendekati Afni yang semakin meronta dengan kuat melihat bentuk penis Darto yang baginya sangat mengerikan itu. Terbayang olehnya sebentar lagi alat mengerikan itu akan memasuki dirinya….
“Tttttiiiiddaaaakkkk….jjjjjaaannngaannnnnn….. ”
Afni menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tidak rela kalau tubuhnya akan disetubuhi paksa oleh Darto. Tapi Darto yang seorang rentenir itu hanya menyeringai dengan tatapan mata penuh nafsu….
Kini pria itu telah memposisikan dirinya lagi diantara kedua paha Afni yang terpentang lebar dipegangi dengan erat oleh dua preman bertato itu. Sesaat Darto mengelus-elus paha bagian dalam Afni merasakan betapa lembutnya bagian itu. Meski berkulit tubuh coklat tetapi kemulusan tubuh Afni tetap dapat dia rasakan. Sungguh berbeda sekali dengan WTS murahan yang sering dia booking yang mana sudah warna kulitnya coklat kehitaman itupun banyak dihiasi oleh sisik-sisik putih sehingga sama sekali tidak dapat dikatakan halus apalagi mulus. Kini Darto bersiap melakukan penetrasi. Diarahkannya penisnya yang telah tegang itu ke lobang kenikmatan milik Afni.
“Jjjaangggannnn……jjjaanngggannnnnn….ppaakkkks aa saayyaaaaaaaaaa….”
Kini Afni berusaha mati-matian meronta mempertahankan kehormatannya. Gadis itu menggoyang pinggulnya ke kiri dan ke kanan berusaha menghindari penis Darto yang mencari jalan untuk menyelusup ke liang kenikmatannya.
Daeng dan Bingsar yang menonton Darto berusaha keras untuk menyetubuhi Afni tersenyum terkekeh memperhatikan perjuangan Darto. Memang benar Afni sungguh binal…..Tetapi tubuh yang binal sangatlah mengasyikan untuk dinikmati….Tubuh binal biasanya memberikan kepuasan birahi yang dahsyat……Itu yang berkecamuk dalam pikiran Daeng dan Bingsar.
Darto yang kesulitan untuk memasukkan penisnya ke dalam vagina Afni segera menahan kedua pinggul Afni dengan kedua tangannya sehingga Afni tidak dapat beringsut ke kanan dan ke kiri dengan leluasa. Dengan cara menggerakkan pinggulnya Darto berusaha memposisikan penisnya ke alat kelamin Afni. Kini dia telah menemukannya. Kepala penis itu telah dirasa bersentuhan dengan bibir vagina Afni.
“Jjjjaaangaaannnnnnnn……………….” Afni menjerit ketika kepala penis Darto telah menyentuh bibir kemaluannya dan dirasa mulai melesak ke liang senggamanya itu.
“Jjjangannn..llaaakuukkkaannn…jjjaangggannnnnnnnnn ” Afni terus menjerit menghiba.
Tetapi Darto sudah tidak sabar lagi untuk segera terbang ke nirwana kenikmatan. Dengan segenap tenaga dia mendorong pinggulnya dengan keras ke arah selangkangan Afni
“Tttttiidddaakkkkkk…aaaakkhhhhhhhhhhhhhhhh!!!!!!!! !!!!!!!!!!!!!!!!!!”
Afni menjerit keras dan melengking. Tubuhnya melengkung ke atas. Kepalanya menengadah ke belakang. Tampak matanya yang membelalak. Ia merasakan perih dan nyeri menyerang bagian selangkangannya. Beberapa detik kemudian tubuhnya yang mengejan itu kembali normal dan selanjutnya tubuhnya berguncang-guncang diselingi teriakan-teriakan kesakitannya
“Akkkkkhhh…..aaddduuhhhhhh….adduhhhhhhhhhhhhh …”
“Akkkhh……..aakkhhhhhhhhhh…..ssssaaakitttttttttttt…..”
“Pppeerriiiihhhhhhhhhhhhh………”
“Aakkhhhh..ttiitdaakkk……”
“AAaaaddddduuhhhhhhhhhhh…………”
Darto menyenggamai tubuh Afni dengan kasar. Dia memompa tubuh tidak berdaya itu dengan cepat dan meggebu-gebu. Mungkin laki-laki itu melampiaskan kekesalannya akibat tamparan Afni. Tetapi yang pasti 15 menit kemudian Darto mulai mengerang nikmat. Tampaknya Darto sedang naik menuju puncak kenikmatan. Kini Darto makin terengah-engah dan beberapa detik kemudian dia menggeram keras dengan kepala menengadah dan mata terpejam. Rupanya laki-laki itu telah mencapai klimaks dan memuntahkan lahar panasnya ke dalam tubuh Afni. Beberapa detik kemudian Darto mulai tampak meloyo dan segera mencabut penisnya dari dalam liang kenikmatan Afni. Tampak warna merah di batang penisnya. Demikian juga pada vagina Afni. Beberapa saat kemudian terlihat cairan putih kemerahan mengalir keluar dari liang senggama Afni. Sperma Darto yang keluar itu turun ke bawah membasahi anus Afni sebelum akhirnya menetes ke matras. Darto sungguh perkasa. Dia melakukan persetubuhan dengan Afni hampir selama 18 menit. Mungkin dia minum obat kuat sehingga bertahan selama itu.
Kini ganti Tigor berhasrat menyetubuhi Afni. Tangan Afni yang dilepas oleh Tigor kini dicengkeran oleh Cokro sehingga kedua tangan Afni kini ada dalam kekuasaannya. Tigor segera melepas celana jeans lusuhnya dan memposisikan dirinya di antara dua paha Afni. Dilihatnya vagina Afni yang masih meneteskan darah. Tetapi Tigor tidak peduli. Lelaki agak kurus dengan rambut gondrong itu ingin segera menyalurkan birahinya pada tubuh Afni yang sedang tidak berdaya dan hanya bisa menangis itu.
“Aaggghhhhrrrrrrrrr………………”
Kembali Afni menjerit tatkala penis Tigor memasuki tubuhnya. Tigor langsung memompa tubuh Afni dengan cepat. Sesekali dilihatnya wanita yang sedang diperkosanya itu menggelengkan kepala ke kanan dan ke kiri sambil sekali-sekali menggigit bibir bawahnya. Buah dadanya bergoyang ke sana ke mari memperlihatkan kekenyalannya seirama dengan sodokan-sodokannya. Mata wanita itu terpejam. Hanya erangan dan lenguhannya yang terdengar erotis itu semakin membuat birahinya terus memuncak. Tiba-tiba dia melihat Cokro yang semula berada di atas kepala Afni sedang memegangi kedua tangan wanita yang sedang diperkosanya itu beringsut ke dada Afni dan posisinya memunggunginya. Sesaat dirasakan olehnya tubuh Afni mengejan. Tigor tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Cokro dan dia tidak peduli. Tigor terus memompa dan memompa berpacu dengan hasrat birahinya untuk mencapai ke puncak kenikmatan. Satu yang dia rasakan berubah adalah erangan Afni yang kini seperti lenguhan tertahan. Sekitar 10 menitan diperlukan Tigor untuk dapat mengerang menyemprotkan cairan birahinya ke dalam tubuh Afni. Kini tubuh Tigor dengan senyuman kenikmatan itu mulai loyo dan batang penisnya mulai menyusut. Segera dikeluarkannya batang kejantanannya dari liang vagina Afni dan Tigor segera terlentang lemas di sisi matras. Mungkin laki-laki itu masih merasakan betapa nikmatnya tubuh Afni yang baru saja diperkosanya itu. Jepitan liang kenikmatan Afni sungguh luar biasa. Belum pernah Tigor melayang ke nirwana seperti ini. Sungguh beda dengan WTS kelas teri yang mangkal di pinggir jalan di mana Tigor sering jajan untuk menyalurkan hasratnya.
Kini ganti pria bertato mawar menggantikan posisi Tigor. Rupanya dia telah mengeluarkan batang penisnya dari balik resleting celana komprangnya. Penis kuli Pasar Senen itu nampak lebih besar dari milik Darto apalagi dibandingkan dengan milik Tigor. Pria bertato mawar itu tidak lagi mempedulikan darah yang mengalir dari vagina Afni yang telah membasahi matras. Dia tahu kalo wanita yang baru saja disetubuhi oleh dua orang itu mengalami pendarahan. Tapi keinginan untuk menyalurkan nafsu birahinya pada tubuh yang sekal itu jauh lebih kuat daripada rasa belas kasihannya. Dua kali erangan kenikmatan yang diteriakkan oleh Darto dan Tigor sudah cukup bagi pria bertato mawar itu membuktikan bahwa tubuh Afni memberikan kenikmatan yang betapa luar biasa. Tanpa menunggu lama segera dia menancapkan penis besarnya itu ke dalam liang vagina Afni. Dirasakannya tubuhAfni mengejan hebat namun tidak mengeluarkan suara lengkingan kesakitan sebagaimana saat Tigor memasuki tubuh wanita itu.
“Hhhheeggghhhhhrrrrhhhmmmmmmmmmmmmmmm………………………………..”
Hanya erangan tertahanlah yang dia dengar. Rupanya Cokro yang melakukan perkosaan oral telah menyumbat mulut Afni dengan batang penisnya. Penis Cokro memang tidak panjang. Tetapi diameternya yang cukup besar itu telah mampu untuk meredam suara erangan dan lenguhan erotis Afni. Tampak seluruh penisnya melesak masuk ke dalam mulut Afni. Tangan Cokro masih memegang erat kedua pergelangan tangan Afni di atas kepala wanita itu. Kini tampak tanda-tanda Cokro akan ejakulasi. Mata Cokro mulai terpejam merasakan hangatnya lidah Afni yang bersentuhan dengan penisnya. Gerakan ke luar masuk penisnya di mulut Afni semakin cepat. Akhirnya terburailah segalanya. Afni terlihat gelagapan dengan cairan kental yang menyemprot dari batang penis Cokro dalam mulutnya. Tetapi mulutnya tidak sanggup melepaskan diri dari batang penis laki-laki itu yang seluruhnya melesak masuk kedalamnya.
“Huuggkkkhhhhh…hhuuueekkhhhh…….” Afni nampak tersedak.
Untuk beberapa saat penis Cokro tetap tidak bergeming untuk keluar dari mulut Afni. Cokro masih ingin merasakan denyut-denyut kenikmatan yang menjalar di penisnya menuntaskan semprotan terakhir cairan sperma ke dalam mulut Afni. Sebagian cairan kental putih itu dengan terpaksa ditelan Afni agar rasa asin pahit itu segera sirna dari lidahnya. Akhirnya serangan oral itu selesailah sudah. Cokro telah mengeluarkan batang kejantanannya dari dalam mulut Afni. Masih nampak lendir sperma menempel pada batang penisnya yang mulai loyo itu. Tampak juga sisa sperma yang mengalir ke luar dari sela-sela bibir Afni menjalar ke bawah melewati pipinya yang halus itu.
Di wilayah selangkangannya pria bertato mawar itu masih terus memompa vaginanya. Afni kini hanya diam pasrah. Matanya yang sayu terus mengalirkan air mata menandakan kepedihan hatinya. Rasa sakit hilang harga dirinya jauh lebih besar daripada rasa sakit di seputar selangkangannya. Sebelas menit kemudian laki-laki itu ejakulasi di dalam vagina Afni. Cairan putih kental kemerahan menyusup keluar dari sela-sela pertemuan batang penis dengan dinding vagina. Segera dicabutnya batang penis miliknya dan beringsut dari tubuh Afni. Tampak vagina yang memar berdarah itu menganga untuk beberapa saat ketika pria bertato mawar itu mencaput batang kejantanannya. Kini vagina itu bentuknya tidak sempurna. Dua labium mayora-nya telah membengkak sehingga bibir vagina Afni tampak menggelembung. Disela-sela pertemuan dua daging yang menggelembung itu darah masih tampak mengalir. Mungkin pemerkosa ketiga yang menyetubuhinya itu makin memperparah bekas robekan selaput dara Afni.
“Gue pengen coba pantatnya………..”Tiba tiba pria bertato ular berkata.
Afni yang sedang lemas lunglai itu terkesiap mendengar ucapan pria bertato ular itu. Tubuhnya yang sedang lunglai itu dipaksakannya untuk bangkit. Gerakannnya itu menyebabkan nyeri dan perih di selangkangannya semakin menjadi-jadi. Tetapi rasa ketakutan yang amat sangat mendera jiwanya manakala pria bertato itu berhasrat dengan bokongnya yang juga sekal itu. Afni tahu benar bahwa pria bertato ular itu bermaksud melakukan sodomi padanya. Afni tidak mampu membayangkan betapa sakitnya bila pria bertato yang berpostur besar kekar itu melesakkan batang kejantanannya ke dalam saluran pembuangannya. Afni terus beringsut mundur ketika pria bertato itu mendekat. Dilihatnya pria itu mulai menurunkan resletingnya dan melorotkan celana jeans pendek lusuhnya ke lantai. Celana dalamnya juga segera dia turunkan dan nampaklah batang kejantanannya yang besar. Sama besar dengan milik pria bertato mawar. Afni langsung merasa lemas seluruh persendiannya.
“Jjjjaaangaannnn…….Jjjaannngaann……………..”
“Sssayyaaaa…..ttiiidakkkk…mmaauuu………….” Afni merintih dan menghiba.
Tetapi pria bertato ular itu dengan seringai nafsu birahinya tetap mendekati Afni.
“Tunggingin cewek binal ini……”
Pria bertato ular itu berkata pada teman-temannya yang sudah merasakan nikmatnya tubuh Afni. Tanpa diminta untuk kedua kalinya Darto, Cokro, Tigor dan pria bertato mawar itu menunjukkan rasa setia kawannya kepada temannya yang berhasrat mencicipi lobang kenikmatan alternatif milik Afni. Sedangkan baik Bingsar maupun Daeng hanya terkekeh melihat ketakutan yang diperlihatkan wajah Afni.
“Jjjaangaannnn…………tttiiddakkkkkkkkkkk….” Afni menjerit.
Tetapi tubuhnya yang lemah itu tidak sanggup lagi memberikan perlawanan berarti manaka empat orang pria menangkap tubuhnya kembali dan memaksanya untuk menungging. Darto dan Cokro memegang kedua pundak dan lengan kanan kiri Afni dan menekannya hingga ke matras. Dengan kondisi menungging seperti itu tidaklah mungkin bagi Afni cukup tenaga untuk bangkit. Sedangkan kedua kakinya hanya dipegang oleh pria bertato mawar. Tigor rupanya memilih memegang bongkahan pantat Afni dan menyibakkan bongkahan sekal itu sehingga anusnya menjadi terlihat dengan jelas. Lobang berwarna coklat kemerahan itulah yang akan menjadi sasaran kejantanan pria bertato ular itu.
“Bbbbinnnaaattaanng……llleeepasssskaannnnn!!!! !!” Afni menjerit lagi.
“Bbbiiaaddaabbbbb…..kkkkaaalliiaaannnnn………” Afni memaki.
Tigor hanya tersenyum dan tangannya tetap berupaya melebarkan bongkahan pantat Afni. Pria bertato ular itu memposisikan kakinya sedikit di belakang paha Afni yang menungging dan menapak pada sisi luar kanan dan kiri betis kaki wanita yang akan disodominya itu sehingga ia tetap berdiri. Kemudian ia menggosok-gosokkan batang penisnya ke bibir vagina Afni untuk membasahi batang kejantanannya dengan lendir yang masih tersisa di sana.
“Jjjaangaannn..lllaakkuukannn…..jjaangannnn….tttto olloonngggg” Afni mulai menangis keras lagi. Tiba-tiba terdengar lolongannya yang menyayat.
“AAAAkkkkkkhhhhhhhhh………………………..AAAAAkkkkkhhhhhhhhh hhhhhhh!!!!!”
Pria bertato ular itu secara tiba-tiba dan keras menancapkan batang kejantanannya ke bokong Afni. Tampak jelas anus Afni yang melesak ke dalam terdorong oleh penis besar pria bertato ular itu. Pria bertato ular itu masih memasukkan batang penisnya kira-kira 1/4 bagiannya dan bertahan beberapa saat lamanya. Mungkin ia sedang menikmati jepitan lobang dubur Afni yang baru dilesakinya itu. Kemudian dengan memegang pinggul Afni perlahan dia mulai penetrasi masuk lebih dalam lagi.
“AAAaaddduuhhh….AAAdduuuhhhh…..Sssssaakiitttt ……”
“SSSaaaaakkkiitttttttt……” Afni terus menjerit dan melolong.
Afni merasakan ngilu yang luar biasa ketika penis pria bertato ular itu melesaki liang anusnya. Kepala Afni berdenyut-denyut. Matanya terasa berkunang-kunang. Sungguh betapa luar biasa sakitnya seks anal itu bagi dirinya.
“AAAaaakkkhhhhh……hhheennttiikkkaaannnnn!!!!!” Jerit Afni meminta pria itu untuk tidak terus mendorong penisnya masuk lebih dalam lagi ke dalam liang duburnya. Pria bertato ular itu tetap tidak peduli hingga seluruh batang kejantanannya melesak masuk ke dalam anus Afni. Kemudian mulailah pria itu memompa ke atas dan ke bawah.
“AAAdddduuhhhhh……..AAAdduuhhhhhhhh….AAAkkkhhh hhhh”
“AAAdduhhhh..pppeeeriihhhhh…….Akkkkhhhh…”
“Sssaakkitt ssseekkkaaliiii….aaadduuhhhh…ssssakkittt”
Afni hanya mampu mengerang kesakitan. Tangannya meremas kain matras kuat-kuat berusaha menahan rasa ngilu yang luar biasa pada duburnya.
Sudah 15 menitan pria bertato ular itu menyodominya. Di sekitar lingkaran duburnya tampak buih-buih putih kemerahan. Lamanya sodomi itu ternyata selain menimbulkan busa juga menimbulkan luka lecet yang mengeluarkan darah akibat gesekan batang penis besar laki-laki itu dengan dinding saluran pengeluarannya. Menit ke-17 pria itu semakin cepat memompa dan sodokan-sodokannya semakin brutal. Sodokan brutal ini menyebabkan tubuh Afni berguncang ke depan dan ke belakang tetapi tetap tidak jatuh karena Cokro dan Darto memegang erat pundak dan lengannya.
Pria itu semakin brutal…
dan brutal……
Tiba-tiba tidak terdengar lagi suara Afni yang mengerang-erang kesakitan. Juga tidak terlihat lagi jemarinya mencengkeram erat kain matras. Pria bertato ular itu menyadari bahwa Afni telah pingsan akibat sodomi brutal yang dilakukannya. Tetapi itu tidak menyurutkan nafsunya untuk segera menggapai kenikmatan puncak. Dan akhirnya
“aaaaahhhhhhhhhhhhhhh……….” Pria bertato ular itu mengeluarkan suara menggeram pertanda dia sudah mencapai klimaks. Tidak lama kemudian dicabutnya batang penis miliknya yang baru saja dilesakkan ke dalam dubur Afni dalam-dalam hingga pangkalnya. Tampaklah noda darah melumuri batang penis itu bercampur dengan lendir sperma. Untuk beberapa saat lobang dubur Afni menganga lebar meski penis yang baru saja melesakinya telah dicabut. Besarnya batang kejantanan pria bertato ular itu mungkin mengurangi elastisitas dubur Afni sehingga tidak segera kembali menutup. Leleran darah keluar dari dubur yang menganganga itu membasahi vaginanya sebelum jatuh menetes di matras.
“Ayo kita cabut…..kita sudah memberi pelajaran padanya…” Daeng berkata.
Tampaknya Bingsar dan Daeng tidak berminat ikut menikmati tubuh Afni. Mungkin karena wanita itu sudah pingsan sehingga tidaklah nikmat bila tidak mendengar erangan kesakitannya yang erotis atau goyangan rontaannya yang binal itu. Atau mungkin juga karena dua lubang kenikmatan Afni itu telah melar dan berdarah-darah akibat perkosaan brutal yang dilakukan anak buahnya. Kini waktu telah menunjukkan pukul 11:40 larut malam. Gerombolan durjana itu meninggalkan tubuh Afni yang sedang pingsan di atas matras. Mereka tidak peduli dengan tubuh telanjang itu. Bagi mereka kenikmatan yang telah diberikan oleh tubuh telanjang yang pingsan itulah yang paling penting untuk mereka rasakan. Beberapa menit kemudian dua buah mobil keluar dari areal pembangunan pertokoan itu dan menghilang di kegelapan malam.
Tubuhnya ditemukan dalam keadaan telanjang dengan noda-noda darah setengah mengering di wilayah selangkangannya. Jelas dari kondisi seperti itu wanita tersebut pasti adalah korban pemerkosaan. Setengah jam kemudian ambulans telah tiba di rumah sakit. Nampak beberapa orang perawat UGD menyiapkan tempat tidur dorong untuk membawa si korban. Selanjutnya empat orang membopong sesosok tubuh wanita yang berselimut dari dalam mobil ambulans. Wanita muda itu tampak masih pingsan. Dari rona wajahnya wanita itu kira-kira berusia 24 tahunan dan tingginya semampai sekitar 150 cm. Warna kulitnya tangannya sawo matang khas orang Indonesia tetapi di bagian pundaknya dan sebagian dada atas yang tidak tertutup selimut warnanya cenderung lebih terang sebagaimana halnya wajahnya yang tetap tidak dapat menyembunyikan kemanisannya meski dia berada dalam keadaan pingsan. Besar kemungkinan warna kulit tangannya yang cenderung coklat itu akibat pemaparan terhadap sinar matahari. Mungkin wanita pingsan itu sehari-harinya suka mengenakan baju lengan pendek atau bahkan lengan buntung. Tidak lama kemudian wanita pingsan tersebut telah dibawa sampai di sebuah ruangan yang tidak ada seorang pasienpun. Mungkin itu adalah ruang VIP atau ruang periksa khusus. Tidak lama kemudian seorang dokter pria datang ke ruangan itu.
“Bagaimana keadaannya…” dokter bertanya kepada suster yang menjaga wanita pingsan itu.
“Masih pingsan dok….Dia mengalami pendarahan….” Suster menjawab.
Dokter itu kemudian menyibak selimut yang menutupi wanita itu dan melihat kondisi tubuhnya yang telanjang bulat. Kemudian dokter tersebut memerintahkan dua orang suster untuk memasang kait penggantung kaki yang terdapat pada sisi kanan dan kiri tempat tidur. Kait yang terbuat dari bahan elastis itu dipasang pada pertemuan antara betis dengan paha. Dengan demikian pantat wanita pingsan itu menjadi sedikit terangkat dan kedua kakinya menjadi terbuka lebar sehingga terlihat jelas alat kelamin dan anusnya. Metoda itu adalah yang biasa dilakukan oleh para dokter untuk melakukan pemeriksaan kemaluan wanita. Dengan bantuan cahaya sinar halogen dokter mulai memeriksa seputar alat kelamin wanita itu. Ada sedikit darah yang masih mengalir dari liang kehormatannya. Tampak sekali memar di daerah labium mayora vaginanya sehingga terjadi pembengkakan di wilayah itu. Dari kondisi itu jelas bahwa pelaku pemerkosaan pasti lebih dari satu orang. Vagina yang membengkak itu memperlihatkan goresan-goresan yang menandakan bahwa telah terjadi luka-luka lecet pada alat kelamin wanita itu. Selanjutnya dokter memerintahkan salah seorang suster untuk mengambil alat pemeriksa vagina. Alat berbentuk seperti moncong bebek yang terbuat dari logam itu dimasukkan secara perlahan ke dalam vagina wanita itu. Tidak dalam mungkin hanya sekitar 1 sampai 1,5 cm. Setelah itu terdengar bunyi klik dan moncong bebek itu bergerak membuka vagina wanita pingsan tersebut. Bagian dalam vaginanya segera dengan mudah terlihat. Nampak sekali selaput tipis didalamnya yang bentuknya sudah tidak beraturan. Terdapat sobekan ke segala arah yang menandakan bahwa selaput dara wanita itu telah koyak. Adanya sedikit darah yang mengalir dari sela-sela selaput yang terkoyak itu menunjukkan bahwa peristiwa robeknya selaput dara masih belum lama terjadi. Dipastikan bahwa peristiwa perkosaan itulah yang telah merenggut keperawanannya. Setelah mengamati dengan seksama alat kelamin wanita itu kini dokter beralih ke anus wanita pingsan tersebut yang juga nampak memar. Terdapat benjolan di sekitar anus yang cukup besar sehingga hampir bersinggungan dengan wilayah vaginanya. Terlihat noda darah yang mengering di mulut anus wanita itu. Berarti pelaku perkosaan tidak hanya melakukan perudungan seks vaginal tetapi juga anal. Setelah membuat catatan-catatan untuk kepentingan pembuatan visum dokter segera memerintahkan suster untuk melepas kait penahan kaki. Kemudian dokter mengambil sebuah suntikan serta sebotol kecil cairan warna oranye dari dalam saku baju putihnya. Dokter membuka penutup jarum suntik dan memasukkannya ke dalam botol kecil berisi cairan oranye tersebut melalui tutupnya yang terbuat dari karet. Sekitar 5 mL cairan disedot oleh alat suntik itu. Selanjut dokter meminta suster untuk memiringkan tubuh wanita pingsan tersebut. Dokter akan menyuntikkan obat pencegah kehamilan melalui bokong wanita pingsan itu. Setelah menggosok wilayah bokong wanita itu yang akan disuntik dengan kapas beralkohol, jarum segera ditancapkan setengahnya ke bokong wanita tersebut. Tidak ada respon yang terlihat. Cairan oranye itu dengan lancar bergerak masuk ke tubuh wanita pingsan itu melalui bokongnya. Tidak lama kemudian seluruh cairan telah disuntikkan ke tubuh wanita itu dan dokter segera pergi meninggalkan ruangan.
Pukul delapan pagi menunjukkan tanda-tanda bahwa wanita pingsan itu mulai siuman.
“Aakkkhhhh…….aaddddduhhhhh………….aadduuhhhhhhhh hhhh”
Wanita itu rupanya mulai merasakan nyeri di vagina dan anusnya akibat perbuatan biadab orang-orang terhadap tubuhnya. Suster yang menjaga di ruangan itu segera mendekati wanita yang mulai siuman tersebut.
“ddiiiii…..ddiimanna…..aakuu…….” Suara wanita itu masih bergetar.
“Tenang..mbak aman di sini…..Ini adalah rumah sakit…..” Suster menjawab.
Wanita yang siuman itu kini menyadari tubuhnya yang telanjang di bawah selimut. Seketika ia teringat kejadian semalam yang menyebabkan kehormatannya terenggut paksa. Seketika itu pula jerit histerisnya mulai keluar
“Aaaaaa………..ttiiiiiddaakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk……………… ………….”
Wanita itu mulai menangis meraung. Suster berusaha untuk menenangkan wanita muda itu. Tetapi gerakan wanita yang mulai liar itu membuatnya kewalahan. Rupanya perasaan shock yang mendera wanita muda itu menyebabkan ia berperilaku liar seperti itu. Jerit tangisnya melengking tinggi memenuhi ruangan berukuran 6m x 6m itu. Akhirnya suster menekan bel untuk meminta pertolongan perawat lain. Tidak lama kemudian beberapa orang suster datang ke tempat. Tidak ada cara lain kecuali memberikan obat penenang agar wanita itu tidak berlaku semakin liar. Dua orang suster memegang tangan wanita itu dan tubuhnya dibuat tengkurap.
“Ttttiidaaakkkkk…..llleeepassssssssssskaannnn…………… .” wanita itu terus menjerit.
Dengan cepat suster menyuntikkan obat penenang melalui bokong wanita itu dan lambat laun suara teriakan wanita itu mulai melemah. Suster melepas pegangan tangannya dan mengembalikan wanita itu ke posisi berbaring. Terlihat mata wanita itu yang sayu serta air mata yang telah meleleh keluar. Suster di ruangan itu tidak tega melihat kondisi wanita itu. Sebagai sesama perempuan mereka dapat merasakan betapa sakitnya kehilangan harga diri akibat diperkosa. Obat penenang itu akan bekerja selama 3 jam.
Pukul 12 siang tiga orang polwan masuk ke ruangan dimana wanita itu dirawat. Wanita korban pemerkosaan itu sudah mulai sadar dan mulai sanggup menguasai keadaannya.
“Nama anda adalah Afni ?……” Seorang polwan membuka pembicaraan.
Wanita itu mengangguk lemah.
“Anda berprofesi sebagai desainer busana…..? ” Polwan itu melanjutkan pertanyaan.
Kembali wanita itu mengangguk lemah.
“Kami memperoleh kartu identitas saudari dari mobil xenia yang anda kendarai. Anda tinggal di wilayah Jakarta Timur. Apakah anda tinggal bersama keluarga…?”
Wanita itu kini menggeleng.
“Anda tinggal di kontrakan…..”
Kini wanita itu mengangguk lagi.
“Apakah anda bisa menceritakan kronologis kejadian yang menimpa diri anda?”
Kali ini wanita bernama Afni itu hanya terdiam. Bibirnya nampak bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca menandakan ada kepedihan yang mendalam dalam lubuk hatinya. Keadaan menjadi hening selama beberapa saat. Sekitar 3 menit kemudian perkataan mulai keluar dari mulut Afni. Meski menyakitkan dia mulai memutar kembali memori yang mengisahkan rusaknya masa depannya sebagai seorang wanita.
FLASHBACK
Sabtu pukul 3 sore itu Afni berada di Pasar Senin. Hari itu dia bermaksud membatalkan pesanan sejumlah kaos yang akan dia desain atas pesanan salah satu instansi pemerintah di Jawa Barat. Kualitas kaos yang tidak sesuai dengan kesepakatan menyebabkan Afni memutuskan untuk mencari supplier lain yang lebih dapat dipercaya dan bertanggung jawab.
“Pokoknya pak saya tidak jadi ambil kaos seperti ini…………….” Afni berucap dengan nada seperti orang berdebat
“Tetapi kaos itu kan sesuai dengan pesanan…..”
“Warnanya sesuai…..ukurannya juga sesuai…Apalagi……”
Terdengar suara berat laki-laki memprotes ucapan Afni.
“Bahan kain ini tidak sesuai dengan yang sudah kita sepakati…” Afni menyanggah pernyataan laki-laki itu.
“Bahan seperti ini tidak mungkin bisa untuk didesain seperti yang customer saya menghendaki..?” Afni melanjutkan perkataan.
“Barang yang neng mau itu harganya sudah naik…jadi tidak bisa dengan harga yang neng tawarkan kemarin…kecuali kalau jumlah kaosnya dikurangi…” Laki-laki itu begitu saja menjawab kekesalan Afni.
“Lantas kenapa kemarin tawaran saya bapak terima…” Afni kini menjawab dengan kesal.
“Lantas neng maunya apa……” Laki-laki itu mulai sewot juga.
“Saya mau uang saya kembali seluruhnya….pesanan dibatalkan…” Afni menjawab dengan nada yang tidak kalah sewotnya.
“Tidak bisa kami sudah menyerahkan uang pesanan ke supplier kaos itu” kembali laki-laki itu menjawab.
“Saya enggak mau tahu pak. Pokoknya pesanan batal dan uang saya kembali…” Afni tetap bersikukuh.
“Kalo begitu silakan aja neng datang ke tempat supplier kaos itu” Kini dengan enteng laki-laki itu menjawab.
“Itu bukan urusan saya. Silakan bapak berurusan dengan supplier itu dan sekarang juga bapak serahkan uang yang saya berikan minggu lalu” Afni terus ngotot.
“Ok. Saya tidak ada uang sekarang. Bila neng mau uang itu kembali hari ini saya antar neng ke tempat supplier itu di Ciledug” Laki-laki itu kini tidak dapat lagi menahan kekesalannya.
“Ciledug….? Saya tidak ada waktu sekarang” Afni berucap.
“Tidak ada waktu sekarang tidak ada juga uang sekarang” laki-laki itu kini berkata dengan nada melunak.
Afni berpikir cepat. Hari ini masih pukul setengah empat sore. Perlu waktu satu jam setengah untuk dapat mencapai Ciledug bila dia dapat menghindar dari kemacetan. Tapi hari ini dia butuh uang itu untuk memesan kaos di tempat lain yang lebih dapat dipercaya. Akhirnya dia mengambil keputusan menyetujui untuk pergi ke Ciledug.
“Baiklah kalau begitu. Antarkan saya ke tempat supplier kaos itu” Afni memberikan keputusannya.
“Hei Tigor bilang pada yang laen saya akan ke Ciledug” Laki-laki itu berkata kepada anak buahnya.
“Beres bang Bingsar”
Segera laki-laki bernama Tigor itu pergi meninggalkan Afni dan laki-laki yang ternyata bernama Bingsar.
“Ayo kita berangkat” Bingsar berkata
“Ayo” Dengan segera Afni menimpali.
Keduanya segera menuju kendaraan masing-masing.
“Tunggu saya di depan pintu keluar parkiran, saya pakai colt diesel” Bingsar berkata lagi.
“Baik, saya pakai mobil xenia warna kuning” Afni menjawab.
Sepuluh menit kemudian Afni sudah berada di depan pintu keluar area parkir Pasar Senin. Masih belum nampak tanda-tanda mobil Bingsar keluar. Sekitar 5 menit kemudian keluar mobil colt diesel warna biru muda. Nampak Bingsar mengeluarkan tangannya memberikan kode kepada Afni untuk mengikutinya. Afni sempat melihat Bingsar tidak sendirian dalam mobil itu. Setidaknya ada 4 orang dalam mobil colt diesel itu yang sempat dilihat oleh Afni. Tapi Afni tidak ingin memusingkan hal itu. Tujuannya hanya satu cepat sampai di Ciledug dan mengambil kembali uang yang telah ia berikan kepada Bingsar.
Pukul 5:30 sore kedua mobil itu tiba ditempat yang dituju. Berarti perjalanan ke Ciledung telah mereka tempuh selama dua jam. Afni sedikit merasa aneh karena tempat yang mereka tuju adalah pertokoan yang sedang dibangun dan tidak ada tanda-tanda bahwa toko itu sudah dioperasikan. Rupanya Bingsar melihat gelagat itu.
“Supplier ku itu namanya Daeng. Dia telah booking salah satu ruko yang sudah jadi. Ada di sebelah sana” Bingsar menunjuk ke arah bangunan lantai empat yang nampak lebih rapi dari lainnya. Lokasinya lebih menjorok ke dalam. Ada sedikit rasa was-was dalam hati Afni. Tetapi melihat masih ada sinar matahari pada hari itu dia merasa sedikit nyaman. Bingsar mengajak Afni ke sana . Mereka berjalan melewati pelataran parkir yang belum diaspal. Ada sebuah mobil jeep land rover terpakir disana. Afni menjadi bertambah lega karena berarti memang ada orang lain di wilayah bangunan tersebut. Di belakang ada 3 orang mengikuti mereka. Mereka adalah orang-orang yang tadi berada satu mobil dengan Bingsar. Afni berfikir pastilah mereka hanya pembantu-pembantu Bingsar. Melihat bentuk badannya mereka lebih layak disebut sebagai preman. Dua orang yang mengenakan oblong tanpa lengan terdapat tato di lengannya. Masing-masing berbentuk seekor ular dan bunga mawar. Satu orang lainnya adalah Tigor juga punya tampang preman meski tidak ada tanda-tanda tato di lengannya. Afni sedikit merasa takut dengan keadaan itu tetapi keinginan untuk segera mendapatkan uangnya kembali mengalahkan segalanya.
“Ayo kita naik ke atas” Bingsar membuyarkan lamunan Afni.
Afni sedikit ragu melihat jalan yang dimaksud Bingsar harus melewati sebuah lorong yang terlihat agak gelap.
“Ayo cepat kita ke lantai empat sebelum hari gelap”
Bingsar berkata sambil berjalan mendahului. Afni segera mengikuti arah Bingsar di belakangnya. Afni melihat bangunan-bangunan yang masih belum selesai dan banyak potongan-potongan kayu berserakan. Hanya butuh sekitar 8 menit mereka sudah tiba di lantai empat. Bangunan dilantai itu terlihat lebih rapi daripada yang sebelumnya mereka lewati. Bingsar segera menuju ke arah rolling door yang terbuka. Ruangan didalamnya diterangi oleh lampu yang tenaganya diperoleh dari mesin generator listrik berukuran kecil.
“Halo kawan kita sudah datang” Bingsar berucap sambil berjalan masuk melewati pintu itu.
“Ayo neng ikut masuk” Bingsar memanggil Afni yang berjalan di belakangnya.
Tidak lama muncullah Afni di depan pintu terbuka ruangan itu.
“Silakan masuk” orang yang ada dalam ruangan itu menyilakan Afni untuk masuk. Ukurannya cukup luas sekitar 12 m x 8 m. Rupanya ruangan itu belum dipasang sekat sehingga terlihat sangat luas.
“Saya Daeng” orang itu memperkenalkan diri dengan mengulurkan tangan.
“Afni” jawab gadis itu dan tangannyapun terulur menerima jabat tangan Daeng.
“Itu di sana kawan saya yang pakai kaos loreng merah namanya Cokro sedangkan satunya lagi Darto”. Kedua nama yang disebut Daeng tadi mengangkat tangannya tanda perkenalan.
“Ok. Bingsar apa yang bisa saya lakukan” Daeng mulai bicara pada pokok persoalan. Bingsar bercerita seluruhnya yang dibenarkan oleh Afni.
“Tetapi mbak Afni pesanan tidak boleh dibatalkan. Kaos sudah terlanjur dibuat. Kami akan rugi dengan pembatalan itu” Daeng berkata.
Tetapi Afni tetap tidak mau menerima kualitas bahan itu hingga Daeng mulai terlihat kesal.
“Ok kalo begitu tunggu di sini akan saya kembalikan uang anda” Daeng berkata.
Setelah itu dia pergi menuju rolling door yang terbuka dan menghilang dalam lorong. Tidak sampai satu menit Daeng telah masuk kembali kali ini bersama Tigor dan dua rekannya. Daeng segera menutup rolling door. Afni sangat terkejut dengan tindakan Daeng itu.
“Mmmee mmmeengapa pintunya ditutup pak…..” Suara Afni seperti tersumbat dalam kerongkongan.
“Tidak apa-apa karena saya akan mengembalikan uangmu tanpa ada orang lain yang melihat…..” Daeng menjawab.
Afni sedikit lega mendengarnnya.
“Tapi ada satu syarat yang harus kau penuhi….” Daeng kembali berkata
“Apa itu…” Afni bertanya kepadanya.
Daeng hanya tersenyum dan tidak menjawab. Matanya terus memperhatikan Afni terutama lekuk tubuhnya yang ramping itu tampak menarik baginya. Dengan menggunakan celana ukuran 3/4 itu semakin menunjukkan kemolekan tubuh Afni terutama sekali bagian bokongnya. Dadanya memang tidak terlalu besar. Mungkin hanya 34A atau B saja. Tetapi yang pasti postur tubuhnya memang menunjukkan kesintalannya yang tidak dapat dipungkiri dari bentuk lengannya yang saat itu menggunakan baju tanpa lengan.
Afni yang diperhatikan begitu rupa merasa risih dengan tatapan itu.
“Apa syaratnya pak….” Kembali Afni berkata.
Daeng seketika buyar lamunan joroknya dan sedikit tergagap dia menjawab
“ehh anu…..eh…..itu….” Daeng menjawab begitu rupa sehingga nampak bahwa saat itu dia telah dirasuki unsur birahi.
“Aku ingin kau melayaniku………” Daeng berkata sedikit lebih tegas setelah berhasil menguasai dirinya kembali.
“Apa…..bapak jangan kurang ajar ya…” Afni nampak tersinggung dengan perkataan Daeng.
“Cepat berikan uang itu kepada saya…” Afni berkata dengan ketus berusaha menegarkan diri meskipun kini detak jantungnya mulai cepat.
“Baiklah…Darto Cokro kalian tahu apa yang harus dilakukan” Daeng berujar
“Beres boss” serentak Cokro dan Darto bergerak mendekati Afni dari belakang. Demikian juga lima orang pria lainnya mendekati Afni. Afni mulai kelihatan panik.
“Aaapppaaa…aaapaaaa… mmaauuu kkkalaliiiiaannnn ssseeebeennnaarrrrnyaaa??” Suara Afni bergetar.
“He he he…..kami hanya pengen merasakan itu….yang ada di balik celanamu….” Tiba-tiba Bingsar berkata seperti itu yang disambut dengan tertawa oleh yang lainnya. Kini rasa panik benar-benar melanda Afni
“Tttttiiddaaakkkkkkk…….aaaakuuuuuuu…tttiiidaaakkk. .mmmaauuu” Suara Afni semakin serak pertanda dia mulai ketakutan.
Dari arah belakang Darto tiba-tiba memeluk Afni. Secara refleks Afni meronta melepaskan diri
“Bbbaaaaajjiiangaaannnn…llllepassssakaaann!!! !!!!”
Ketika berhasil melepaskan diri dari dekapan Darto segera Afni membalikkan tubuhnya dan “Plakkkk!!!!!”. Afni mendaratkan tamparan ke pipi Darto. Darto sama sekali tidak menyangka akan mendapat tamparan itu yang membuatnya sedikit tertegun selama beberapa detik. Kemudian tangan kirinya mengelus pipinya yang mendapat tamparan dari Afni.
“Binal juga cewek ini…..” Darto berkata.
“Kalo binal pasti enak goyangannya…….” Tigor menimpali ucapan Darto.
Afni merasakan gelagat yang tidak baik. Tanpa basa basi dia segera berjalan setengah berlari menuju rolling door yang ditutup oleh Daeng. Ketujuh laki-laki dalam ruangan itu membiarkan saja apa yang dilakukan oleh Afni. Ternyata pintu itu terkunci. Tidak ada jalan keluar selain pintu itu. Daeng membawa kunci rolling door itu.
“Tolong pak buka pintunya….Ambil saja uang saya. Biarkan saya pergi” Afni menghiba.
“Tentu kami akan membiarkanmu pergi tetapi dengan syarat itu tadi…” Daeng menjawab permohonan Afni
“Tttttiidaakkkkkkkkkk…….” Afni mulai menjerit setengah menangis.
“Ayolah manis kami akan memberikan kepuasan kepadamu……” Cokro mulai ikut-ikutan bicara.
“Iyalah…jangan takutlah… Mau diajak melayang ke sorga kok malah takut he he he….” Teman Tigor yang bertato ular itu nampak menyeringai. Matanya memerah. Berarti diapun sudah dikuasai oleh nafsu birahi.
“Iya ayolah cepetan deh dituntasin……udah gak kuat nih…” orang bertato mawar juga ikut berkata.
Afni mulai merasa lemas. Tujuh pria itu memang telah punya niat busuk untuk melakukan ruda paksa pada tubuhnya. “DIPERKOSA” adalah satu hal yang paling mengerikan bagi para wanita termasuk Afni. Selama ini dia hanya mendengar di televisi atau membaca di koran mengenai kasus pemerkosaan. Kini kejadian yang paling ditakutinya itu akan menimpa dirinya. Sekarang empat orang pria mulai mendekati dirinya. Tigor dan dua orang temannya yang bertato serta Cokro menuju kearahnya,
“Ttttiiddaaakkkkk…….jjjajaanngaaannnn ppaakkkssaa ssaayaaaa” Afni terus menghiba dan berusaha beringsut ke tempat lain. Namun kemanapun dia menghindar tidak akan lepas dari kejaran pria-pria yang telah dirasuki hawa nafsu itu.
“Ttttidaaakkk……tttoooooooolonnngggggggggg” Afni berusaha menjerit sekerasnya. Namun di areal bangunan luas yang masih dalam proses penggarapan itu tak akan ada seorangpun yang akan mendengar jeritannya.
“Jjjaangannn…pppaaakkk..jjjjaanngaannnn mmembuattku tttakuttt..” Afni menghiba lagi.
“Tak perlu takut manis….. kau akan puas bersama kami……” Cokro berujar
“Iya bertujuh lagi….kau akan lemas puas dengan kejantanan kami ha ha ha……….”Orang yang bertato mawar mulai berujar mesum.
“Tttiiddaaakkk..jjaangann….ssssayyaa..tttiiddakk…. .mmmaauuuu…” Afni terus menghiba mengharap keempat orang itu tidak memaksanya. Namun tetap saja keempat orang itu terus menghampirinya. Afni sudah akan beringsut lagi tetapi nampaknya sulit bagi dirinya untuk menghindar dari keempat orang yang semakin dekat dengannya itu
“Ttiidakkkkk..lllleepasssskaaaannnnnnnnn…”
Afni menjerit ketika satu tangannya berhasil dicekal Cokro. Afni berusaha menarik tangannya lepas dari tarikan Cokro. Tetapi cengkraman Cokro pada pergelangan tangannya terlalu kuat. Afni bermaksud memberikan perlawanan dengan akan menampar wajah Cokro oleh salah satu tangannya yang masih bebas. Tetapi gerakannya itu kalah cepat dengan gerakan Tigor yang terlebih dahulu menangkap pergelangannya sebelum mendarat ke wajah Cokro.
“Bawa cewek binal itu ke matras” Darto rupanya masih kesal dengan tamparan Afni.
Kini Cokro dan Tigor menyeret Afni yang terus mencoba meronta untuk melepaskan diri menuju matras yang tebalnya sekitar 20 cm. Tampaknya matras double size itu memang sengaja ditempatkan di sana, mungkin buat tukang-tukang bangunan yang ingin beristirahat. Matras itu nampak sudah lusuh. Pasti sudah sejak lama matras itu ada di sana. Kini Tigor dan Cokro sudah mendekati matras itu. Afni semakin panik dan rontaannya semakin kuat. Gadis itu menyadari kalau tubuhnya akan direbahkan di atas matras lusuh itu untuk dinikmati beramai-ramai oleh 7 lelaki yang semuanya telah dirasuki nafsu birahi. Rasa takut untuk melakukan hubungan seks dengan cara dipaksa seperti itu semakin mendera jiwa Afni.
“Ttttiidaakkkkk…lleepassskaaaaannnnn….bbbbaaajjjii nngggaannnnnnnnn……” Afni meronta kuat dan memaki dengan keras di sela-sela nadanya yang sudah terdengar mulai menangis itu. Dua teman Tigor yang bertato itu mengerti kesulitan Cokro dan Tigor untuk menundukkan Afni. Segera orang yang bertato ular membantu mendekap tubuh Afni dari belakang sedangkan yang bertato mawar menangkap pergelangan kaki Afni. Kini tubuh Afni yang meronta-ronta dalam bopongan meraka tidak sanggup lagi untuk menolak direbahkan pada matras itu. Keempat orang yang memegang tubuh Afni itu segera menurunkannya ke atas matras dan masing-masing ambil bagian memegang tangan dan kaki Afni sehingga tubuhnya menjadi terlentang. Cokro dan Tigor menahan tangan Afni sedangkan dua orang yang bertato memegang kaki Afni. Sekarang Afni sudah tidak berdaya. Hanya tangisan keras yang sanggup ia lakukan. Kini Darto mendekati Afni yang tidak berdaya itu. Terlihat senyum nafsunya yang menyeringai. Jakunnya naik turun menahan gejolak birahinya. Gerakan Afni yang terus meronta itu menimbulkan sensasi erotis bagi Darto. Rasanya dia sudah tidak sabar lagi untuk melihat gundukan daging di balik celana dalam Afni yang sebentar lagi akan ditembusnya. Rupanya Darto mendapat kesempatan pertama untuk menikmati tubuh Afni. Kini Darto membuka baju kaos yang ia kenakan. Terlihat banyak bulu-bula dadanya. Dengan posturnya yang agak gendut itu menyebabkan Darto mirip gorilla bila bertelanjang dada. Nyali Afni semakin ciut. Teriakan menghibanya itu tidak seorangpun yang menghiraukan. Dan kini Darto telah berada di depan tubuhnya. Afni sudah sangat panik sekali.
“He he he non binal…..kini saya pengen merasakan kebinalan tubuhmu”
Darto berucap yang membuat Afni semakin menjadi ketakutan.
“Ttiidakkkk..jjaaannggannn…tttooloongg lleepaskannn saaya….” Afni menjerit
Tapi Darto tidak menjawab. Tiba-tiba saja dia langsung menindih Afni dan berusaha mencium leher gadis itu.
“Aaaaagghhhh…….ttiiidddakkkkkk…”
“Llleeepasskkaannnn…..bbaaangggssattttttttt…… …..”
Afni kini meronta jauh lebih kuat. Segala upaya dia lakukan untuk melepaskan diri dari tindihan Darto yang menggumulinya. Terasa sekali nafas Darto di lehernya yang mendengus-dengus. Nampak sekali kalo Darto sudah tinggi hasrat seksualnya. Darto mencium leher Afni yang kepalanya menggeleng ke kanan dan ke kiri. Lidah-lidah Darto menyusuri leher Afni dan sekali-kali melakukan gigitan di sana.
“Aaakkhhh…aaadduhhhh…bbbiiiiinnnaaattannnggggggg…. ”
Afni menjerit kesakitan ketika Darto melakukan gigitan-gigitan yang menimbulkan cupang di lehernya. Jijik sekali Afni merasakan tubuhnya disentuh oleh bajingan yang sedang menggumulinya. Tetapi hanya mengeluarkan airmata sajalah yang Afni sanggup lakukan.
Sekitar 5 menit Darto melakukan pemanasan dengan mencium leher Afni. Kini saatnya bagi dia dan 6 orang temannya untuk melihat aset tubuh Afni yang selama ini gadis itu rahasiakan. Tangan Darto mulai melepas kancing-kancing baju Afni yang tanpa lengan itu. Afni menjadi demikian paniknya
“Ttiidaakkkkk…jjjaaanngannnnnnnnnn…….” Afni kembali menjerit.
Darto melihat betapa bersihnya ketiak wanita yang kini sedang tidak berdaya itu. Pastilah Afni selalu rajin membersihkan wilayah itu sehingga tidak terlihat guratan-guratan kehitaman seperti yang banyak Darto lihat pada cewek-cewek lokalisasi di mana dia sering datang untuk melampiaskan hasrat seksualnya. Enam buah kancing penutup baju Afni kini terlolosi sudah. Dengan kedua tangannya Darto menyibak belahan baju Afni sehingga kini nampaklah BH warna hitam yang dikenakan gadis itu. Ternyata bagian tubuh Afni yang tertutupi baju itu mempunyai warna kulit yang lebih terang daripada warna kulit lengan tangannya atau kakinya. Bagian tubuh yang tertutupi itu terlihat lebih mulus. Meskipun Afni apabila mengenakan baju lengkap tidak menunjukkan bahwa ia mempunyai bagian-bagian tubuh yang ternyata mulus tetapi warna kulit coklat pada tubuhnya adalah daya tarik sendiri. Kulit tubuhnya yang mulus kecoklatan itu semulus milik Adjeng Inez seorang presenter The Scene X Models Lativi. Kini tangan Dartopun mulai merambah ke BH hitam yang Afni kenakan. Afni semakin ketakutan karena sebentar lagi gunung kembarnya akan menjadi tontonan laki-laki yang hasrat seksnya sudah tak terbendung lagi.
“Jjaanngaannnnn………..” Afni berteriak
Tetapi tangan Darto tidak berhenti untuk melepas kait BH hitam Afni yang ada di depan sehingga 15 detik kemudian tangan Darto telah menyibak BH itu ke kanan dan ke kiri.
“Aaaaaa…..bbaaanggggsssaaaatttttttttt…..” Afni berteriak dan menangis. Rasa malu mulai menyelimuti diri wanita itu.
Kini tampaklah dua gunung kembar berukuran 34B yang bergoyang-goyang akibat gerakan Afni yang meronta. Goyangan itu semakin membuat tubuh Afni terlihat erotis sehingga membuat melotot mata laki-laki yang ada di ruangan itu. Darto segera memegang kedua gunung kembar itu dengan kedua tangannya. Secara tiba-tiba kedua tangan Darto melakukan remasan pada payudara yang ada dalam cengkramannya itu.
“Aaaakkhhhhh….aaddduhhhhhh…..bbbbiiinnnaaaattaannn gggggg…”Afni melenguh kesakitan ketika Darto melakukan remasan kasar. Tetapi semua laki-laki yang ada di sana hanya tertawa menyaksikan apa yang diperbuat oleh Darto. Darto melakukan remasan-remasan dan memuntir-muntir puting susu Afni yang berwarna coklat kemerahan. Nampak bilur-bilur merah mulai bermunculan seputar payudara Afni akibat remasan Darto. Darto dapat merasakan kekenyalan kedua gunung kembar Afni. Tidak sabar Darto untuk segera menghisap kedua gunung kembar yang kenyal itu.
“Jjjaaangaaannnnnnnn……………”
Hanya itu yang Afni bisa lakukan ketika Darto mulai mengulum payudaranya. Mungkin sekitar 8 menit Darto bermain-main dengan payudara Afni. Darto terus mencium tubuh Afni bagian dada dan turun ke arah pusar. Dapat dirasakannya betapa halusnya kulit tubuh Afni. Ciumannya terus berelanjut sampai terhalang oleh celana 3/4 bagian atas yang Afni kenakan. Rupanya ciumannya telah mencapai batas pinggang. Dengan tetap melakukan ciuman di daerah antara pusar dan batas atas celana Afni tangan Darto berberilya mencari kancing celana Afni. Gadis yang menyadari bahwa tubuhnya akan ditelanjangi itu berusaha beringsut keras agar Darto tidak berhasil membuka kancing celananya. Namun Darto tetap saja berhasil menemukan kancing itu dan dengan hanya menggunakan satu tangan dia berhasil melolosinya. Dengan gerakan perlahan Darto mulai menurunkan resleting celana Afni.
“Oohhhhh..tttiidddaakkkk………”
“Jjjanangannn bbuukaaa cceelllaanaa ssaayaaa……” Afni terdengar menangis histeris.
Darto tetap tidak merespon apa yang dikatakan oleh Afni. Temannya yang lain hanya menonton Darto mempermainkan tubuh Afni sambil sesekali terlihat seringai nafsu seksual mereka. Akhirnya resleting celana itu sudah sampai pada ujung bagian bawah. Terlihat celana dalam Afni berwarna coklat muda. Kemudian sambil terus mencium bagian perut Afni tangan darto menyusup di balik celana dalam Afni.
“Aaaaaaa……jjjaaanggaannnnnnnnnnnnnnnnnnn……” Afni menjerit kuat.
Tangan Darto dapat merasakan bulu-bulu halus kemaluan Afni. Afni berusaha mengatupkan kedua kakinya yang dipegang oleh dua orang bertato itu. Tetapi pegangan terhadap kakinya terlalu kuat sehingga tanpa bisa dicegah tangan Darto yang menyusup di balik celana dalamnya itu telah menyentuh bagian tubuhnya yang sensitif.
“Tttttiddaakkk….bbaanngggsssaaatttttttttttttt ”
Darto menggesek-gesekkan jemarinya ke permukaan vagina Afni. Masih terasa kering yang menandakan bahwa pemanasan yang dilakukannya tidak membuat Afni terangsang. Malah rasa tertekan dan ketakutan akan diperkosa itu membuat hormon seksualitas Afni tidak berfungsi sama sekali. Hanya takut dan takut sajalah yang ada dalam jiwa Afni.
Selama lebih kurang 10 menit Darto bermain pemanasan. Kini sudah saatnya dia melihat apa yang ada di balik celana 3/4 Afni. Darto kini bangkit dengan mata memerah menahan gejolak nafsu.
“Dekatin kedua kakinya….” Hanya itu yang Darto katakan.
Kedua orang bertato itu mengerti maksudnya bahwa Darto akan segera benar-benar menelanjangi Afni. Dan benar saja Darto segera memegang ujung atas celana Afni dan dengan kekuatan penuh dia pelorotkan hingga betisnya.
“Jjaaangaannnn…….bbbbiinnaataangggggggggggg…… ” Afni mengumpat dalam tangisnya.
Kini celana dalam warna coklat itu terpampang jelas. Celana itu nampak agak tipis dan elastis sehingga melekat erat pada tubuh Afni menutupi bagian vitalnya yang selama ini gadis itu rahasiakan. Tipisnya celana dalam itu tidak dapat menyembunyikan bulu-bulu kemaluan Afni yang menerawang. Tetapi celana itu tidaklah lama di sana. Dua tangan Darto kini mulai beraksi dan sekali sentak robeklah celana dalam coklat yang Afni kenakan.
“Jjjaaangaannnn….bbbaaanggssattttttttttt..kkauuuuu ……..”
Celana dalam coklat yang robek itu tidak terlepas dari tubuh Afni. Rupanya hanya satu lingkarannya saja yang putus sedangkan yang satunya lagi masih melingkar di pahanya. Darto membiarkan saja celana dalam coklat yang robek itu dan melorotkannya ke bawah hingga ke tengah paha Afni. Kini bulu-bulu kemaluan Afni terlihat. Sungguh rapi bulu-bulu itu. Hal itu menunjukkan bahwa Afni adalah gadis yang memiliki perhatian terhadap keindahan tubuh. Semua laki-laki di ruangan itu menelan ludah melihat bulu-bulu kelamin Afni. Tubuhnya yang sawo matang terang itu semakin nampak menggairahkan. Darto mencoba menyingkap bagian pangkal paha Afni untuk melihat lebih jelas bentuk alat kelaminnya. Afni menjerit ketika kedua tangan Darto menyibak pangkal pahanya
“AAAAAAaaaaaa ……….jjjaangaannnnnnnnnnnnnnnnnnn…………………..”
Afni merasa semakin malu karena tatapan mata nafsu beberapa pria yang mencoba melongok ke arah bagian tubuhnya yang paling vital. Meski tidak nampak jelas karena kedua regangan kaki Afni terhalang oleh celana 3/4 yang masih ada di betisnya tetapi penyibakan pangkal pahanya oleh Darto dirasakannya pelecehan yang paling dalam. Nampaknya darto tidak cukup puas dengan hanya menyibak pangkal paha Afni. Dengan cepat dilolosinya celana 3/4 Afni dan tidak lupa pula celana dalam coklat mudanya yang sudah robek itu.
“Pentang kakinya lebar-lebar…..Gue pengen liat kaya apa punyanya…” Darto berkata kepada dua orang bertato yang memegang kaki Afni.
“Tttiddakkkk….jaanngaannnn…..”
Akhirnya kedua orang bertato itu membuat posisi kaki Afni menjadi mengangkang sehingga alat kelaminnya menjadi terbuka dan terlihat dengan jelas. Rontaan Afni untuk mencoba mengatupkan kedua pahanya tetap saja sia-sia. Darto mulai menyentuh bagian sensitif itu.
“Bbaajjingaaannnnnn….llleeepaaasskannnnnnnnnnnn..! !!!!!!!!!”
Tanpa mempedulikan teriakan Afni dengan menggunakan dua ibu jari Darto melebarkan vagina gadis itu sehingga tampaklah bagian dalamnya. Sesaat Darto mengosok-gogok klitoris vagina itu dengan ibu jarinya dan beberapa detik kemudia mengarahkan kepalanya ke selangkangan Afni
“AAAggggggghhhhhhrrrrrrrrrrrrrr……………………..” Afni menjerit.
Darto telah memulai serangan seksualnya dengan cara menjilat vagina Afni. Dapat dirasakannya aroma khas kemaluan milik perempuan. Afni sungguh malu sekali diperlakukan demikian. Lidah Darto yang menyusup-nyusup di belahan vaginanya terasa menyayat lubuk hatinya. Sungguh Afni merasa malu yang amat sangat karena alat kelamin yang selama ini ia tutupi dan dia rahasiakan kini sedang dijilat dan dipermainkan oleh lidah laki-laki yang menurutnya berperilaku seperti binatang dengan tatapan hasrat nafsu birahi beberapa kawannya yang nampak sekali ingin melakukan hal yang sama seperti yang saat ini sedang Darto lakukan. Mungkin dalam pikiran pria yang menonton Darto itu betapa licin dan nikmatnya rasa vagina Afni. Ada sekitar 7 menitan Darto mempermainkan alat kelamin Afni dengan lidahnya. Ketika dia rasa jilatannya telah cukup membasahi alat kelamin Afni yang hanya mampu mengeluarkan erangan dan lenguhan yang terdengar erotis sejak Darto mengawali serangan oralnya laki-laki itu segera beringsut dari selangkangan Afni dan dengan tidak sabar melucuti pakaiannya sendiri. Kini tubuh telanjang Darto memperlihatkan alat kejantanannya yang telah mencuat tegang. Ukuran penisnya yang lumayan besar itu cocok dengan tubuh Darto yang sedikit tambun. Segera laki-laki yang telah dikuasai hasrat nafsu birahi itu kembali mendekati Afni yang semakin meronta dengan kuat melihat bentuk penis Darto yang baginya sangat mengerikan itu. Terbayang olehnya sebentar lagi alat mengerikan itu akan memasuki dirinya….
“Tttttiiiiddaaaakkkk….jjjjjaaannngaannnnnn….. ”
Afni menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tidak rela kalau tubuhnya akan disetubuhi paksa oleh Darto. Tapi Darto yang seorang rentenir itu hanya menyeringai dengan tatapan mata penuh nafsu….
Kini pria itu telah memposisikan dirinya lagi diantara kedua paha Afni yang terpentang lebar dipegangi dengan erat oleh dua preman bertato itu. Sesaat Darto mengelus-elus paha bagian dalam Afni merasakan betapa lembutnya bagian itu. Meski berkulit tubuh coklat tetapi kemulusan tubuh Afni tetap dapat dia rasakan. Sungguh berbeda sekali dengan WTS murahan yang sering dia booking yang mana sudah warna kulitnya coklat kehitaman itupun banyak dihiasi oleh sisik-sisik putih sehingga sama sekali tidak dapat dikatakan halus apalagi mulus. Kini Darto bersiap melakukan penetrasi. Diarahkannya penisnya yang telah tegang itu ke lobang kenikmatan milik Afni.
“Jjjaangggannnn……jjjaanngggannnnnn….ppaakkkks aa saayyaaaaaaaaaa….”
Kini Afni berusaha mati-matian meronta mempertahankan kehormatannya. Gadis itu menggoyang pinggulnya ke kiri dan ke kanan berusaha menghindari penis Darto yang mencari jalan untuk menyelusup ke liang kenikmatannya.
Daeng dan Bingsar yang menonton Darto berusaha keras untuk menyetubuhi Afni tersenyum terkekeh memperhatikan perjuangan Darto. Memang benar Afni sungguh binal…..Tetapi tubuh yang binal sangatlah mengasyikan untuk dinikmati….Tubuh binal biasanya memberikan kepuasan birahi yang dahsyat……Itu yang berkecamuk dalam pikiran Daeng dan Bingsar.
Darto yang kesulitan untuk memasukkan penisnya ke dalam vagina Afni segera menahan kedua pinggul Afni dengan kedua tangannya sehingga Afni tidak dapat beringsut ke kanan dan ke kiri dengan leluasa. Dengan cara menggerakkan pinggulnya Darto berusaha memposisikan penisnya ke alat kelamin Afni. Kini dia telah menemukannya. Kepala penis itu telah dirasa bersentuhan dengan bibir vagina Afni.
“Jjjjaaangaaannnnnnnn……………….” Afni menjerit ketika kepala penis Darto telah menyentuh bibir kemaluannya dan dirasa mulai melesak ke liang senggamanya itu.
“Jjjangannn..llaaakuukkkaannn…jjjaangggannnnnnnnnn ” Afni terus menjerit menghiba.
Tetapi Darto sudah tidak sabar lagi untuk segera terbang ke nirwana kenikmatan. Dengan segenap tenaga dia mendorong pinggulnya dengan keras ke arah selangkangan Afni
“Tttttiidddaakkkkkk…aaaakkhhhhhhhhhhhhhhhh!!!!!!!! !!!!!!!!!!!!!!!!!!”
Afni menjerit keras dan melengking. Tubuhnya melengkung ke atas. Kepalanya menengadah ke belakang. Tampak matanya yang membelalak. Ia merasakan perih dan nyeri menyerang bagian selangkangannya. Beberapa detik kemudian tubuhnya yang mengejan itu kembali normal dan selanjutnya tubuhnya berguncang-guncang diselingi teriakan-teriakan kesakitannya
“Akkkkkhhh…..aaddduuhhhhhh….adduhhhhhhhhhhhhh …”
“Akkkhh……..aakkhhhhhhhhhh…..ssssaaakitttttttttttt…..”
“Pppeerriiiihhhhhhhhhhhhh………”
“Aakkhhhh..ttiitdaakkk……”
“AAaaaddddduuhhhhhhhhhhh…………”
Darto menyenggamai tubuh Afni dengan kasar. Dia memompa tubuh tidak berdaya itu dengan cepat dan meggebu-gebu. Mungkin laki-laki itu melampiaskan kekesalannya akibat tamparan Afni. Tetapi yang pasti 15 menit kemudian Darto mulai mengerang nikmat. Tampaknya Darto sedang naik menuju puncak kenikmatan. Kini Darto makin terengah-engah dan beberapa detik kemudian dia menggeram keras dengan kepala menengadah dan mata terpejam. Rupanya laki-laki itu telah mencapai klimaks dan memuntahkan lahar panasnya ke dalam tubuh Afni. Beberapa detik kemudian Darto mulai tampak meloyo dan segera mencabut penisnya dari dalam liang kenikmatan Afni. Tampak warna merah di batang penisnya. Demikian juga pada vagina Afni. Beberapa saat kemudian terlihat cairan putih kemerahan mengalir keluar dari liang senggama Afni. Sperma Darto yang keluar itu turun ke bawah membasahi anus Afni sebelum akhirnya menetes ke matras. Darto sungguh perkasa. Dia melakukan persetubuhan dengan Afni hampir selama 18 menit. Mungkin dia minum obat kuat sehingga bertahan selama itu.
Kini ganti Tigor berhasrat menyetubuhi Afni. Tangan Afni yang dilepas oleh Tigor kini dicengkeran oleh Cokro sehingga kedua tangan Afni kini ada dalam kekuasaannya. Tigor segera melepas celana jeans lusuhnya dan memposisikan dirinya di antara dua paha Afni. Dilihatnya vagina Afni yang masih meneteskan darah. Tetapi Tigor tidak peduli. Lelaki agak kurus dengan rambut gondrong itu ingin segera menyalurkan birahinya pada tubuh Afni yang sedang tidak berdaya dan hanya bisa menangis itu.
“Aaggghhhhrrrrrrrrr………………”
Kembali Afni menjerit tatkala penis Tigor memasuki tubuhnya. Tigor langsung memompa tubuh Afni dengan cepat. Sesekali dilihatnya wanita yang sedang diperkosanya itu menggelengkan kepala ke kanan dan ke kiri sambil sekali-sekali menggigit bibir bawahnya. Buah dadanya bergoyang ke sana ke mari memperlihatkan kekenyalannya seirama dengan sodokan-sodokannya. Mata wanita itu terpejam. Hanya erangan dan lenguhannya yang terdengar erotis itu semakin membuat birahinya terus memuncak. Tiba-tiba dia melihat Cokro yang semula berada di atas kepala Afni sedang memegangi kedua tangan wanita yang sedang diperkosanya itu beringsut ke dada Afni dan posisinya memunggunginya. Sesaat dirasakan olehnya tubuh Afni mengejan. Tigor tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Cokro dan dia tidak peduli. Tigor terus memompa dan memompa berpacu dengan hasrat birahinya untuk mencapai ke puncak kenikmatan. Satu yang dia rasakan berubah adalah erangan Afni yang kini seperti lenguhan tertahan. Sekitar 10 menitan diperlukan Tigor untuk dapat mengerang menyemprotkan cairan birahinya ke dalam tubuh Afni. Kini tubuh Tigor dengan senyuman kenikmatan itu mulai loyo dan batang penisnya mulai menyusut. Segera dikeluarkannya batang kejantanannya dari liang vagina Afni dan Tigor segera terlentang lemas di sisi matras. Mungkin laki-laki itu masih merasakan betapa nikmatnya tubuh Afni yang baru saja diperkosanya itu. Jepitan liang kenikmatan Afni sungguh luar biasa. Belum pernah Tigor melayang ke nirwana seperti ini. Sungguh beda dengan WTS kelas teri yang mangkal di pinggir jalan di mana Tigor sering jajan untuk menyalurkan hasratnya.
Kini ganti pria bertato mawar menggantikan posisi Tigor. Rupanya dia telah mengeluarkan batang penisnya dari balik resleting celana komprangnya. Penis kuli Pasar Senen itu nampak lebih besar dari milik Darto apalagi dibandingkan dengan milik Tigor. Pria bertato mawar itu tidak lagi mempedulikan darah yang mengalir dari vagina Afni yang telah membasahi matras. Dia tahu kalo wanita yang baru saja disetubuhi oleh dua orang itu mengalami pendarahan. Tapi keinginan untuk menyalurkan nafsu birahinya pada tubuh yang sekal itu jauh lebih kuat daripada rasa belas kasihannya. Dua kali erangan kenikmatan yang diteriakkan oleh Darto dan Tigor sudah cukup bagi pria bertato mawar itu membuktikan bahwa tubuh Afni memberikan kenikmatan yang betapa luar biasa. Tanpa menunggu lama segera dia menancapkan penis besarnya itu ke dalam liang vagina Afni. Dirasakannya tubuhAfni mengejan hebat namun tidak mengeluarkan suara lengkingan kesakitan sebagaimana saat Tigor memasuki tubuh wanita itu.
“Hhhheeggghhhhhrrrrhhhmmmmmmmmmmmmmmm………………………………..”
Hanya erangan tertahanlah yang dia dengar. Rupanya Cokro yang melakukan perkosaan oral telah menyumbat mulut Afni dengan batang penisnya. Penis Cokro memang tidak panjang. Tetapi diameternya yang cukup besar itu telah mampu untuk meredam suara erangan dan lenguhan erotis Afni. Tampak seluruh penisnya melesak masuk ke dalam mulut Afni. Tangan Cokro masih memegang erat kedua pergelangan tangan Afni di atas kepala wanita itu. Kini tampak tanda-tanda Cokro akan ejakulasi. Mata Cokro mulai terpejam merasakan hangatnya lidah Afni yang bersentuhan dengan penisnya. Gerakan ke luar masuk penisnya di mulut Afni semakin cepat. Akhirnya terburailah segalanya. Afni terlihat gelagapan dengan cairan kental yang menyemprot dari batang penis Cokro dalam mulutnya. Tetapi mulutnya tidak sanggup melepaskan diri dari batang penis laki-laki itu yang seluruhnya melesak masuk kedalamnya.
“Huuggkkkhhhhh…hhuuueekkhhhh…….” Afni nampak tersedak.
Untuk beberapa saat penis Cokro tetap tidak bergeming untuk keluar dari mulut Afni. Cokro masih ingin merasakan denyut-denyut kenikmatan yang menjalar di penisnya menuntaskan semprotan terakhir cairan sperma ke dalam mulut Afni. Sebagian cairan kental putih itu dengan terpaksa ditelan Afni agar rasa asin pahit itu segera sirna dari lidahnya. Akhirnya serangan oral itu selesailah sudah. Cokro telah mengeluarkan batang kejantanannya dari dalam mulut Afni. Masih nampak lendir sperma menempel pada batang penisnya yang mulai loyo itu. Tampak juga sisa sperma yang mengalir ke luar dari sela-sela bibir Afni menjalar ke bawah melewati pipinya yang halus itu.
Di wilayah selangkangannya pria bertato mawar itu masih terus memompa vaginanya. Afni kini hanya diam pasrah. Matanya yang sayu terus mengalirkan air mata menandakan kepedihan hatinya. Rasa sakit hilang harga dirinya jauh lebih besar daripada rasa sakit di seputar selangkangannya. Sebelas menit kemudian laki-laki itu ejakulasi di dalam vagina Afni. Cairan putih kental kemerahan menyusup keluar dari sela-sela pertemuan batang penis dengan dinding vagina. Segera dicabutnya batang penis miliknya dan beringsut dari tubuh Afni. Tampak vagina yang memar berdarah itu menganga untuk beberapa saat ketika pria bertato mawar itu mencaput batang kejantanannya. Kini vagina itu bentuknya tidak sempurna. Dua labium mayora-nya telah membengkak sehingga bibir vagina Afni tampak menggelembung. Disela-sela pertemuan dua daging yang menggelembung itu darah masih tampak mengalir. Mungkin pemerkosa ketiga yang menyetubuhinya itu makin memperparah bekas robekan selaput dara Afni.
“Gue pengen coba pantatnya………..”Tiba tiba pria bertato ular berkata.
Afni yang sedang lemas lunglai itu terkesiap mendengar ucapan pria bertato ular itu. Tubuhnya yang sedang lunglai itu dipaksakannya untuk bangkit. Gerakannnya itu menyebabkan nyeri dan perih di selangkangannya semakin menjadi-jadi. Tetapi rasa ketakutan yang amat sangat mendera jiwanya manakala pria bertato itu berhasrat dengan bokongnya yang juga sekal itu. Afni tahu benar bahwa pria bertato ular itu bermaksud melakukan sodomi padanya. Afni tidak mampu membayangkan betapa sakitnya bila pria bertato yang berpostur besar kekar itu melesakkan batang kejantanannya ke dalam saluran pembuangannya. Afni terus beringsut mundur ketika pria bertato itu mendekat. Dilihatnya pria itu mulai menurunkan resletingnya dan melorotkan celana jeans pendek lusuhnya ke lantai. Celana dalamnya juga segera dia turunkan dan nampaklah batang kejantanannya yang besar. Sama besar dengan milik pria bertato mawar. Afni langsung merasa lemas seluruh persendiannya.
“Jjjjaaangaannnn…….Jjjaannngaann……………..”
“Sssayyaaaa…..ttiiidakkkk…mmaauuu………….” Afni merintih dan menghiba.
Tetapi pria bertato ular itu dengan seringai nafsu birahinya tetap mendekati Afni.
“Tunggingin cewek binal ini……”
Pria bertato ular itu berkata pada teman-temannya yang sudah merasakan nikmatnya tubuh Afni. Tanpa diminta untuk kedua kalinya Darto, Cokro, Tigor dan pria bertato mawar itu menunjukkan rasa setia kawannya kepada temannya yang berhasrat mencicipi lobang kenikmatan alternatif milik Afni. Sedangkan baik Bingsar maupun Daeng hanya terkekeh melihat ketakutan yang diperlihatkan wajah Afni.
“Jjjaangaannnn…………tttiiddakkkkkkkkkkk….” Afni menjerit.
Tetapi tubuhnya yang lemah itu tidak sanggup lagi memberikan perlawanan berarti manaka empat orang pria menangkap tubuhnya kembali dan memaksanya untuk menungging. Darto dan Cokro memegang kedua pundak dan lengan kanan kiri Afni dan menekannya hingga ke matras. Dengan kondisi menungging seperti itu tidaklah mungkin bagi Afni cukup tenaga untuk bangkit. Sedangkan kedua kakinya hanya dipegang oleh pria bertato mawar. Tigor rupanya memilih memegang bongkahan pantat Afni dan menyibakkan bongkahan sekal itu sehingga anusnya menjadi terlihat dengan jelas. Lobang berwarna coklat kemerahan itulah yang akan menjadi sasaran kejantanan pria bertato ular itu.
“Bbbbinnnaaattaanng……llleeepasssskaannnnn!!!! !!” Afni menjerit lagi.
“Bbbiiaaddaabbbbb…..kkkkaaalliiaaannnnn………” Afni memaki.
Tigor hanya tersenyum dan tangannya tetap berupaya melebarkan bongkahan pantat Afni. Pria bertato ular itu memposisikan kakinya sedikit di belakang paha Afni yang menungging dan menapak pada sisi luar kanan dan kiri betis kaki wanita yang akan disodominya itu sehingga ia tetap berdiri. Kemudian ia menggosok-gosokkan batang penisnya ke bibir vagina Afni untuk membasahi batang kejantanannya dengan lendir yang masih tersisa di sana.
“Jjjaangaannn..lllaakkuukannn…..jjaangannnn….tttto olloonngggg” Afni mulai menangis keras lagi. Tiba-tiba terdengar lolongannya yang menyayat.
“AAAAkkkkkkhhhhhhhhh………………………..AAAAAkkkkkhhhhhhhhh hhhhhhh!!!!!”
Pria bertato ular itu secara tiba-tiba dan keras menancapkan batang kejantanannya ke bokong Afni. Tampak jelas anus Afni yang melesak ke dalam terdorong oleh penis besar pria bertato ular itu. Pria bertato ular itu masih memasukkan batang penisnya kira-kira 1/4 bagiannya dan bertahan beberapa saat lamanya. Mungkin ia sedang menikmati jepitan lobang dubur Afni yang baru dilesakinya itu. Kemudian dengan memegang pinggul Afni perlahan dia mulai penetrasi masuk lebih dalam lagi.
“AAAaaddduuhhh….AAAdduuuhhhh…..Sssssaakiitttt ……”
“SSSaaaaakkkiitttttttt……” Afni terus menjerit dan melolong.
Afni merasakan ngilu yang luar biasa ketika penis pria bertato ular itu melesaki liang anusnya. Kepala Afni berdenyut-denyut. Matanya terasa berkunang-kunang. Sungguh betapa luar biasa sakitnya seks anal itu bagi dirinya.
“AAAaaakkkhhhhh……hhheennttiikkkaaannnnn!!!!!” Jerit Afni meminta pria itu untuk tidak terus mendorong penisnya masuk lebih dalam lagi ke dalam liang duburnya. Pria bertato ular itu tetap tidak peduli hingga seluruh batang kejantanannya melesak masuk ke dalam anus Afni. Kemudian mulailah pria itu memompa ke atas dan ke bawah.
“AAAdddduuhhhhh……..AAAdduuhhhhhhhh….AAAkkkhhh hhhh”
“AAAdduhhhh..pppeeeriihhhhh…….Akkkkhhhh…”
“Sssaakkitt ssseekkkaaliiii….aaadduuhhhh…ssssakkittt”
Afni hanya mampu mengerang kesakitan. Tangannya meremas kain matras kuat-kuat berusaha menahan rasa ngilu yang luar biasa pada duburnya.
Sudah 15 menitan pria bertato ular itu menyodominya. Di sekitar lingkaran duburnya tampak buih-buih putih kemerahan. Lamanya sodomi itu ternyata selain menimbulkan busa juga menimbulkan luka lecet yang mengeluarkan darah akibat gesekan batang penis besar laki-laki itu dengan dinding saluran pengeluarannya. Menit ke-17 pria itu semakin cepat memompa dan sodokan-sodokannya semakin brutal. Sodokan brutal ini menyebabkan tubuh Afni berguncang ke depan dan ke belakang tetapi tetap tidak jatuh karena Cokro dan Darto memegang erat pundak dan lengannya.
Pria itu semakin brutal…
dan brutal……
Tiba-tiba tidak terdengar lagi suara Afni yang mengerang-erang kesakitan. Juga tidak terlihat lagi jemarinya mencengkeram erat kain matras. Pria bertato ular itu menyadari bahwa Afni telah pingsan akibat sodomi brutal yang dilakukannya. Tetapi itu tidak menyurutkan nafsunya untuk segera menggapai kenikmatan puncak. Dan akhirnya
“aaaaahhhhhhhhhhhhhhh……….” Pria bertato ular itu mengeluarkan suara menggeram pertanda dia sudah mencapai klimaks. Tidak lama kemudian dicabutnya batang penis miliknya yang baru saja dilesakkan ke dalam dubur Afni dalam-dalam hingga pangkalnya. Tampaklah noda darah melumuri batang penis itu bercampur dengan lendir sperma. Untuk beberapa saat lobang dubur Afni menganga lebar meski penis yang baru saja melesakinya telah dicabut. Besarnya batang kejantanan pria bertato ular itu mungkin mengurangi elastisitas dubur Afni sehingga tidak segera kembali menutup. Leleran darah keluar dari dubur yang menganganga itu membasahi vaginanya sebelum jatuh menetes di matras.
“Ayo kita cabut…..kita sudah memberi pelajaran padanya…” Daeng berkata.
Tampaknya Bingsar dan Daeng tidak berminat ikut menikmati tubuh Afni. Mungkin karena wanita itu sudah pingsan sehingga tidaklah nikmat bila tidak mendengar erangan kesakitannya yang erotis atau goyangan rontaannya yang binal itu. Atau mungkin juga karena dua lubang kenikmatan Afni itu telah melar dan berdarah-darah akibat perkosaan brutal yang dilakukan anak buahnya. Kini waktu telah menunjukkan pukul 11:40 larut malam. Gerombolan durjana itu meninggalkan tubuh Afni yang sedang pingsan di atas matras. Mereka tidak peduli dengan tubuh telanjang itu. Bagi mereka kenikmatan yang telah diberikan oleh tubuh telanjang yang pingsan itulah yang paling penting untuk mereka rasakan. Beberapa menit kemudian dua buah mobil keluar dari areal pembangunan pertokoan itu dan menghilang di kegelapan malam.
Suscribirse a:
Entradas (Atom)



















